Title: 30 Days

Author: Seul95

Length: Long Chaptered

Genre: Romance, Violence, Crime, Tragedy

Rating: PG-16
Casts:
 Lu Han (EXO)
 Joo Seulmi (You/OC)
 Oh Sehun (EXO)
 Min Heekyung (You/OC)

Summary: Tiga puluh hari yang penuh dengan penderitaan, akankah ia dapat bertahan hidup dengan sepenggal asa yang tersisa?

Warning! : THIS STORY CONTAINS VIOLENCE, SWEARING AND SEMI-SMUT SCENES. If you are not comfortable with this kind of story, just leave it there. NO BASH!
Disclaimer: I do not own any of the characters nor I plagiarize my work. EVERY FICTIONAL CHARACTER IS NOT ME NOR ANYBODY, FEEL FREE TO IMAGINE THEM AS YOURSELF. Any similarity to another story is purely coincidental. And I’d be appreciate it if you do not take my work as well.

seul95

 

“Kubilang aku baik-baik saja, tak usah kuatir—”

“Jangan pulang terlalu larut, Ayah hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu.”

Gadis itu mendengus keras, manaikan tangan untuk memijat keningnya yang berdenyut. Hal ini selalu terjadi jika ia harus pulang terlambat akibat kegiatan sekolah. Barangkali karena ayahnya hanya memilikinya, sementara ibunya telah lama pergi sejak ia berumur tujuh tahun. Kenyataan tersebut membuat sang Ayah lebih memilih bersikap protektif padanya untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

“Aku akan pulang sebentar lagi, aku hanya perlu menyelesaikan tugas ini.”

“Masih lama?”

“Apanya?” keningnya mengernyit, tak begitu peduli dengan pertanyaan singkatnya.

“Tugasmu, masih lama selesai?”

“Sepertinya begitu. Ini tugas kelompok dan harus dikumpulkan besok pagi. Aku harus segera menyelesaikannya. Kututup!”

Sebelum ayahnya dapat menjawab, ia telah memutuskan sambungan dan menghela napas lega. Dengan gerakan cepat ia melepas baterai ponsel lalu kembali berkonsentrasi pada buku pelajaran di hadapannya.

“Ayahmu?” tanya Heekyung—parner kelompok dalam tugas biologi sekaligus sahabatnya—dengan senyum geli.
Ia mengangguk lemas, tak berniat mengeluarkan suara. Kendati ia merasa malu dengan sikap protektif sang Ayah yang berlebihan, namun tentu ia pula mengerti mengapa ia bersikap seperti itu. Hanya saja, menurutnya tak perlu sampai mempermalukannya di depan teman-temannya.

“Seulmi, kupikir kau tak perlu merasa terlalu terganggu. Aku ingin memiliki ayah sepertimu, seharusnya kau bersyukur.” Ujarnya.

Joo Seulmi, gadis itu memutar kedua bola matanya sebal. Ia melipat kedua tangan di atas meja dan berpura-pura sibuk pada buku anatomi manusia di hadapannya. Memasang wajah serius dengan mengerutkan kening agar Heekyung tak mengganggunya lagi dengan ocehan tentang ayahnya.

“Jika saja bisa, aku ingin bertukar tempat denganmu—”

“Oh, aku bersedia! Tolong gantikan posisiku sekarang juga. Aku sudah muak dengan Ayah.”
Heekyung terkikik sembari menutup mulut dengan telapak tangan. Ia menyenggol bahu Seulmi dan mengejeknya.

“Heekyung, hentikan! Aku harus segera pulang atau ayahku benar-benar akan mengirimkan tim SWAT untuk menjemputku di sini.”

Kini sahabatnya tersebut tergelak keras. Ia mendorong Seulmi beberapa kali sembari memukul-mukul permukaan meja dengan telapak tangan. Perutnya nyaris saja kram jika ia masih terus tertawa untuk lima menit kedepan. Sementara Seulmi—yang kini tampak benar-benar kesal—mengambil buku tebal di sampingnya untuk menghantam kepala Heekyung. Dan seketika itu juga, suasana kembali hening seperti sedia kala. Mereka melanjutkan tugas yang belum rampung tanpa banyak bicara.

Waktu terus berdetik hingga lengan pendek dari jam dinding yang tergantung di atas dinding perpustakaan menunjuk di antara angka tujuh dan delapan, sementara lengan panjangnya tepat berada di angka lima. Untungnya, perpustakaan sekolah akan tetap buka hingga pukul delapan saat mendekati ujian akhir. Memberi akses mudah bagi para murid yang ingin memeras otak mereka secara berlebihan sebelum menghadapi kursi panas di ruangan bak neraka. Uh, betapa Seulmi benci hari ujian.

“Tinggal sedikit lagi, aku akan melanjutkan sisanya di rumah. Kau pulanglah, Paman Joo pasti sedang menunggu.” Ujar Heekyung sembari membereskan alat tulis yang berserakan di atas meja.

Seulmi tersentak, ia begitu berkonsentrasi pada tugasnya hingga tak menyadari bahwa sang Sahabat telah bersiap-siap pulang.

Eh? Tak apa kaukerjakan sendiri?” tanya Seulmi merasa tak enak lantaran ia akan melimpahkan sisa tugas yang belum rampung kepada Heekyung. Kendati sejatinya ia lega bukan main. Kepalanya nyaris saja pecah mencari setiap materi yang dibutuhkan dalam buku tebal tersebut. Benar jika kalian berpikir Joo Seulmi bukanlah tipe gadis kutu buku yang rela membiarkan otak malangnya bekerja selama dua puluh empat jam tanpa henti.

“Kita hanya memerlukan beberapa materi lagi, aku bisa melakukannya.” Heekyung memberikan senyuman menenangkan lalu beranjak bangkit dari tempat duduknya. Ia kembali melirik arloji di pergelangan tangan dan menghela napas. “Kuharap bisnya belum datang atau aku harus menunggu setengah jam di halte untuk bis berikutnya. Aku pergi, Seulmi-ah!”

Setelah mengucapkan kalimat terkahir tersebut, Heekyung pun beranjak keluar dari perpustakaan dengan berlari kecil. Meninggalkan Seulmi yang masih terduduk di sana, menatap kepergian sang Sahabat. Ia melirik jam dinding di samping kanan, menyadari bahwa masih ada dua puluh lima menit tersisa sebelum perpustakaan benar-benar ditutup. Pandangannya menyapu penjuru ruangan, mendapati tiga siswa sedang duduk di meja nomor dua, serta satu orang siswa yang sedang menjelajahi rak buku kimia.

Ia membereskan alat tulis miliknya, memasukannya kedalam tas, lantas berjalan keluar dengan langkah terseok. Mengangkat kaki saja seakan mengangkat beban sepuluh kilo. Ia lelah, sudah jelas. Bayangkan jika kau harus mengorbankan waktumu seharian penuh berada di sekolah, membiarkan tulang-tulang serta sendi-sendi malangmu membatu lantaran harus duduk selama sekian jam untuk mengerjakan tugas-tugas sinting yang diberikan para guru. Semakin dekat jarak waktu hingga ujian akhir, maka semakin sinting pula banyaknya tugas yang diberikan. Apakah ia sebuah robot? Apakah mereka tak memikirkan bagaimana mentalnya seakan ditekan ke dasar perut bumi?

Semilir angin menerpa wajah gadis itu, membuat rambut panjang lepeknya menggelepar mengikuti arah mata angin. Oh, benar, Seulmi tak sempat mencuci rambut pagi tadi. Tunggu, agaknya ia pun lupa mencuci rambutnya sejak kemarin. Uh, terserahlah, ia tak peduli. Setibanya di rumah nanti ia akan berendam di dalam air hangat dan menggosok seluruh tubuhnya dengan scrub hingga tak ada lagi rasa lengket yang mengganggu.

Ia menghentikan langkah di halte bis, duduk termenung dengan memangku dagu di atas tangan. Pandangannya hampa, tampak begitu lelah dan tak bersemangat. Sungguh, ia tak memiliki tenaga lagi kendati hanya untuk menyapa orang yang sedang duduk di sisinya. Mata gadis itu nyaris terpejam hingga akhirnya tersadar kala ia menyadari bahwa bisnya tak kunjung tiba.

Jam berapa ini? Ia menengok kekanan serta kekiri, mencari seseorang yang sedang mengenakan arloji untuk menanyakan waktu. Hingga akhirnya menemukan seorang wanita yang berusia sekitar di awal dua puluhannya berdiri di ujung halte, bersandar pada tiang penyangga—sedang memainkan ponsel. Seulmi terlalu malas untuk memasang kembali baterai ponselnya.

“Permisi, boleh aku bertanya jam berapa sekarang?” tanyanya sopan. Mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk menyunggingkan sebuah senyuman.

Wanita tersebut mengecek ponselnya sesaat sebelum akhirnya menjawab, “delapan lewat sepuluh.”

Dan seakan ada sesuatu yang menghantam kepalanya, Seulmi sedikit terhuyung kebelakang. Ia mencubit lengannya sendiri dengan kesal, lantas mengucapkan terima kasih kepada wanita tadi. Kini tentu ia hanya punya satu opsi untuk segera tiba di rumah dan melakukan ritual berendam air hangatnya, yaitu dengan berjalan kaki. Yang mana hal itu membutuhkan waktu empat puluh menit. Oh, demi Tuhan, ini adalah hari yang begitu sempurna untuk Seulmi. Bis terakhir menuju rumahnya baru saja meninggalkannya sepuluh menit yang lalu. Membuktikan bawah sedianya ia sempat tertidur.

Sambil memberungut, Seulmi membenarkan letak tas punggung pada bahunya, berjalan mengentak dan sesekali mengeluarkan umpatan pelan. Tak perlu ditanyakan lagi seperti apa reaksi Tuan Joo saat ini. Mungkin memang lebih baik ia tak memasang baterai ponselnya agar benda mungil tersebut tak mengeluarkan suara ribut sepanjang perjalanan.

Seulmi tentu tahu jalan tikus yang akan membawanya pulang lebih awal. Jadi ia berbelok arah pada gang kecil di seberang jalan. Umumnya ia selalu melewati gang ini kala dirasanya sedang tak ingin menggunakan bis. Namun hal itu dilakukan pada siang atau sore hari setelah pulang sekolah. Tak pernah selarut ini dan Seulmi sendiri tak tahu apa yang sedang menantinya di tengah perjalanan nanti. Ia tak pernah mengikuti kursus bela diri, tak juga baik dalam olah raga lari. Kakinya terbilang lemah untuk mengejar teman-temannya yang lain saat pengambilan nilai lari dua ratus meter. Ya, terlalu banyak hal negatif yang dimiliki gadis ini.

Kendati ia berasal dari keluarga berkecukupan, namun ia selalu menolak jika ayahnya menawarkan jasa sopir pribadi yang akan mengantar-jemputnya sekolah. Ia tak suka diperlakukan istimewa. Di mana teman-temannya akan bersikap berbeda padanya. Menurutnya, begini lebih baik. Ia senang bisa menunggu bis bersama di halte, ia senang saat teman-temannya yang lain tak berteman dengannya hanya karena ia berasal dari kalangan atas. Terlepas dari banyak kekurangan yang ia miliki, Seulmi tak seperti putri-putri konglomerat berotak udang namun bersikap layaknya mereka gadis paling jenius sejagat raya.

Lima belas menit terlampaui. Ditemani dengan senandung samar dari suaranya untuk menghilangkan segala perasaan takut yang menggelayut manja, kakinya melangkah kian melebar. Berharap ia tak memerlukan lima belas menit berikutnya hingga tiba di rumah. Namun senandung itu sekonyong-konyong berhenti, langkahnya pun begitu. Ia mematung saat suara ketukan sepatu samar mengikutinya dari belakang. Seulmi berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya orang lain seperti dirinya yang ingin kembali ke rumah dengan segera.

Tungkainya kembali menulusuri jalan, sesekali menoleh kebelakang, tak mendapati siapapun atau apapun di sana. Apakah suara tersebut hanya suara yang dibuat otaknya sendiri lantaran ia merasa takut? Benar, biarkan Seulmi berpikiran demikian jika dapat membuatnya merasa lebih tenang. Namun anehnya, semakin cepat ia melangkahkan kaki, maka ketukan langkah yang mengikuti di belakangnya pun akan menyesuaikan dengan kecepatannya. Begitu pula ketika ia berhenti untuk kembali memeriksa, maka tak ada suara yang terdengar.

Ia menggenggam tali tas punggungnya dengan erat. Buku-buku jarinya memutih dan keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di permukaan wajahnya. Seulmi menggigit bibir bawah dengan keras, menghitung di dalam kepalanya sampai lima, berusaha mempersiapkan kakinya untuk mengambil langkah seribu. Dan pada hitungan kelima, Seulmi mendapati dirinya berlari di antara himpitan dinding sempit dengan asa bahwa ia akan segera menemui ujung pangkal gang ini. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar kencang seakan bisa pecah jika ia tak menghentikan laju kakinya.

Sedikit lagi, hanya sepuluh meter di depannya, Seulmi dapat melihat kerlipan lampu jalan besar. Ia dapat mendengar suara kendaraan berlalu-lalang, suara percakapan serta gelak tawa orang-orang. Senyuman samar tersungging kendati tampak kaku, ia ingin berteriak. Ia nyaris—

Tidak. Sama sekali tidak. Seulmi tidak keluar dari gang sempit itu. Seseorang menarik lengannya, punggungnya membentur dada ratanya. Ia merasakan napas hangatnya membentur permukaan kulit lehernya, dan sebuah sapu tangan beraroma menyengat membekap mulutnya. Ia tak bisa bernapas, sungguh, napasnya begitu sesak. Memberontakpun tak membuahkan hasil lantaran kantuk hebat tiba-tiba menyerang. Hal terakhir yang ia dengar adalah ketika si Penculik berbicara di ponselnya, “jemput aku sekarang!”

 

)***(

 

Jika Seulmi tahu hari itu adalah terakhir kalinya ia dapat berbicara dengan sang Ayah, ia akan membiarkan pria paruh baya tersebut membanjirinya dengan berbagai pertanyaan kuatir. Ia rela membuat telinganya tuli oleh ocehan suara berat sang Ayah. Ia tak akan melepas baterai ponselnya dan membiarkan benda mungil tersebut berdering tanpa henti jika hal itu dapat menenangkan hatinya. Tentu kini ia menyesal bukan main. Mengapa ia tak mendengarkan pesan ayahnya untuk tidak pulang terlalu larut? Mengapa ia begitu keras kepala hingga membahayakan dirinya sendiri dengan melewati jalan tikus berbahaya itu? Mengapa ia harus merasa kesal kepada ayahnya saat pria itu menelepon untuk mengingatkannya? Mengapa dan mengapa tak akan terjawab karena ia sendiri tak tahu.

Hari itu—entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri—Seulmi terjaga dengan kepala yang berdenyut keras seakan-akan dapat menghancurkan tengkoraknya. Penglihatannya berputar hebat dan napasnya sesak. Kedua tangan serta kakinya terikat kuat, bahkan ia dapat merasakan kulitnya mengalami iritasi akibat ikatan tali yang begitu kencang. Rok gadis itu tersingkap namun ia tak bisa menurunkan lantaran kedua tangan yang terkunci. Ia yakin sesuatu yang sangat kejam telah menunggunya. Penculik itu akan datang dan menghabisi nyawanya saat ini juga. Atau bahkan yang terburuk, ia akan memerkosanya sebelum menewaskan dirinya.

Tanpa sadar sebuah isakan melesak keluar dari celah bibir mungilnya. Matanya bergerak liar menyapu kesegala arah, mencari sesuatu yang dapat melepaskan ikatannya. Mencari celah yang dapat memberikan koneksi dengan dunia luar. Namun tak ada. Ruangan ini gelap, hanya sebuah lampu temaram di langit-langit yang memberi secercah cahaya. Ia bahkan tak tahu apakah ini siang atau malam, pagi atau sore.

Serangan panik seakan menghantam tubuhnya. Ia menggeliat gelisah bak cacing kepanasan. Rambut panjangnya menutupi sebagian matanya, menempel pada permukaan wajah yang basah oleh peluh. Kendati ia ingin meneriakkan kata tolong, namun tenggorokannya selalu tercekat setiap kali mulutnya terbuka. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.

Derikan pelan suara pintu tua yang terbuka menghentikan segala usaha Seulmi. Napasnya masih memburu, kepalanya menengok kearah posisi pintu itu bertempat. Ia menegang kala sesosok pria sedang berdiri di sana, bersedekap sembari menyilangkan kaki. Dagunya terangkat tinggi dan kendati ia tak dapat melihat bentuk wajahnya dengan jelas, sebuah seringaian mengerikan terpatri di sana.

Ia tak bergerak, matanya memperhatikan Seulmi dengan intens; ujung sepatu lusuhnya, kulit kaki mulusnya, paha berisi, pakaian dalam yang nampak akibat rok sekolah yang tersingkap, pinggul lebarnya, seragam yang kini menjadi serampangan, leher jenjangnya, wajahnya yang basah oleh keringat serta air mata, dan rambut hitam panjangnya yang tak tersisir rapi. Untuk menilai penampilannya kini, Seulmi bisa dikatakan cukup mengenaskan. Bak tunawisma yang tak pernah mandi sebulan serta tak memiliki pakaian ganti.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”

Suaranya seperti alunan lagu pengantar tidur di telinga Seulmi. Lembut dan menghanyutkan. Begitu jernih dan terdengar lugu. Ia tak menyangka bahwa orang inilah yang membuntutinya serta membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan berobat bius. Tingginya memang tak seberapa, namun jika dibandingkan dengan dirinya, pria ini tentu jauh lebih jangkung. Ia berpostur sempurna, lehernya jenjang dan jemarinya tampak indah. Kendati lampu ruangan temaram, namun penglihatan Seulmi masih bekerja dengan baik.

Ia berdecak sembari menegakkan tubuh. Tangannya masih terlipat di depan dada dan kakinya mulai melangkah perlahan menuju tempatnya terbaring. Senyuman timpang itu masih tersungging sempurna, tak luput membuat nyali Seulmi menciut saat itu juga.

“Tidurmu pasti sangat nyenyak. Sejak semalam kau tak terjaga, tak juga merubah posisi tidurmu. Wah, kupikir kau sudah menyusul ibumu ke neraka.” Ia menjawab pertanyaannya sendiri. Dan mendengar hal itu, emosi Seulmi pun tersulut. Kendati ia tak begitu ingat tentang kenangan bersama ibunya, namun tak seorang pun boleh mengatakan hal kejam seperti itu kepada beliau.

“Tutup mulutmu, brengsek!” bentaknya dengan tatapan tajam.

Kini seringaian tersebut lenyap. Rahangnya mengokoh dengan gemeletuk gigi yang terdengar jelas. Ia mendapati kedua tangan yang terkepal erat di sisi-sisi tubuhnya. Dan saat itu juga, Seulmi pun tersadar bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Membalas ucapannya dengan bentakan tak pernah ada dalam kamus lelaki tersebut.

Kekehan rendah meluncur dari kedua bibir tipisnya. Ia berjongkok di hadapan Seulmi sembari menepuk tangan sebanyak tiga kali. Kepalanya bergerak kekanan dan kekiri, matanya terpejam dengan ekspresi memuakkan.

“Kuberi acungan jempol untuk nyali besarmu, Putri Tidur,” jemarinya menyibak rambut yang menutupi wajah Seulmi. Ibu jarinya menyingkirkan peluh yang tengah menggantung di sudut alisnya. Untuk sesaat, gadis itu nyaris saja berpikir bahwa penculiknya tak sekejam bayangannya. Namun sebuah genggaman tangan erat pada rambut di ubun-ubun kepalanya melenyapkan segala pikiran tersebut.

Ia meringis, tak dapat menggerakan kepala lantaran pria tersebut tak mengijinkannya. Jambakannya begitu keras hingga Seulmi rasa beberapa helai rambutnya terlepas dari kulit kepala. Ia menggigit bibir bawah untuk menahan perih, tak berani membalas tatapan matanya yang menusuk. Maniknya bergerak kesegala arah kecuali wajah lelaki itu.

“Bukankah seharusnya kau yang menutup mulut busukmu? Jaga bicaramu, kau tak tahu siapa yang benar-benar brengsek di sini, bukan?” tangannya yang lain memegang dagu Seulmi, memaksa mata mereka bertemu. Dan kendati gadis itu bersikeras, tenaganya tak sebanding dengan tenaga lelaki ini hingga akhirnya ia menyerah.
Sejenak ia terpaku. Sepasang mata di hadapannya tampak begitu polos dan indah. Jernih bak sumber mata air. Meneduhkan bak guyuran hujan di tengah siang bolong. Seulmi sempat tersesat, kerasionalan dirinya sempat menghilang selama sekian detik hingga lelaki itu menyentak rambutnya. Ia berteriak tertahan. Cairan bening mengintip di sudut matanya.

“Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga dengan tanganku sendiri. Dan sebenarnya aku ingin memotong setiap inci tubuhmu dan mengirimkannya kepada pria itu. Tapi tentu tak akan menyenangkan jika permainannya seperti itu. Kalian harus merasakan apa itu penderitaan, seperti apa yang sudah kurasakan selama ini.” napasnya membentur wajah Seulmi. Ia tak berani berkedip, pun bergerak kendati hanya satu milisenti. Takut dengan apa yang sanggup ia lakukan hanya dalam kedipan mata.

Ia mendorong tubuh lemas Seulmi kembali keatas lantai dengan benturan keras. Pekikan pilu menggema kesetiap sudut ruangan. Lelaki itu menegakkan tubuhnya hendak menendang perut Seulmi tepat ketika lelaki lain berdiri di ambang pintu dan memanggil namanya.

“Luhan!”

Ia serta lelaki bernama Luhan menolehkan kepala, menatap kearah sumber suara. Sosok itu jauh lebih tinggi dari Luhan. Rambutnya berwarna cokelat madu, menutupi alis serta setengah dari matanya. Ia menjilat bibir untuk melembabkan kulitnya yang kering.

“Telepon untukmu.” Ia mengulurkan sebuah ponsel.
Erangan keras meluncur dari mulut Luhan. Ia menoleh untuk menatap Seulmi sesaat sebelum akhirnya meninggalkan gadis tersebut. Pintu kembali dibanting; tertutup dengan rapat. Meninggalkan Seulmi yang hanya dapat terisak pelan. Ini tak akan mudah. Ia tahu apa yang akan ia lalui ini tak akan mudah. Dan ia sendiri tak yakin apakah sanggup melewatinya.

 

)***(

 

Pukul setengah delapan pagi, ketika Heekyung tengah berjalan kearah gerbang sekolah yang berjarak lima meter dari posisinya saat ini, seseorang mencekal tangannya. Ia berjengit, matanya membeliak lebar, siap menghantam wajah orang tersebut dengan tas punggungnya. Namun membatalkan niat kala ia mendapati wajah cemas Tuan Joo lah yang sedang ia hadapi. Buru-buru gadis itu membungkuk sembari memberi salam.

“Oh, apa kabarmu, Paman,” ujarnya formal.

Tuan Joo tak mengindahkan sapaan tersebut. Ia meraih kedua bahu Heekyung dan memaksa gadis itu untuk segera menghadap kearahnya lagi. Dengan rentang jarak yang kurang dari satu meter, tentu Heekyung dapat melihat lingkar hitam di bawah matanya. Kulit wajahnya pucat dan kusam, serta sepasang bibir yang tampak kering.
“Apa Seulmi bermalam di rumahmu?” tanya pria paruh baya tersebut.

Heekyung menggeleng, “tidak, kami pulang ke rumah masing-masing semalam.”

“Dia tidak pulang ke rumah dan ponselnya tidak aktif.” Suara Tuan Joo mulai bergetar. Larat, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Cemas dan panik, entah kata mana yang lebih pas untuk menggambarkan perasaannya sekarang.

“Apa? Ta-tapi setengah jam setelah Paman menelepon aku menyuruhnya pulang.”

“Jam berapa?”

“Setengah delapan. Aku pulang lebih dulu karena bisku tiba pukul delapan kurang lima belas.”

“Bis kearah rumah kami tiba pukul delapan. Seharusnya ia sudah sampai di rumah jam setengah sembilan.”
Heekyung membisu. Ia menatap kebawah dengan pandangan hampa. Otaknya bekerja dua kali lipat lebih keras untuk mencari klu di mana Seulmi berada sekarang. Ia tak mungkin berada di rumah Eunhyo karena saat bertemu dengannya di jalan tadi, ia sama sekali tak menyinggung keberadaan Seulmi.

“Dia tidak di rumahku, tidak juga di rumah Eunhyo. Lalu di mana Seulmi sekarang?” gumam Heekyung tertangkap oleh pendengaran Tuan Joo. Pria paruh baya tersebut mengguncang bahunya. “Aku tidak tahu, Paman. Seulmi tak pernah bermalam di rumah teman kami yang lain selain di rumahku dan rumah Eunhyo.”

Cengkraman tangan Tuan Joo terjatuh kesisi tubuhnya. Ia menundukan kepala dengan wajah memerah. Marah dan panik. Heekyung mulai menyadari ada yang tak beres dengan kenihilan temannya.

“Apakah akhir-akhir ini Seulmi bersikap aneh? Apakah dia pernah bercerita padamu jika dia merasa sedang diikuti?” tanya ayah Seulmi kemudian.

Heekyung menggeleng dengan kening mengerut. “Tidak pernah sama sekali. Dia bersikap seperti biasanya. Paman, kupikir kita harus melaporkan kasus ini ke polisi.”

Mendengar ucapan Heekyung, Tuan Joo tampak terkesiap. Kakinya melangkah mundur dengan mata membeliak. Ia menggeleng pelan, nyaris tak tertangkap jika Heekyung tak memperhatikannya dengan baik. Ia mendapati pancaran ketakutan di sana. Seakan ada sesuatu yang disembunyikan, namun tentu ia tak berani bertanya.

“A-aku akan mencarinya sendiri. Terima kasih, Heekyung-ah.” Setelah memberi tepukan pelan pada pundak Heekyung, Tuan Joo pun beranjak pergi. Meninggalkan gadis itu dengan segala pertanyaan menumpuk di dalam kepalanya. Membiarkannya kebingungan tanpa satupun klu yang tersaring dari beribu banyak kemungkinan yang dapat terjadi.

Heekyung menggigit bibir bawah sembari mengeluarkan ponsel dari saku jas sekolahnya. Ia mencari nama Seulmi di kontak ponsel lalu menyambungkan koneksi. Namun hanya pesan suara yang terdengar, maka gadis itu meninggalkan sebuah pesan dengan harapan bahwa Seulmi akan membukanya nanti. Bahwa temannya itu baik-baik saja dan masih bernyawa. Bahwa ia bukanlah diculik oleh pembunuh atau pemerkosa, atau oleh orang yang berprofesi sebagai penjual organ dalam manusia. Ia bahkan tak dapat membayangkan jika keesokan harinya nama Seulmi akan menghiasi berbagai media berita yang mengatakan jika ia sudah tewas.

Dengan langkah gontai bak berjalan di atas bara api, Heekyung melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah. Wajahnya kini menjadi pucat pasi, persis sama seperti wajah Tuan Joo. Demi apapun Heekyung tak ingin sesuatu terjadi pada Seulmi. Jika hal itu benar-benar terjadi, ia tak akan memaafkan dirinya karena telah meninggalkannya semalam. Semestinya ia menemaninya di halte bis dan menunggu bersama. Benar begitu, bukan?

 

)*TBC*(

Advertisements