Title: 30 Days
Author: Seul95
Length: Long Chaptered
Genre: Romance, Violence, Crime, Tragedy
Rating: PG-16
Casts:
 Lu Han (EXO)
 Joo Seulmi (You/OC)
 Oh Sehun (EXO)
Summary: Tiga puluh hari yang penuh dengan penderitaan, akankah ia dapat bertahan hidup dengan sepenggal asa yang tersisa?
Warning! : THIS STORY CONTAINS VIOLENCE, SWEARING AND SEMI-SMUT SCENES. If you are not comfortable with this kind of story, just leave it there. NO BASH!
Disclaimer: I do not own any of the characters nor I plagiarize my work. EVERY FICTIONAL CHARACTER IS NOT ME NOR ANYBODY, FEEL FREE TO IMAGINE THEM AS YOURSELF. Any similarity to another story is purely coincidental. And I’d be appreciate it if you do not take my work as well.

seul95

 

Ruangan kerja Tuan Joo tampak nyenyat, hanya suara langkah kaki yang bergerak tak ritmis yang terdengar. Beberapa barang tak lagi tertata pada tempatnya; mereka berperai-perai di atas lantai dengan bentuk tak jelas. Surai tipisnya tampak tak beraturan, menajuk kesegala arah serta wajah keruh tak juga dapat disembunyikan. Ia telah melakukan segala cara untuk menemukan Seulmi tanpa perantaraan polisi. Ia pula telah menghubungi sekolah gadis itu dan memberi kabar bahwa sang Putri tengah menyambangi keluarga di luar kota dan tak akan menghadiri proses belajar selama beberapa waktu. Sebisa mungkin pria paruh baya tersebut menyembunyikan perihal raibnya Seulmi. Dan satu-satunya orang yang mengetahui hal ini hanyalah Heekyung. Tentu Tuan Joo sudah memintanya agar tak menguak masalah ini ke orang lain dan menggantungkan segalanya ke tangannya.
Dua jam terlampaui sejak ia mendengar suara Seulmi di telepon, mendengking padanya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja di tangan si Penculik. Namun Tuan Joo tak percaya. Ia tak akan pernah memercayai apa yang didengarnya saat ini. Ia yakin bahwa penculik itu telah sukses menyakiti putrinya. Dan jika ia tak segera menemukan Seulmi, maka Tuan Joo harus mempersiapkan diri untuk yang terburuk.
Pikirannya begitu kalut hingga tak ada satupun ide yang terbersit di kepalanya. Demi Tuhan, ia tak ingin kehilangan lagi. Setelah ia kehilangan istrinya sebelas tahun yang lalu, tentu ia tak ingin kehilangan putri semata wayangnya. Hanya Seulmi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Dan Tuan Joo sama sekali tak mau sukma gadis itu terenggut akibat kesalahannya di masa lalu. Yoo Hyunbi—ibu Seulmi—harus meregang nyawa di tangan musuhnya sendiri, semata-mata hanya untuk membalas kedengkian mereka. Dan kini Seulmi pun harus menyelami derita yang sama? Tidak, ia tak akan membiarkan ini terjadi begitu saja.
Matanya menatap ponsel yang terbujur di bawah kolong meja kerjanya. Ragu apakah ia harus mengontak orang tersebut atau tidak. Kendati mungkin itu akan memandunya kembali kepada sesuatu yang telah lama ditinggalkannya, namun hanya dialah yang dapat membantunya. Teman lamanya, parner kerjanya, orang yang sudah membantunya memupuk bisnis tersebut.
Tanpa disadari, kini tangannya tengah menggenggam ponsel, ibu jarinya menggesek layar untuk mencari nama pria itu di dalam kontak. Dan kala ia menemukannya, Tuan Joo dapat merasakan jantungnya yang berdengap kencang. Telapak tangannya berpeluh dan seakan ada anjuran dari dalam dirinya untuk melempar ponsel tersebut sejauh mungkin. Agar ia tak menghubunginya dan kembali masuk kedalam dunia kelam yang telah ia tinggalkan sejak kematian sang Istri.
Tapi tentu keirasionalan dirinya lebih mendominasi. Pada detik berikutnya, Tuan Joo tengah mendapati dirinya sedang menanti nada sambung itu untuk berhenti dan dijawab oleh orang di seberang sana.
“Dongseok-ah, ada apa?”
Suaranya tak berubah, penuh dengan ketegasan dan nada memimpin, namun terkesan hangat ketika ia berbicara dengannya. Tuan Joo agaknya kembali ragu untuk menjawab. Ia hendak memutuskan sambungan ketika orang itu berbicara lagi.
“Kau butuh bantuanku? Katakanlah, aku akan membantu sebisaku.”
Mengambil napas dalam, mengatupkan matanya erat dan membiarkan pertimbangan singkat menuntunnya pada keputusan yang akan menjadi titik terang. Ia pun akhirnya menjawab, “Seulmi diculik.”
Senyap selama sekian detik.
“Tolong bantu aku, Jinguk,” mohonnya.
Jinguk berdecak. “Jadi peristiwa lalu kembali terulang?”
Tuan Joo menganggut, namun ketika ia menyadari bahwa teman lamanya tak dapat melihat gerakannya, ia pun menggumam, “kurasa begitu.”
“Tentu saja aku bisa membantumu. Tapi kau pasti tahu jika aku menginginkan imbalan, ‘kan? Kau tahu apa yang kuinginkan sejak dulu, ‘kan?”
Tuan Joo bergeming. Ia sangat tahu apa yang dimaksud Jinguk. Dan inilah yang membuatnya gentar; apakah ia harus meminta bantuan padanya atau tidak. Sejak sebelas tahun yang lalu ia telah memutuskan untuk tak menggeluti bisnis kotor itu lagi demi keselamatan putrinya. Namun Moon Jinguk sama sekali tak setuju. Berbagai cara telah dilakoninya agar Tuan Joo kembali dan melanjutkan bisnis yang telah mereka rintis sejak muda.
Helaan napas berat terdengar di seberang sana. “Sudah kukatakan padamu sejak dulu untuk tidak jatuh cinta. Tapi kau malah mencintai wanita itu dan menikah. Kau tahu sendiri bisnis ini tak membutuhkan keluarga ataupun kehangatan.”
Kini matanya basah. Ia berusaha keras untuk tak menumpahkan air mata yang menggenang di pelupuknya. Benar. Apa yang dikatakan Jinguk memang benar. Tapi tentu ia tak bisa menangkis perasaannya sendiri ketika Hyunbi singgah dan merebut hatinya. Wanita itu telah merubah pandangannya. Ia ingin berkeluarga, ia ingin memiliki anak darinya, ia ingin menghabiskan hidupnya dengannya. Selama mereka berpacaran hingga menikah, Tuan Joo telah membungkus dengan rapi pekerjaan kotornya. Sama halnya seperti ia merahasiakan keluarganya dari musuh-musuhnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka mengendus keberadaan istri serta anaknya. Mereka mulai menghancurkannya. Hingga pada titik tatkala mereka berhasil merenggut nyawa Hyunbi, Tuan Joo memutuskan untuk keluar dari bisnis kotornya dan fokus dalam membesarkan Seulmi.
“Dongseok-ah…” panggil Jinguk.
“Ya, aku bersedia.”

“Apa?”
“Aku bersedia untuk kembali, tapi kumohon selamatkan putriku.”
Dan dengan demikian, tak ada kesempatan baginya untuk menarik kata-katanya kembali. Ia memutuskan untuk kembali semata-mata hanya demi Seulmi. Apapun itu akan dilakukannya untuk menyelamatkan satu-satunya putri yang ia miliki.

 

)***(

 

“Dia meminta bantuan kepada Moon Jinguk.”
Kendatipun suara tersebut terdengar tenang, namun setiap penekanan tak luput menusuk indera pendengaran Luhan. Ia menatap lelaki yang tengah berdiri dua meter jauhnya dari sofa lusuh yang ia duduki. Wajahnya masih tak berekspresi, datar bak jalanan aspal tak bercela.
Sebuah senyuman timpang terbentuk diiringi oleh kekehan dingin. Luhan membenarkan posisi duduknya. Ia menaikan kaki kanan untuk ditimpakan di atas lutut kirinya. Satu tangannya terangkat dan diletakan pada lengan sofa.
“Pria tua bodoh itu, kupikir otaknya sudah membatu.”
Bukan jawaban itu yang diinginkan oleh lelaki di hadapannya. Dan ia tak ingin hal buruk menimpa Luhan dan dirinya. Kendati mereka tak memiliki hubungan darah sama sekali, namun untuknya Luhan adalah segalanya. Ia tak punya teman ataupun saudara, ia tak pernah merasakan kehangatan keluarga hingga akhirnya Luhan datang kedalam hidupnya dan mengubah semua itu. Dan Sehun pikir, ia tak akan sanggup kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
“Kita harus bertindak cepat, Hyung,” ujarnya rendah.
Luhan menganggukan kepala lamat-lamat. Ia menjilat bibir bawahnya sembari menggaruk dagu lancipnya. “Tak perlu terburu-buru, mereka tak akan bisa menemukan kita.”
Mata Sehun memicing. “Mereka sedang berusaha melacak kita. Kau telah menelepon ayahnya dan daftar panggilan masukmu ada di dalam ponselnya. Jika kau lupa, biar kuingatkan sekali lagi bahwa ini Moon Jinguk yang—”
“Sehun,”
Panggilan itu terkesan lembut, namun entah bagaimana Sehun merasa rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya meremang. Kini pancaran dalam mata Luhan berubah dalam sekejap—dan Sehun tahu, setidaknya ia tak perlu memancing emosi lelaki tersebut.
“Pukul tujuh malam nanti kita pindahkan dia ke salah satu hotel orangtuamu. Kau atur semua dan beritahu hal ini pada ayahmu. Kau tak berpikir kita mampu melakukan semua ini tanpa bantuan dari balik layar, bukan?”
Sehun tercengang, bibirnya tak terkatup rapat dan matanya memancarkan kekaguman pada Luhan. Inilah yang belum ia perhitungkan. Bahwa sejatinya Luhan tak pernah bertindak gegabah dan selalu menyusun dengan sempurna segala rencana yang akan ia lakukan.
Lelaki itu menundukkan kepalanya, merasa malu. Seharusnya ia tak perlu kuatir dan takut, seharusnya ia memercayakan segalanya kepada Luhan dan mengikuti apapun yang diperintahkannya. Sehun akan mengingatnya dengan baik kali ini.
“Kita masih memiliki sedikit waktu hingga pukul tujuh, aku ingin bermain-main sedikit dengan gadis jalang itu. Kau, lakukanlah apa yang kukatakan tadi.”
Sebelum Sehun dapat menjawabnya, Luhan telah bangkit dan beranjak keluar dari ruangan persegi di mana segala alat-alat teknologi canggih bertempat. Benar, Sehun adalah seorang peretas handal, dan benar pula selama ini mereka telah mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh Tuan Joo. Begitu pula dengan apa yang dilakukan Seulmi sejak dua tahun terakhir. Begitu lamanya ia mengawasinya hanya untuk menemukan waktu yang tepat untuk menculik gadis itu. Di saat penjagaan Tuan Joo pada putrinya sedikit lengah. Di saat ia berpikir bahwa ia akan memberikan sedikit kelonggaran padanya. Dan di saat ia merasa bahwa putrinya berada dalam zona aman yang nyatanya tidak sama sekali.
Ia melangkahkan kaki dengan senyum lebar—seringaian memuakkan andalannya yang mampu membuat nyali setiap orang menciut kala wajah psikopat itu muncul menggantikan topengnya.

 

)***(

 

Ruangan persegi dengan dinding mengelupas, gelap serta pengap, pun beraroma lembab telah menjadi makanannya sehari-hari. Ia terperangkap tanpa mengenal siang dan malam, tanpa mengetahui hari demi hari yang terlampau. Sejak kapan dan sudah berapa lama tak pernah terjawab, pertanyaan-pertanyaan tersebut terkurung dan berdebu di dalam kepalanya. Setiap waktunya dilewati dengan perasaan takut, tak nyaman. Ia hanya perlu menunggu waktunya dieksekusi. Jika ayahnya tak bisa menemukan dirinya secepat mungkin, ia yakin cepat atau lambat nyawanya akan melayang di tangan dua orang tersebut.
Wajahnya meringis dalam kala pintu tua itu menjeblak terbuka, memunculkan sesosok lelaki yang sangat familier dalam ingatannya. Ia percaya bahwa lekuk garis wajahnya tak akan pernah lenyap dalam ingatannya. Terus menghantuinya sampai akhir hidupnya jika ia bisa keluar dengan selamat dari sini.
Lelaki tersebut melangkah pelan, bunyi ketukan sepatunya menggema keras di tengah-tengah ruangan kosong. Seakan merobek gendang telinganya dan menyayat jantungnya secara perlahan. Ia harap ia terkena serangan jantung saat ini juga, ia harap ia tewas sebelum lelaki itu tiba di hadapannya. Namun tatkala tangan kanannya terangkat, bergerak naik menjelajahi lehernya dan tiba di belakang kepalanya, ia merasakan sebuah sentakan keras. Nyeri menyambangi lehernya ketika ia terpaksa mendongak untuk mempertemukan mata mereka. Dan sebuah seringaian timpang memuakkan terpatri sempurna pada wajah tampannya. Betapa ia ingin meludahinya, betapa ia ingin mencakar wajah tampan itu hingga hancur tak berbentuk. Namun tenaganya terkuras habis, tak bersisa kendati hanya secuil.
“Dia akan merasakan apa yang kurasakan dan hidupmu tak akan pernah sempurna setelah ini, Sayang.”
“Brengs—”
Belum sempat ia menyelesaikan kata umpatan tersebut, sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kirinya. Telinganya berdengung, sensasi panas seakan menjalar ke setiap inci kulit wajahnya. Lalu tamparan lain mendarat di sisi lain pipinya. Dan dengan begitu, lelehan cairan merah pekat menjejak pada sudut bibirnya. Perih tak tertahankan membuat rintihan lirih meluncur dari celah bibir mungil tersebut.
“Kukatakan padamu untuk menjaga mulut busukmu. Atau aku juga akan menghancurkannya sampai kau tak dapat mengumpat lagi. Mengerti!”
Mata gadis itu membelalang, penuh ketakutan dan kebencian yang bercampur menjadi satu. Tak masalah, Luhan sudah sering mendapatkan tatapan seperti itu oleh setiap musuhnya. Orang-orang bajingan yang berusaha lari dari masa lalunya. Mereka yang tak ingin menerima hukuman atas perbuatan lampaunya.
Ia kembali berjalan menuju arah pintu dan tangannya meraih sebuah sandaran bangku kayu yang terletak tepat di samping pintu. Ia menyeretnya perlahan, membiarkan suara berderik yang memekakkan telinga menggema keras. Wajahnya tampak semakin puas tatkala ia mendapati Seulmi tengah meringis menahan ngilu di giginya oleh suara gesekan yang ia buat. Lelaki tersebut nyaris tergelak jika saja ia tak menahannya dengan baik.
Lalu tepat di hadapan gadis tersebut, ia meletakkan kursinya. Berdiri tegak kendati banyak kecacatan pada permukaan kayu lapuk itu. Entah ia mampu menahan beban tubuh salah satu dari mereka atau tidak. Sementara Seulmi tahu pasti, untuk siapa Luhan membawakan bangku tersebut.
Ia menggenggam kuat lengan atas gadis itu, memaksanya berdiri dengan hanya satu tangan dan membuatnya merengek kesakitan. Tubuhnya terempas kuat keatas kursi dan demi Tuhan, Seulmi nyaris saja terjerembab kebelakang jika Luhan tak menahan salah satu tungkai kursi dengan kakinya. Sandarannya sedikit bengkok sehingga Seulmi berusaha keras untuk menyeimbangkan tubuh kendati kedua tangan serta kakinya terikat kuat.
Dan ketika Seulmi mengangkat wajah, ia dipertemukan oleh sepasang mata indah milik Luhan. Berjarak kurang dari lima senti dari miliknya, membuat napasnya tesendat di tenggorokan dan debaran jantungnya berdegup lebih kencang. Aliran darah berdesir kuat di setiap pembuluh nadi. Bukan oleh simptom-simptom aneh yang sering dialami pada setiap orang yang sedang jatuh cinta. Bagi Seulmi, ia tahu dan yakin bahwa kini perasaan takutlah yang tengah merajai dirinya.
Mata Luhan memang indah—ia akui itu—tapi keindahan tersebut begitu riskan. Sekali kau menatapnya, melengahkan pertahanan dirimu, membiarkan dirimu terisap kedalamnya, tamatlah riwayatmu. Itu adalah senjata ampuh yang selalu bekerja baginya. Dan Luhan bangga akan kelebihan yang ia miliki. Ia bangga lantaran memiliki wajah polos bak bocah lima tahun yang tak mengenal kriminalitas.
Tangan kanannya terangkat untuk menyentuh memar di sudut bibir Seulmi. Keningnya berkerut dan tampang sedih pun telah terpasang di wajahnya. Ia sedikit menelengkan kepala, menyentuhkan ujung hidung mereka, membiarkan Seulmi merasakan panasnya napas yang ia embuskan.
“Apakah ini sakit?” tanya Luhan lembut, mengarahkan kedua manik cokelatnya tepat kedalam mata Seulmi. “Jika saja kau menurut, aku tak akan melukai bibir mungilmu,”
Sungguh, Seulmi ingin sekali menjeluak mendengar kata-katanya. Mungkin beberapa hari yang lalu ia akan hanyut oleh ucapannya, ia akan tenggelam oleh tatapannya, dan ia akan terambau kedalam perangkapnya. Namun kini, tak akan hal itu terjadi. Setelah ia sedikit mengetahui seperti apa watak lelaki di hadapannya ini, Seulmi selalu merasa siaga jika berhadapan dengannya.
Tangannya mengangkat dagu Seulmi hingga kini posisi bibir mereka sejajar, kening mereka saling bersentuhan, dan hangat tubuh Luhan seakan merayap ke tubuhnya; menggantikan hawa menggigil yang menggelimuninya. Tentu Seulmi tahu apa yang akan dilakukan Luhan. Ia harap hal itu tak terjadi, namun kini jarak di antara mereka semakin menipis. Menghirup udara pun menjadi susah.
“Biar kubayar atas apa yang telah kulakukan.” Bisik lelaki tersebut, membuat rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya seakan terkena sengatan listrik.
Lalu sedetik kemudian, Seulmi merasakan sesuatu yang lembut serta basah menyentuh bibirnya bersamaan dengan sedu pertama yang memelesak keluar di antara ciuman. Cairan asin melinang dari kedua pelupuknya, seluruh tubuhnya pun kini bergetar hebat.
Luhan menggerakan bibirnya dengan lembut memang benar. Luhan tak membuka paksa kedua bibir mungilnya pun benar. Namun Seulmi takut akan apa yang hendak terjadi selanjutnya. Ia tahu Luhan, ia tahu setiap hal tak terselami yang dapat ia lakukan. Ditambah ini adalah ciuman pertamanya, tentu Seulmi tak ingin semua terjadi seperti ini. Ia merasa begitu kotor; lebih rendah dari seonggok daging berulat.
Awalnya ia hanya bergeming dan tersengut-sengut. Ia membiarkan Luhan melakukan sesukanya bukan lantaran ia mengijinkan hal itu terjadi. Namun dengan kedua tangan dan kaki yang terbelenggu, tentu Seulmi tak dapat melakukan apapun selain pasrah. Hingga kala gadis tersebut merasakan tangan kiri Luhan yang bergerak naik dan turun di bahunya, ratapan Seulmi pun semakin kencang. Ia mulai menggelengkan kepala untuk menghindari setiap kecupan yang diberikan Luhan.
Semua hanya menjadi usaha lancut karena kini tangan kanan Luhan memegang tengkuk Seulmi begitu erat. Ia merasa lehernya nyaris patah jika ia tetap berusaha untuk bergerak. Dan sentuhan kasar di dada kirinya seolah mengirim sengatan listrik ribuan volt pada tubuh mungilnya yang rapuh. Teriakannya tersendat di ujung lidah saat Luhan menjelajahi setiap seluk beluk bibir hingga mulutnya.
Rasa takut itu kian menjadi. Seulmi pikir masa depannya akan berakhir di sini. Ia akan kehilangan sesuatu yang begitu berharga dari dirinya. Luhan akan merenggut segala yang ia miliki. Dan tak ada opsi lain baginya selain memberikan semua itu.
Ia memanjatkan rantaian doa dalam hatinya. Ia meminta dan memohon dan menangis. Namun tak ada apapun yang terjadi. Luhan telah berhasil melepaskan dua kancing kemeja sekolahnya. Seulmi dapat merasakan sentuhan jemarinya pada permukaan kulitnya.
“Jangan…” bisikan permohonan pertama meluncur dari bibirnya, sama sekali tak digubris oleh Luhan. “Kumohon jangan… kumohon…”
Alih-alih berhenti, kini bibir Luhan bergerak kearah garis rahang Seulmi, sementara gadis itu sudah tak mampu menahan tangisnya. Ia menangis sekeras yang ia bisa, melaung dan membalela tanpa hasil. Agaknya tungkai bangku akan segera rubuh akibat ronta tubuhnya, namun ia tak peduli. Apapun itu yang bisa membuat Luhan menghentikan semua ini akan ia lakukan.
BRAK!
Gerakan Luhan tertahan, tangis Seulmi tak lagi bersuara, matanya fokus menatap kearah pintu. Sosok tinggi itu sedang berdiri di sana, memegang gagang pintu dengan erat dan menatap mereka dengan wajah datar. Bola matanya bergerak menatap Luhan serta Seulmi secara bergantian. Hingga erangan keras yang meluncur dari celah bibir Luhan yang memerah menyadarkannya. Bayangan-bayangan mengerikan kembali datang menghantam kepalanya bertali-tali.
Bagaimana jika ia memutuskan bergabung? Bagaimana jika mereka berdua mencemarinya? Bagaimana jika mereka mengejaminya habis-habisan? Bagaimana dan bagaimana tetap menyesaki ruang di dalam kepalanya.
“Semua sudah siap, tapi Ayah ingin berbicara denganmu.” Ia menyodorkan sebuah ponsel pada Luhan, dan sekali lagi ia mengeluarkan erangan keras sembari memutar kedua bola mata.
Lelaki itu kembali mengalihkan fokus matanya pada Seulmi dan mengancingkan dua kancing yang sempat dibukanya tadi sebelum mengatakan, “kau beruntung kali ini, tapi lain kali aku tak akan melepaskanmu” sembari mengerlingkan mata kepadanya.
Luhan meraih ponsel yang diberikan Sehun dan keluar dari sana sesegera mungkin. Sementara Sehun masih berdiri di posisi yang sama, menatap Seulmi dengan tatapan yang tak terdefinisi, hingga akhirnya lelaki tersebut membanting pintu dengan keras dan membiarkan Seulmi duduk di atas kursi renyah itu sendirian.

 

)***(

 

Ia tak tahu lagi apa yang telah terjadi pada dirinya. Satu atau dua jam setelah Luhan nyaris memerkosanya, Sehun datang kembali kedalam ruang penyekapan dan menginjeksi sesuatu pada lengan kirinya. Seulmi tak tahu persis apa, namun berselang beberapa waktu kemudian—agaknya sekitar satu atau dua menit setelah Sehun memasukan cairan tersebut—penglihatannya menjadi berkunang-kunang. Seolah-olah ia sedang berdiri dengan tangannya dan seluruh darah melesak naik keatas kepalanya. Antara nyata dan tidak, ia merasa tubuhnya melayang. Ia merasa sepasang lengan kekar tengah melingkari tubuhnya. Dan seakan ia menghirup udara segar yang telah lama tak memenuhi rongga paru-parunya.
Namun segala keanomalian tersebut tak bertahan lama lantaran Seulmi tak lagi merasakan apa yang telah ia rasakan. Tubuhnya kebas, penglihatannya gelap, telinganya menjadi tuli dan seolah otaknya tak berfungsi lagi. Entah sudah berapa banyak waktu yang terlampaui—kala ia membuka matanya kembali, tempaan cahaya pada wajahnya membuat mata gadis itu memicing. Ia harus menutupnya selama sekian detik, lalu kembali membuka kala dirasa dirinya sudah dapat menyesuaikan. Dan satu hal yang menyambut pemandangannya adalah sebuah ruangan asing. Bukan tempat pengap dan dinding yang mengelupas serta lampu redup di langit-langitnya, melainkan sebuah kamar bernuansa krem.
Mata Seulmi bergerak liar kesegala arah kendati cahaya menusuk retinanya. Pertanyaan apakah ini mimpi atau bukan tentu terlintas dalam benaknya. Atau apakah peristiwa penculikan tersebut tidaklah nyata, semua masih menjadi misteri saat ini. Ia tak mendapati keberadaan Luhan maupun Sehun. Ia tak mendengar suara-suara aneh dari luar sana seolah ruangan ini memiliki peredam suara berkualitas tinggi.
Ia hendak menjatuhkan kakinya ke lantai kala sesuatu seakan menampar wajahnya pelak. Tidak, ia tak sedang bermimpi. Pun peristiwa penculikan yang dialaminya memang benar-benar terjadi. Tentu ia tahu lantaran kedua tangan serta kakinya masih terikat kuat dan pakaian yang ia kenakan masihlah seragam sekolah kumal.
Pacuan jantungnya semakin menggila setelah menyadari bahwa semua ini belum berakhir. Ditambah dengan kejadian mengerikan beberapa waktu lalu ketika Luhan hendak menggaulinya. Mentalnya telah diperas habis-habisan dan ia mulai berpikir bahwa semua yang ia lalui ini tak akan memiliki ujung pangkalnya. Bahwa ia akan selalu menjalani kehidupannya yang sekarang sampai seumur hidupnya. Bahwa Luhan ataupun Sehun tak akan membiarkannya mati begitu saja dan menyiksa dirinya sampai mereka puas.
Tatkala segala pikiran-pikiran tersebut menyambangi benaknya, ia mulai memberontak, mendengking, dan menangis. Ia berusaha membuka jeratan pada kaki dan tangannya—tak menggubris gesekan yang membuat kulit mulusnya iritasi. Kendati ia tahu apa yang dilakukannya ini tak akan membuahkan hasil, kendati ia tahu pada akhirnya hanya tendangan dan pukulan dan segala bentuk kekerasan yang didapatinya, dan kendati ia tahu Luhan serta Sehun tak memiliki hati.
Napasnya memburu, seluruh tubuhnya penuh dengan peluh sekalipun pendingin ruangan bersuhu rendah. Ia tak lagi merasakan apapun, tak lagi mendengar apapun selain tangisnya sendiri. Ia ingin mati namun realita seakan menghantamnya bertali-tali bahwa kini ia tengah terkurung, terikat, dan tak berdaya. Ia tak bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya dan ia tak tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan.
Tubuh Seulmi berguling kekanan dan kekiri, terentak keras akibat sentakan kakinya, berguncang hebat yang disebabkan oleh tangisnya sendiri. Sekonyong-konyong benturan keras pada permukaan tubuh bagian depan menghentikan segala kehisterisannya. Ia terjerembab keatas lantai dengan posisi tengkurap. Napasnya sesak dan tak ada seorangpun yang dapat mengangkatnya kembali. Lalu sebuah pikiran menyelinap kedalam kepalanya. Bahwa jika ia tetap seperti ini, bahwa jika tulang rusuknya terus tertahan dan patah dan menekan paru-paru serta jantungnya, dapat menjadi satu-satunya cara untuk melepas nyawanya.
Ia nyaris tergelak miris, senyuman timpang telah menghiasi wajahnya. Namun sebuah suara membatalkan semua itu. Sebuah suara yang sangat ditakutinya. Suara yang dapat membuatnya sinting kendati itu hanya berupa bisikan lirih. Kedua pasang matanya membelalang, air mata mengalir dengan deras dan seakan seluruh dinding bangunan jatuh menimpanya.
Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat. Ada dua dan Seulmi tahu benar miliki siapa satunya lagi. Ia merasakan sentuhan kasar pada lengannya—menariknya dengan paksa dan mengempaskannya keatas tempat tidur.
Luhan berdiri di sana dengan mata memicing. Entah apa yang membuatnya tampak berbeda, barangkali karena ini pertama kali Seulmi melihatnya dengan jelas. Bukan di dalam ruangan gelap maupun di bawah lampu temaram. Ia mengenakan jas hitam dengan kaus putih di dalamnya. Jins biru gelap terpasang sempurna pada kedua kaki kurusnya. Rambut cokelat itu tersisir begitu rapi, mempertajam mata indahnya. Dan demi Tuhan, jika saja ia tak bertemu Luhan dengan cara seperti ini dan tak mengetahui bagaimana sifat aslinya, barangkali Seulmi sudah jatuh hati padanya.
Di belakangnya, Sehun berjalan malas membawa dua kantong belanjaan. Ia mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang dan skinny jins. Kedua irisnya tak lepas dari wajah Seulmi. Menatap gadis itu dengan pandangan abstrak. Ia tidak tersenyum, wajahnya tak mengerut, dan matanya tak berkedip. Sungguh demi apapun, Seulmi rasa nyalinya semakin menciut hingga pada titik ia ingin menenggelamkan diri di dalam lahar panas.
“Kau…” Luhan kembali bersuara. “Baru kami tinggal beberapa jam dan sekarang sudah berusaha kabur?” intonasinya terdengar begitu berbahaya. Ia marah. Terlihat jelas dari wajahnya yang memerah dan rahangnya yang mengeras.
Seulmi menggelengkan kepala cepat. Suaranya tak dapat keluar akibat tatapan intimidasi dari dua orang di hadapannya. Bahkan air matanya pun hanya menggenang di pelupuk mata.
Embusan napas keras meluncur dari celah kedua bibir Luhan. Ia merampas dua kantong belanjaan tersebut dari tangan Sehun dan melemparnya ke hadapan Seulmi. Hal yang membuat gadis itu tercengang adalah bagaimana Luhan tiba-tiba berbalik sembari menepuk bahu Sehun tanpa menggubris dirinya.
“Buka ikatannya dan biarkan ia memilih bajunya sendiri. Kutunggu kau di bar.” Dan setelahnya, ia melengang pergi dari kamar.
Sementara Sehun, ia mengikuti apa yang diperintahkan Luhan. Sebelum keluar, tentu ia telah memastikan bahwa tak ada akses bagi Seulmi untuk kabur dari sini. Dan kemudian beranjak dari kamar untuk menyusul sang Kakak angkat.

 

)*TBC*(
A/N: to be honest, I’ve planned to protect this chapter. But well, turned out that chapter 5 needs it more. Jadi untuk yang ini aku buka dulu, lagian kan udah diingetin di atas juga. Dan tolong, kalo mau minta password, baca persyaratannya yang bener. Aku gak akan kasi password-nya kalo kalian gak ikutin peraturan di blog ini. jadi ya mikir sendiri kalo misalkan aku gak reply bbm/twitter/line kalian. Jadi tinggalin komentar ya ^^

Advertisements