Title: Still In Love

Author: Seul95

Length:  Short Chapter

Genre: Romance, Pregnancy

Rating: PG-15

Casts:

–          Choi Minho as Minho

–          Goo Hara as Hara

–          Kang Jiyoung as Jiyoung

–          Lee Taemin as Taemin

–          Jung Yoogeun as Goo Yoogeun

edit cover still in love (jimin minra ver)

Tubuh mungil itu terbaring lemah di atas sebuah tempat tidur rumah sakit. Sebuah selang pernapasan di masukan ke dalam hidungnya yang kecil. Ia terlihat begitu rapuh, bahkan Minho merasa tulang-tulangnya akan patah jika ia menyentuhnya dengan tidak hati-hati.

 

Ini benar-benar pemandangan yang tidak ingin ia lihat, sang ibu menatap tubuh tak berdaya anaknya sambil menitikan airmata. Melihat itu Minho jadi merasa ikut sedih. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tapi saat melihat kedua orang itu menderita hatinya seakan ingin menjerit kesakitan.

 

Ia sangat bingung dengan semua ini. memang Minho tidak mengenal Hara, dan tidak pernah tahu bahwa ia mempunyai seorang anak, tetapi hatinya seolah mengetahui segalanya. Perasaan dan logika, mana yang harus ia yakini?

 

Lamunan pria itu buyar ketika deringan ponselnya berbunyi dengan nyaring. Hara menoleh ke arahnya, menujukan wajah merahnya karena air mata. Sepertinya ia juga terkejut dan sedikit marah karena takut membuat Yoogeun terkejut.

 

Namun Minho tidak ingin menanggapinya saat ini, karena ketika membaca nama Jiyoung yang keluar di layar ponselnya ia dengan cepat berdiri dan meninggalkan Hara untuk menjawab panggilan kekasihnya itu. ia menutup pintu kamar rawat Yoogeun dengan sangat pelan, lalu dengan tangan gemetar ia menggeser layar ponselnya. Minho benar-benar takut jika Jiyoung akan sangat marah padanya sekarang. Masalahnya semenjak ia meninggalkan Yoonha pagi tadi di jalan, Minho belum sempat meneleponnya hingga sekarang.

 

“Yo-yoboseyo?” sapa Minho gugup. ia dapat mendengar helaan napas berat Jiyoung di seberang sana.

 

“Oppa!!! Kau benar-benar tidak mempunyai perasaan!!! Bagaimana bisa kau meninggalkan calon istrimu sendirian dan tidak meneleponnya untuk meminta maaf selama seharian ini?!” bentak Jiyoung membuat Minho sedikit terperanjat. Baiklah, ini bukan pertama kalinya Jiyoung membentaknya, namun suaranya tidak pernah semarah ini. Minho yakin, kesabaran Jiyoung pasti sudah habis. Sudah sepekan ini ia membuat calon istrinya itu selalu jengkel.

 

“Mianhae Jing, aku benar-benar ada urusan yang sangat penting.” Rajuk Minho dengan suara memelas.

 

“Seberapa penting huh? Lebih penting dariku?!”

 

“A-aniyo…tentu saja lebih penting kau. Tapi tadi itu menyangkut tentang pernikahan kita.” Lagi-lagi Minho harus berbohong pada Jiyoung. Ia menjadi merasa sangat bersalah pada gadis tersebut. semenjak kehadiran Yoogeun di apartemennya, ia harus selalu mengarang pada Jiyoung untuk menyembunyikan anak itu. Minho tahu cepat atau lambat Jiyoung juga pasti akan mengetahuinya, tapi untuk saat ini lebih baik ia tidak usah tahu. Semua pasti ada waktunya, dan Minho berjanji akan menjelaskan semuanya pada Jiyoung nanti.

 

“Benarkah? Apa itu?” nada Jiyoung sudah mulai agak memelan, tidak terdengar semarah tadi.

 

“Tentang dekorasinya, aku lupa mengatakan bahwa kau menginginkan tema yang glamour.”

 

“Kenapa tidak menelepon saja?”

 

Minho mendesah keras, Jiyoung memang gadis yang pintar. “Mm…kebetulan ponselku tertinggal di apartemen dan aku harus membawa contoh hiasannya ke hotel.”

 

“Tch sulit dipercaya, tapi baiklah aku terima.”

 

“ah~ gomawo Jing…aku tahu kau memang calon istri yang pengertian.”

 

“Hey, ingat aku tidak bilang sudah memaafkanmu. Ya sudah, aku mau istirahat dulu.”

 

Belum sempat Minho menjawabnya, Jiyoung sudah memutuskan panggilan. Minho menatap jengkel ponselnya dan mendengus kesal. Ia menjejalkan benda mungil itu dengan kasar ke dalam saku celana dan berbalik untuk masuk kembali ke dalam kamar rawat Yoogeun, Namun tiba-tiba sosok tubuh ramping sudah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan pandangan aneh dan membuatnya terkejut setengah mati. Hara memicingkan matanya lalu tersenyum kecil.

 

“Calon istrimu menelepon?” tanya Hara datar.

 

Entah kenapa dengan pertanyaan yang dilontarkan Hara membuat Minho gugup. Ia tidak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu dan napasnya tercekat. Minho berusaha sekuat tenaga untuk menjawab pertanyaan Hara namun gadis itu sudah mendahuluinya.

 

“Bisa tolong jaga Yoogeun sebentar? Aku mau ke toilet.” Ujarnya lantas beranjak meninggalkan Minho yang masih membeku. Pria itu memerhatikan langkah Hara yang semakin menjauh. Dan seketika itu juga Minho semakin yakin bahwa gadis yang ia lihat beberapa hari yang lalu di seberang jalan tersebut adalah Hara. Ibu dari Yoogeun yang ‘katanya’ adalah anak Minho.

 

Minho menggerakan bahunya tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh untuk saat ini. Ia pun masuk ke dalam kamar rawat dan menutup pintunya pelan. Matanya kembali mendapati tubuh lemah Yoogeun. Tanpa sadar kakinya bergerak dengan sendirinya, menghampiri tubuh mungil tersebut dan duduk di kursi yang tadi dipakai Hara—tepat berada di sebelah tempat tidur Yoogeun.

 

Minho mengangkat tangannya dan mengelus rambut halus bocah itu dengan hati-hati. Tiga jam sudah Yoogeun bergelut dalam tidurnya, dan itu cukup membuat Minho sedikit takut. Bisa saja sekarang ia sedang koma atau semacamnya. Yang membuatnya lebih takut lagi adalah jika mesin pendeteksi detak jantung yang ada di sebelahnya itu tidak menampakkan garis-garis tidak teratur.

 

Ia baru dua hari bersama Yoogeun namun rasa sayang pada bocah ini sudah tumbuh dalam hatinya. Bahkan Minho merasa ia sudah manyayangi Yoogeun jauh sebelum bocah itu datang dan masuk ke dalam hidupnya yang sempurna. Yoogeun seakan sudah tinggal lama dan menempati sebagian tempat di hati Minho. perasaan yang sama dengan yang ia rasakan pada Hara. Minho tidak tahu Hara siapa, tidak tahu ia pernah bertemu dengan Hara, tidak tahu kapan ia pernah menjalin hubungan dengan Hara, namun rasanya Minho sudah sangat mengenalnya. Ini seperti misteri yang belum terpecahkan. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau? Apakah ia melupakan sebagian kenangan yang pernah mengisi hari-harinya?

 

Tanpa ia sadari setitik kristal bening meleleh melintasi pipinya, dan membentur permukaan kulit mulus Yoogeun. Dengan cepat ia menghapusnya sebelum Hara kembali. Namun ternyata Hara sudah berada di belakangnya, memegang bahunya hingga membuatnya tersentak dan berdiri. Minho menunduk untuk mengeringkan air mata yang masih membasahi sebagian wajahnya.

 

“Tidak perlu khawatir, Yoogeun baik-baik saja. Ia memang seperti ini jika asmanya kambuh.” Ujar Hara. Nadanya terdengar sangat lembut dan menenangkan. Minho mendongakan kepalanya untuk mempertemukan mata mereka.

 

“Akhir-akhir ini kesehatan Yoogeun menurun, dan penyakit asmanya sering kali kambuh. Aku tidak mempunyai biaya untuk membayar pengobatannya, dan itu adalah salah satu dari sekian alasan kenapa aku memberikan Yoogeun padamu.” Jelas Hara, sementara Minho hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Pria itu menggeser tubuhnya dan mempersilakan Hara duduk di tempatnya tadi.

 

“A-aku akan menjaga Yoogeun sebisa mungkin.” Ujar Minho sedikit gelagapan. Kata-kata itu terasa aneh saat Minho mengucapkannya. Ia tidak biasa mengucapkannya, dan sedikit tidak wajar karena ia baru saja mengenal Hara dan Yoogeun.

 

“Terima kasih.” Ucap Hara lirih. “Sebaiknya kau pulang saja Minho ssi. Bukankah masih banyak yang harus kau kerjakan?”

 

“Aniyo, aku bisa menjaga Yoogeun di sini. Kau saja yang pulang dan beristirahat sebentar.”

 

“Tidak, mulai sekarang aku adalah pengasuh Yoogeun. Jadi tolong biarkan aku menjalani kewajibanku sebagai pengasuh sekaligus ibunya.” Nada Hara terdengar memelas di telinga Minho, membuat pria itu menjadi tidak tega dan akhirnya menyerah. Untuk kali ini ia yang mengalah, tapi untuk kesempatan yang berikutnya—jika ada kesulitan dan Hara butuh bantuannya—ia tidak boleh menyerah dan harus siap menolong gadis ini.

 

“Baiklah, aku pulang. Yoogeun dengan baik dan kau jangan lupa untuk makan.” Setelah berkata seperti itu, Minho berjalan keluar kamar dengan segala kebingungan dalam dirinya. Sebenarnya ia ini bodoh atau apa? Kenapa bisa mempercayai orang dengan mudah seperti itu? Minho tidak tahu harus melakukan apa saat ini, namun hati kecilnya terus berkata untuk mempercayai Hara. apa lagi ini?

 

~~~~~

 

Jiyoung menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur singkatnya. Sungguh gadis itu hanya dapat tidur selama empat jam karena memikirkan Minho dan Taemin. Namun yang lebih membuat Jiyoung tidak bisa tidur adalah Taemin. Kemarin, saat pertemuan pertama mereka setelah empat tahun pria itu menghilang, Taemin hanya menyapanya sebentar. lalu ia mendapat panggilan telepon dan harus cepat-cepat pergi. Ia hanya meninggalkan nomor telepon serta alamat rumahnya untuk Jiyoung tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

 

Tentu saja Jiyoung sangat jengkel. Ia pikir ia siapa bisa datang dan pergi mengganggu kehidupannya yang sudah hampir sempurna ini dengan kehadiran Minho. namun Jiyoung berharap dapat bertemu Taemin lagi dan menuntut penjelasan darinya. Ia penasaran setengah mati dengan alasan kenapa pria itu tiba-tiba pergi begitu saja. padahal saat itu Jiyoung sedang sangat membutuhkan dirinya. Jiyoung tidak bisa kehilangan Taemin dan jauh dari Taemin karena ia baru sadar bahwa ia menyukai Taemin. Terdengar sedikit konyol memang, dua orang anak yang sedari kecil sudah bersama layaknya seorang saudara dan ternyata tanpa diduga benih-benih cinta tiba-tiba saja tumbuh dalam diri salah satu anak tersebut. dan ia adalah Jiyoung. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Taemin sebenarnya pada dirinya. tapi menurut Jiyoung, Taemin hanya menyayanginya sebatas adik. Tidak lebih dan tidak kurang.

 

Gadis itu mengembuskan napasnya keras lantas memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan atau telepon dari Minho. Calon suaminya itu semakin hari  semakin keterlaluan saja. Bagaimana bisa hanya karena urusan pernikahan mereka ia melupakan calon istrinya yang kesepian ini.

 

Jiyoung ingin sekali meneleponnya dan memarahinya hingga ia bisa tenang, namun Jiyoung rasa semua itu sia-sia. Keesokan harinya Minho pasti akan mengulangi hal yang sama lagi. Ia sangat merindukan sosok Minho yang perhatian padanya seperti dulu. saat mereka hanya mempunyai status hubungan sepasang kekasih, dan bukan tunangan. Jiyoung merasa waktu Minho untuknya sekarang sangat terbatas. Biar bagaiamana pun Jiyoung juga butuh diperhatikan, meskipun pada akhirnya nanti mereka akan menjadi lebih dekat satu sama lain setelah menikah.

 

Akhirnya Jiyoung memutuskan untuk menghubungi Taemin. Awalnya gadis itu terlihat agak ragu, takut mengganggu atau membuat kekasih Taemin marah—jika memang benar ia sudah mempunya kekasih—namun Jiyoung tetap saja meneleponnya. Ia tidak peduli, saat ini Jiyoung sedang butuh seseorang dan ia juga harus mendengar penjelasan dari mulut Taemin secara langsung.

 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Taemin mengangkat panggilannya.

 

“Yoboseyo?” ia mendengar suara lembut Taemin di seberang sana.

 

“T-Taemin ssi?”

 

“Ne, Jing?”

 

“Dari mana kau tahu ini aku?”

 

“Tentu saja aku tahu. Aku sangat mengenal suaramu meskipun kita sudah lama tidak bertemu. Ah~ akhirnya kau menelepon juga. Aku sudah menunggu panggilanmu sejak semalam.”

 

Jiyoung tertegun. Taemin menunggu teleponnya? Ia pikir Taemin tidak peduli lagi padanya dan tidak terlalu memikirkan tentang pertemuan mereka kemarin.

 

“Oh ya? Hmm…maaf baru menghubungimu sekarang.”

 

“Tidak apa-apa, yang penting sekarang kau sudah menghubungiku. Ada apa Jing?”

 

Jiyoung semakin tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. Bahkan Taemin masih memanggilnya dengan sebutan ‘Jing’ dan Jiyoung merasa sedikit aneh jika sekarang Taemin masih memanggilnya seperti itu, namun tidak bisa dipungkiri rasa senang yang terselip di hatinya. Entahlah, Jiyoung merasa aneh pada perasaannya sendiri.

 

“A-aku..mm…bisakah kita bertemu?” akhirnya, kata-kata itu dapat keluar dari mulutnya.

 

“Tentu saja. Kapan kau ada waktu?”

 

“Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu?”

 

“Ah…benar juga. Pagi ini juga aku bisa.”

 

“Baiklah, ayo bertemu di kedai kopi di dekat rumahku.”

 

Setelah berkata seperti itu, Jiyoung memutuskan sambungan dan meletakan kembali ponselnya. Ia menempelkan telapak tangannya di atas dada dan merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang. Apa ini? hanya dengan mendengar suara Taemin melalui ponsel saja jantungnya sudah berdetak tidak karuan, apalagi bertemu nanti. Bahkan jika ia memikirkan ia akan bertemu dengan Taemin, Jiyoung merasa aliran darahnya berdesir sangat cepat. perasaan apa ini?

 

==TBC==

Advertisements