Title: 30 Days

Author: Seul95

Length: Long Chaptered

Genre: Romance, Violence, Crime, Tragedy

Rating: PG-16

Casts:
 Lu Han (EXO)
 Joo Seulmi (You/OC)
 Oh Sehun (EXO)

Summary: Tiga puluh hari yang penuh dengan penderitaan, akankah ia dapat bertahan hidup dengan sepenggal asa yang tersisa?

Warning! : THIS STORY CONTAINS VIOLENCE, SWEARING AND SEMI-SMUT SCENES. If you are not comfortable with this kind of story, just leave it there. NO BASH!

Disclaimer: I do not own any of the characters nor I plagiarize my work. EVERY FICTIONAL CHARACTER IS NOT ME NOR ANYBODY, FEEL FREE TO IMAGINE THEM AS YOURSELF. Any similarity to another story is purely coincidental. And I’d be appreciate it if you do not take my work as well.

seul95

Sebuah mangkuk yang entah berisi apa dilemparkan kedepan wajah Seulmi. Sebagian isinya berceceran ke lantai dan menodai seragam kumalnya. Ia tak berani mengangkat kepala, air mata mulai menggenangi pelupuknya. Perasaan ciut yang begitu familier menggerayangi hatinya. Ia menanti beberapa saat sampai orang tersebut membuka suara atau ia menerima kekerasan fisik darinya, namun tak kunjung tiba seluruh spekulasi tersebut.

Dengan nyali yang tersisa, Seulmi pun memberanikan diri untuk mengangkat wajah. Ia mendapati sosok lelaki tinggi, mengenakan jins biru gelap dan kemeja hitam dengan lengan digelung sebatas siku. Tiga kancing teratasnya terbuka—atau sengaja dibuka—memperlihatkan pakaian dalam putih tipisnya. Ia tak memperlihatkan ekspresi apapun; wajahnya datar bak jalanan aspal. Dan Seulmi baru menyadari bahwa ia bukanlah Luhan. Ia adalah lelaki satunya lagi.

Seluruh tubuhnya gemetaran, tak tahu hal apa yang akan ia dapati setelahnya. Ia sudah pernah berhadapan dengan Luhan, jadi tentu Seulmi tahu apa yang tak boleh ia lakukan dan apa saja yang bisa ia dapatkan dari lelaki kejam tersebut. Namun sekarang, ia seakan harus mengulang semuanya dari awal. Ia hanya dapat menebak, menanti, dan menerima.

Beberapa menit lamanya mereka hanya bergeming—mata Seulmi tak lepas dari paras datarnya. Lelaki ini bahkan tak kalah tampan dari Luhan. Bedanya, paras Luhan terkesan lebih lembut dan polos namun menyimpan banyak hal menakutkan di baliknya. Sementara yang ini, segalanya tampak jelas. Garis wajahnya penuh ketegasan, seolah tak berusaha menyembunyikan setiap hal kejam yang dapat ia lakukan. Tatapannya penuh kebencian membuat Seulmi berpikir ia harus lebih waspada jika berhadapan dengannya.

Maka ia menunggu. Ia menunggu sampai lelaki itu melakukan sesuatu. Entah menjambak rambutnya atau menampar pipinya, atau lebih parahnya lagi, menendang wajahnya, mematahkan kaki serta tangannya, menendang perutnya seperti yang hendak dilakukan Luhan tadi. Namun nihil. Ia hanya berdiri di sana sembari menatap dirinya hampa.

Dan setelah kira-kira tiga menit lamanya, ia berdeham pelan. Memasukan kedua tangan kedalam saku celana lalu beranjak pergi. Dengan bantingan keras, pintu pun tertutup rapat. Sementara Seulmi hanya dapat terbengong di tempat. Benar-benar jauh dari ekspektasinya. Namun tentu ia tak akan lengah di pertemuan mereka berikutnya. Barangkali itu hanya taktiknya untuk membuatnya tak waspada. Ya, benar, itu pasti maksudnya mengapa ia sama sekali tak menyentuh Seulmi.

Kini matanya tertumbuk pada mangkuk di hadapannya. Ia lapar tentu saja, mengingat beberapa jam terakhir perutnya belum terisi oleh makanan maupun air. Seumur hidupnya, ia tak pernah merasakan lapar seperti ini. Di mana tenaga benar-benar terkuras habis dan bahkan hanya untuk mengeluarkan suara pun rasanya tak sanggup.

Wajahnya meringis kala ia mendapati apa yang berada di dalam mangkuk; nasi yang tampaknya dimasak dengan sebaskom air. Melihatnya saja sudah membuat perutnya mual. Namun ia tak punya opsi lain jika ingin tetap bertahan hidup. Dengan melalui ini semua sudah membuatnya cukup menderita, tentu ia tak ingin menambah penderitaan tersebut dengan rasa lapar di perutnya.

Gadis itu hendak meraih mangkuk sebelum akhirnya ia tersadar bahwa tangannya masih terikat. Ia menoleh kesegala arah, lalu berhenti pada pintu tua yang tertutup rapat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Berteriak memanggil salah satu dari bajingan itu untuk membukakan ikatannya? Tidak, ia tak bisa melakukannya. Selain karena ia tak memiliki tenaga untuk berteriak, ia pula tak siap berhadapan lagi dengan mereka. Satu-satunya cara untuk menyantapnya tanpa menggunakan tangan adalah menggunakan mulutnya.

Benar, Seulmi jijik melakukannya. Jika saja ada opsi lain, ia tentu tak ingin melakukan hal menjijikan ini. Tapi ia bisa apa?

Kala tubuhnya menggeliat dengan kepala mencondong kedepan, derik pintu pun kembali terdengar. Ia tersentak dan membatu. Suara langkah kaki menggema, berjalan mendekat kearahnya. Dan seseorang berjongkok di sampingnya. Menatap dirinya selama sekian detik hingga akhirnya Seulmi merasakan sentuhan pada pergelangan tangannya. Hangat dan lembut. Tangan itu begitu hangat dan lembut membuat sebuah rintihan kecil keluar dari bibirnya. Ia sangat merindukan kehangatan, ia haus akan kelembutan yang selalu ia dapatkan dari ayahnya. Namun ketika ia teringat bahwa lelaki yang kini sedang membuka ikatan pada pergelangan tangannya adalah seorang bajingan, sesegera mungkin pikiran tersebut dilenyapkannya.

Ikatannya terlepas. Otot-otot di sekitar lengannya mengendur dan mulai bergerak untuk meraih mangkuk tersebut. Tak peduli pada orang yang masih berjongkok di sisinya sembari memperhatikannya; ia sudah terlampau lapar hingga tak dapat menahannya lagi. Barangkali makanan ini tak cukup mengenyangkan, barangkali ia masih akan merasa lapar, namun untuk sementara Seulmi tak ingin memikirkan segala kemungkinan tersebut. Jika perutnya terisi, maka ia akan memiliki setidaknya sedikit tenaga, dan dengan demikian, ia tetap dapat bertahan selama menjalani penyiksaan ini.

Tak sampai lima menit, mangkuk pun bersih tak bersisa. Seulmi menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan sembari menelan saliva beberapa kali. Mencoba menelan apapun yang masih tersisa di dalam mulutnya agar masuk kedalam lambung. Namun lelaki itu kembali meraih tangannya, seakan melemparnya dari ujung tebing curam. Ia sempat melupakan eksistensinya di dalam ruangan dan kini, rasa takut serta panik menggerogoti setiap inci tubuhnya. Seulmi membuang sebuah lirikan singkat, menyadari bahwa ia bukanlah Luhan.
Mata tajamnya terfokus pada pekerjaannya yang sedang mengikat kembali kedua tangan Seulmi. Napasnya terdengar teratur, membentur permukaan kulit lengan atasnya. Seulmi memejamkan mata sambil meringis. Membayangkan setiap kejadian yang ia harap tak akan pernah terjadi pada dirinya. Lalu ketika ia memutuskan untuk membuka mata kembali, sosok itu telah lenyap bersamaan dengan mangkuk kosongnya. Ia bahkan tak mendengar suara derikan pintunya. Apakah indera-indera Seulmi mulai kebas?

)***(

Sebagian hal memang tak seharusnya diketahui. Mereka lebih baik tersimpan rapi pada tempat yang paling tersebunyi. Namun Seulmi ingin mengetahui segalanya. Ia ingin tahu apa yang membuat Luhan serta temannya menyekap dirinya. Ia ingin tahu alasan apa yang ada di balik semua ini. Ia ingin tahu apa yang mereka rasakan. Tak adakah sekelumit rasa belas kasihan baginya? Apakah mereka manusia? Memiliki hati dan perasaan seperti orang normal lainnya?

Sebelum ia kehilangan nyawa di tangan kedua orang tersebut, setidaknya Seulmi ingin mengetahui segala hal yang memenuhi ruang kepalanya. Tentu ia tak ingin mati penasaran. Kendati kedengaran konyol, namun inilah Joo Seulmi. Ia percaya pada sesuatu yang tak masuk akal. Memiliki sifat aneh, pemalas, dan absurd. Oh, lelaki manapun yang kelak akan menjadi suaminya, seharusnya ia bersyukur jika Seulmi benar-benar tak bisa keluar dengan selamat dari ruangan ini. Itu artinya ia tak perlu berurusan dengan perempuan menyusahkan seperti dirinya.

Tak berselang lama semenjak lelaki aneh itu keluar dari ruangan pengap tempat ia disekap, lelaki lainnya kembali masuk. Seulmi tak perlu melihat untuk mengetahui suara langkah kaki milik siapa yang kini sedang berjalan mendekat kearahnya. Tak aneh jika kendati baru dua kali ia bertemu dengan Luhan—jika peristiwa penguntitan masuk dalam hitungan—namun Seulmi telah mengenal jelas ketukan irama langkahnya. Pelan, tegas, dan membuat jantungmu seakan nyaris melompat dari rongganya. Barangkali ia merasa trauma, barangkali akibat rasa takut yang mengusai seluruh tubuhnya, otaknya dapat bekerja lebih baik untuk mendeteksi setiap keberadaan Luhan di dekatnya. Membiarkannya mengingat detail-detail yang sebenarnya tak ingin ia tahu.

Sejatinya, itu hanya insting.

Luhan berhenti kurang dari satu meter di depannya. Ia tak berjongkok, ia hanya bergeming dengan tangan bersedekap di atas dada. Seulmi berusaha keras untuk tak menatap wajahnya. Sungguh mati ia menahan rasa mual dalam perutnya kala bayangan wajah polos yang penuh dengan kebusukan itu menari-nari di benaknya.
Ia menghitung lamat-lamat hingga di detik kelima belas, Luhan akhirnya berdeham sembari membungkukan tubuh. Tangannya meraih pipi Seulmi, membiarkan mata mereka bertemu. Dan benar saja, kini ia merasa bahwa sedang terjadi badai hebat di dalam perutnya. Ia ingin memuntahkan wajah lelaki di hadapannya ini dengan makanan yang baru saja ditelannya tadi. Tapi nyalinya tentu tak sebesar itu. Mana mungkin ia berani melakukannya jika ia tahu apa yang dapat dilakukan Luhan nantinya.

“Matamu indah, persis sama seperti mata ibumu.” Ujarnya membuka suara.
Seulmi tetap membungkam. Berusaha menahan umpatan yang tengah menggantung di ujung lidahnya. Setiap kali Luhan menyinggung perihal sang Ibu, entah mengapa ia selalu mengalami kesulitan menahan emosi. Kendati ia tak banyak menghabiskan waktu dengan wanita tersebut dan lebih sering melihat sosoknya melalui foto-foto yang ada, tapi mungin karena itulah ia merasa sangat marah. Lantaran ia tak memiliki kesempatan mengenal sang Ibu lebih dalam sementara lelaki brengsek di depannya ini tahu seperti apa bentuk matanya. Atau ketika ia tak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui sifat wanita tersebut dan memuji seberapa bijaksananya ia sebagai seorang istri dan ibu dari anak seperti dirinya, sementara lelaki ini dengan begitu mudahnya mengatakan ia kini tengah tinggal di neraka. Ini tak adil. Benar-benar tak adil bagi Seulmi. Mengapa ia merasa bahwa Luhan tahu ibunya?

Wajah lelaki itu mendekat, mengendus aroma kulitnya yang lengket oleh keringat. Menyeret ujung hidungnya pada rahang Seulmi. Memberikan sensasi menggelitik namun juga menjijikan. Napas hangat Luhan membentur permukaan kulitnya, dan rambut-rambut halus di tengkuknya seakan berdiri. Ia ingin memberontak namun sendinya seakan terkunci. Ia ingin menampar namun tangannya seakan membatu. Dan semua yang dapat Seulmi lakukan hanyalah menunggu. Menunggu hal selanjutnya yang akan ia terima dari Luhan.

“Apa kau tahu betapa miripnya wajah kalian? Apa kau tahu betapa berharganya kau bagi pria bajingan itu?” bisik Luhan, membuatnya bergidik ngeri dengan intensitas suaranya.

Seulmi tak dapat melihat wajahnya, namun ia tahu—sangat tahu—bahwa mata indah itu kini sedang diliputi kekelaman. Gelap hingga ia tak dapat menembus pikirannya. Ia tak bisa menerawang apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki tersebut.

“Selama ini dia telah menjagamu dengan baik. Hanya kau satu-satunya peninggalan dari ibumu. Tapi sungguh, betapa sialnya dia mendapatkan anak sebodoh kau. Bertindak semaumu dan secara tak langsung telah memberikanku banyak kesempatan.” Lanjut Luhan, tangannya bergerak untuk meraih tengkuk Seulmi. Cengkramannya memberikan rasa nyeri. Ia yakin bahwa dalam beberapa menit berikutnya, jejak kebiruan akan terpeta di sana.

“Apa maumu?” tanya Seulmi bergetar. Suaranya lirih dan tak bertenaga.
Luhan terkekeh, ia menaikkan wajah dan membiarkannya sejajar dengan milik Seulmi. Tak jauh berbeda dengan dugaan gadis itu, sepasang mata yang kini seakan mengulitinya hidup-hidup tampak sekelam langit malam tanpa bintang. Dan entah harus berapa kali ia mengatakannya bahwa ia begitu takut menghadapi monster ini.

“Aku sudah memberitahumu.”

Mata Seulmi menatap dua manik cokelat itu bergantian, mencari sesuatu yang setidaknya dapat memberikannya sebuah klu. Namun nihil. Luhan bukanlah orang yang mudah ditebak. Ia serumit ribuan kepingan puzzle.

“Untuk membuatnya merasakan penderitaan seperti yang kaurasakan?”

Kedua mata Luhan melebar, seringaian memuakkan menghiasi wajah tampannya. Ia mengangkat kedua tangan di atas udara sembari mengangguk puas.

“Kau tak sebodoh yang kukira.” Ujarnya dengan tawa kecil. “Seratus untukmu, Putri Tidur.”

“Siapa? Siapa yang ingin kaubuat menderita?!” pekik Seulmi lepas kendali. Dan akibat hal itu, ia mendapatkan satu tamparan keras serta sentakan kasar pada kerah seragamnya. Ia berdiri dengan lututnya, meringis kesakitan ketika kulitnya bergesekan dengan lantai kasar di bawahnya.

“Kutarik kata-kataku kembali. Kau sama sekali tidak pintar.” Ia mendesis dan mendorongnya keras hingga Seulmi kembali terjerembab keatas lantai. Bahu kanannya nyeri tak tertahankan. “Mau bermain tebak-tebakan? Aku akan memberikanmu waktu sampai besok. Dan jika kau tak dapat menebaknya dengan benar, kau harus memberikan salah satu bagian tubuhmu untuk mendapatkan pukulan dariku. Setuju?”

Kontan kepala Seulmi menggeleng cepat. Matanya membeliak ketakutan dan rahangnya terkatup begitu rapat hingga ia dapat mendengar gemeletuk giginya sendiri. Demi Tuhan, memar-memar di tubuhnya belum juga pulih benar dan kini Luhan akan memberikannya banyak pukulan? Dari mana ia bisa mendapatkan jawabannya? Ia hanya seorang diri di ruangan ini, ia tak memiliki siapapun yang dapat membantunya.

Lelaki itu menjambak rambutnya ketika ia masih saja menggelengkan kepala. Tanpa sadar tangan Seulmi terangkat untuk menggenggam lengan pakaian Luhan.

“Kuberitahu kau satu hal. Aku benci penolakan. Jadi kau sama sekali tak punya pilihan lain. Ikuti permainanku atau kupotong kakimu.”

Dengan demikian, ia kembali mendorong Seulmi hingga bagian sisi kiri wajahnya membentur lantai, lantas ia berjalan keluar dari ruangan dengan kaki mengentak. Pintu dibanting keras, meninggalkan Seulmi yang hanya dapatmenangis bisu.

)***(

Sekian jam terlampaui, Seulmi tak tahu berapa lama pastinya. Sejak kepergian Luhan, gadis itu telah menghitung setiap detik dan setiap menit. Namun segalanya buyar kala hitungannya mencapai dua jam, tiga belas menit, dan dua puluh dua detik. Otaknya tak kuat menampung segala hal dalam satu waktu. Prioritas utamanya adalah menebak orang yang telah membuat Luhan nekat melakukan ini kepadanya. Namun menghitung waktu pula cukup penting untuk memberitahunya berapa banyak waktu yang masih tersisa.

Ia hanya berbaring dengan perutnya, tangan masih terikat kuat di belakang tubuh. Tak dapat bangkit ataupun bergerak bebas. Rusuknya nyeri tentu saja, mengingat telah berapa lama ia tertelungkup seperti ini. Barangkali paru-parunya menghirup terlalu banyak debu serta udara lembab. Barangkali setelah ini ia akan menderita paru-paru basah atau sejenisnya. Barangkali kejiwaannya pula akan terganggu dan ia harus mendekam di dalam kamar rumah sakit jiwa.

Seulmi tak sanggup hanya dengan memikirkannya saja. Ia ingin keluar namun otaknya tak bekerja dengan baik. Tubuhnya tak bertenaga hingga ia berpikir kendati ikatan kencang tersebut dilepas dari kedua kaki dan tangannya, ia tak akan dapat berdiri tegak. Mungkin tulangnya akan remuk akibat kekurangan zat besi. Ya, Seulmi tahu pemikirannya agak berlebihan, tapi siapa yang tak berpikiran demikian jika dalam sehari hanya semangkuk nasi kelebihan airlah yang ia telan. Meski demikian, ia tak ingin menyia-nyiakan waktu. Otaknya terus berputar sehingga membuatnya pening. Ia menggigit bibirnya keras, mengeluarkan isakan tertahan akibat rasa frustasi. Seulmi ingin berteriak namun tenggorokannya seakan tersumbat oleh seonggok daging. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memendam segalanya; amarah, kesedihan, kefrustasian, depresi, dan apapun itu yang dapat membuat setiap manusia di dunia merasa sinting. Kerasionalannya lenyap entah kemana sampai pada titik ia berpikir bahwa mati di tangan Luhan akan lebih baik ketimbang menerima siksaan tak berujung darinya.

Seulmi berusaha keras untuk tetap membuka mata, tak membiarkan kantuk mengambil alih. Namun kelopak matanya terasa begitu berat, seakan ribuan kupu-kupu sedang bertengger di setiap helai bulu matanya. Hal berikutnya yang ia ketahui, tubuhnya menjadi begitu rileks. Dalam tidurnya, ia tak melihat apapun, mendengar apapun, ataupun merasakan apapun. Ia pikir ia sudah mati, menyusul sang Ibu di alam lain. Dan ia harap itu memang benar adanya.

Tentu saja tidak. Belum waktunya ia bertemu dengan sang Ibu, lantaran suara bedebam keras dari sudut ruangan membuatnya terjaga. Ia tercekat keras, napasnya tersengal-sengal dan ia mulai berpikir bahwa sesuatu sedang melilit lehernya. Serangan panik.

Seulmi mendapati sosok Luhan berjalan tegap kearahnya. Suara ketukan sepatu yang begitu familier membuat wajahnya meringis. Lelaki itu datang sembari melepaskan ikat pinggang dari celananya. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, dan Seulmi sama sekali tak menginginkan satupun dari mereka.

Ia menggeliat, berusaha menjauh, menghindari setiap langkah yang membawanya mendekat. Salah satu sudut bibir Luhan berjingkat, matanya berkilat penuh kegelian setelah melihat reaksi dari Seulmi. Ia melilitkan sabuk tersebut di antara jemarinya. Berhenti kala jarak satu meter memisahkan mereka dan menggantinya dengan langkah pelan yang menyiksa.

“Bagaimana, Sayang? Kau sudah menemukan jawabannya?” tanya Luhan rendah, berhasil membuat rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya seakan terkena sengatan listrik. “Waktunya sudah habis, aku ingin mendengar jawabannya.”

Gadis itu menggeleng seperti orang sinting. Napasnya memburu dengan butiran peluh menghiasi pelipisnya. Ia terlalu lelah untuk berpikir, ia terlalu panik untuk menyaring segalanya. Ia tak tahu dan ia benar-benar tak dapat menebaknya. Yang Seulmi tahu, sebentar lagi ia akan menerima pukulan dari Luhan. Bukan hanya satu, tapi ia yakin ikat pinggang yang terbuat dari kulit itu pasti meninggalkan jejak pada permukaan tubuhnya.

Isakan pertama keluar saat Luhan mengambil langkah lebar untuk menghabiskan jarak di antara mereka. Ia menyentuh bibir dengan ibu jarinya, menaikkan sebelah alis sembari terkekeh mengejek.

“Tak bisa kubayangkan ekspresi wajahnya jika ia melihatmu seperti ini. Ekspresi yang sangat berharga untuk disaksikan pastinya.” Luhan tertawa rendah dan Seulmi rasa perutnya berputar hebat. Ia ingin memuntahkan bubur nasi tadi ke wajah Luhan jika makanan itu masih berada di lambungnya.

Lelaki tersebut menunduk untuk meraih dagu Seulmi, memandang tepat di manik mata cokelatnya. Decakan keras menggema di ruangan kosong tempatnya disekap. “Sudah menyiapkan jawabannya, Nona?”

Tak ada jawaban.

“Katakan padaku!”
Masih juga tak ada jawaban dari Seulmi. Kini seringaian Luhan lenyap, rahangnya mengeras dan sentuhan jemarinya pada wajah Seulmi pun menguat. Gadis itu kembali meringis, memohon agar Luhan tak melukainya, namun ia tak peduli. Ia mengabaikan permohonannya dan sebaliknya, jemari Luhan bergerak kearah lehernya. Tangannya mencengkram leher jenjang Seulmi. Membiarkan napasnya tersendat-sendat dengan mulut terbuka lebar untuk mengambil udara. Ia tampak rakus akan oksigen, tapi siapa yang tidak jika leher kalian sedang dicekik?

“Kau belum juga tahu? Kau tak tahu siapa yang telah membuatku menjadi seperti ini?” ujar Luhan bergetar. Urat nadi di keningnya tampak timbul, ditambah dengan wajahnya yang memerah menandakan bahwa darah berdesir cepat ke ubun-ubun kepala.

Seulmi rasa ia akan segera mati. Ya, benar, ia pasti mati hari ini oleh cekikan Luhan. Namun sekali lagi, tebakannya itu salah besar. Luhan melepaskan cengkraman tangannya kala dilihatnya tubuh Seulmi mulai melemas. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan, ia menarik napas begitu dalam. Membiarkan paru-parunya menyuplai udara sebanyak mungkin hingga ia merasakan nyeri di balik tulang rusuknya. Seulmi terbatuk beberapa kali. Ia yakin bahwa jejak tangan Luhan tercetak jelas di sana. Entah merah atau biru, yang pasti dalam beberapa menit kedepan lehernya akan berubah warna menjadi biru gelap.

“Aku sudah memberimu banyak klu dan kau masih tak dapat menebak siapa bajingan itu? Siapa satu-satunya orang yang akan merasa paling menderita saat ia melihat keadaanmu? Siapa satu-satunya orang yang akan menjadi sinting saat ia kehilangan kau? SIAPA?!” dengan bentakan tersebut, sebuah tamparan meyentak wajahnya kesamping. Dan seluruh kepingan-kepingan itu pun tersambung di dalam kepalanya. Menjadi puzzle lengkap dan satu nama terbentuk di sana. Joo Dongseok. Tuan Joo. Ayahnya.

Mata Seulmi membeliak, tak percaya dengan fakta yang baru diketahuinya. Mengapa? Mengapa harus ayahnya? Apa yang sudah dilakukan pria paruh baya tersebut hingga membuat Luhan harus menculiknya untuk membalaskan dendam kepadanya? Kesalahan fatal apa itu?

“Karena kau tak bisa menjawabnya, maka aku akan memberikan hukumannya.” Ia kembali menegakkan tubuh. Melepaskan lilitan sabuk di antara jemarinya dan menyentak benda tersebut beberapa kali hingga mengeluarkan bunyi keras. Luhan mengangkat tangannya, hendak mendaratkan pecutan kearah kakinya ketika pekikan keras meluncur dari bibir mungil Seulmi.

“Joo Dongseok!” matanya melotot lebar, menatap Luhan dengan pandangan memohon. “Joo Dongseok! Ayahku!”
Gerakannya terhenti. Ia menjatuhkan ikat pinggang tersebut dan sebuah senyuman lebar terpatri di wajah tampannya. Menepukkan tangan tiga kali, Luhan berdecak mengejek.

“Apa otakmu hanya bekerja pada pecutan?” ujarnya.

Seulmi tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena kini cairan bening tengah membendung di pelupuk matanya. Ia tak ingin menumpahkannya, ia tak ingin menunjukan kepada Luhan betapa kecewanya ia terhadap ayahnya sendiri. Hal itu akan memberikannya lebih banyak kepuasan. Jika Luhan sampai nekat melakukan segala cara untuk membuat Tuan Joo menderita, maka Seulmi tak perlu meragukan bahwa ada suatu hal yang pernah dilakukan pria paruh baya tersebut pada Luhan di masa lalu.

Tangan kotornya merogoh saku celana sisi kanan, mata tak pernah beralih dari sosok Seulmi. Senyuman timpang masih tampak memuakkan hingga membuat gadis itu memilih untuk tak menatap wajahnya. Dan dua detik kemudian, ia telah menggenggam ponsel yang diambil dari dalam sakunya. Jemarinya bermain di atas layar, mata fokus membaca setiap nama yang tersimpan dalam kontaknya. Sampai ketika ia menemukan apa yang ia cari, dehaman pelan meluncur dari bibirnya.

“Mari kita buktikan, seberapa kalutnya pria tua bangka itu setelah putri kesayangannya hilang selama dua hari.” Ujar Luhan lantang.

Mata Seulmi membeliak lebar. Ia tahu apa yang akan dilakukan Luhan. Hanya dengan tebakan, Seulmi tahu bahwa Luhan akan menelepon ayahnya. Terbukti dengan nada sambung yang menggema di penjuru ruangan. Pada deringan ketiga, panggilan pun terjawab. Napas Seulmi tertahan di tenggorokan kala ia mendengar suara berat Tuan Joo di seberang sana. Ia bisa membayangkan betapa kacau ayahnya kini. Betapa sintingnya ia mencari keberadaannya.

“Halo? Halo?” sapanya setelah selama sekian sekon tak ada balasan dari Luhan. Lelaki tersebut masih berusaha menahan tawa. Entah apa yang lucu, namun Seulmi yakin bahwa nada kacau dari Tuan Joo cukup membuatnya geli.

“Apa kau sedang mencari putrimu, Tuan Joo yang terhormat?” ujar Luhan akhirnya dengan senyuman puas.
Hening. Tak ada jawaban dari seberang namun Seulmi dapat mendengar napas ayahnya yang memburu. Seolah-olah ia baru saja dikejar oleh ribuan binatang karnivora. Pria paruh baya tersebut pasti terkejut dan tak menyangka akan ditelepon oleh si Penculik.

“Di mana dia sekarang?” berhasil menguasai intonasinya, ia bertanya dengan banyak penekanan dalam setiap katanya.

Luhan terkekeh sembari menggelengkan kepala. “Tidak, Tuan. Aku tak bisa memberitahukanmu.”

“Apa maumu?!” kini bentakanlah yang terdengar.

Woah, kau kuatir, bukankah begitu, Tuan?”

“Jangan banyak omong dan katakan di mana putriku sekarang!”

“Tak semudah itu.”

“Sebutkan berapa yang kauinginkan.”

Seulmi tahu berapapun angka yang disebutkan oleh Luhan, sanggup dibayar oleh ayahnya. Namun masalahnya bukanlah itu. Luhan sama sekali tak membutuhkan uang. Ia hanya ingin melihat Tuan Joo menderita. Pembalasandendam.

“Simpan hartamu dengan baik, aku tak membutuhkan mereka.” ujarnya datar sebelum kembali melanjutkan, “aku hanya ingin memberitahu keadaan Joo Seulmi saat ini agar tak membuatmu terlalu kuatir. Dia baik-baik saja, masih hidup dan bernapas. Bahkan kemarin ia tertidur dengan sangat pulas. Semuanya baik kecuali beberapa bagian seragamnya robek, memar dan setitik darah di sudut bibir, kedua pipi yang memerah, serta jejak garis kebiruan di lehernya. Tak usah kuatir, aku akan menjaganya dengan baik. Tak akan kubiarkan ia bertemu istrimu secepat itu.” Jelas Luhan membuat rahang Seulmi mengeras. Lelehan air mata pertama menodai pipinya, bukan karena ia takut ataupun sedih, namun ia marah. Begitu marah kepada Luhan yang telah berbicara seperti itu kepada ayahnya. Ditambah dengan menyinggung kematian ibunya, Seulmi benar-benar tak dapat menerima semuanya.

“AYAH! Jangan dengarkan dia! Aku baik-baik saja, sungguh!” pekiknya, mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki.
Kedua alis Luhan terangkat, “Dengar? Dia baik-baik saja.”

“Brengsek! Kembalikan putriku!” intonasi Tuan Joo semakin meninggi dan Seulmi dapat mendengar suara pecahan kaca di seberang sana. Entah itu gelas atau apapun yang dilempar Tuan Joo. Ia harap pria tersebut tak melukai dirinya sendiri.

“Datanglah dan selamatkan putrimu sendiri. Aku memberikanmu waktu dua puluh delapan hari. Lebih dari itu, kau akan mendapatkan paket bangkai putrimu sendiri. Tenang saja, aku akan mengirimkannya langsung kedepan rumahmu.”

Setelahnya, Luhan segera memutuskan sambungan sebelum Tuan Joo dapat menjawab. Ia memberikan kerlingan menjijikan kepada Seulmi, lantas berjalan keluar.

)*TBC*(

Next chapter will be PROTECTED. leave your comment and i’ll give the password.

Advertisements