Title: Still In Love

Author: Seul95

Length:  Short Chapter

Genre: Romance, Pregnancy

Rating: PG-15

Casts:

–          Choi Minho as Minho

–          Goo Hara as Hara

–          Kang Jiyoung as Jiyoung

–          Lee Taemin as Taemin

–          Jung Yoogeun as Goo Yoogeun

edit cover still in love (jimin minra ver)

 

Minho PoV

 

Alarm ponselku berdering dengan nyaring tepat di sebelah telingaku, tentu saja itu membuatku terkejut setengah mati. Rupanya semalam aku ketiduran lagi saat sedang menelepon Jiyoung.

 

Kang Jiyoun. Setelah satu tahun enam bulan kami menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih dan setengah tahun sebagai tunangan, akhirnya kami berkomitmen untuk segera menikah. Orangtuaku dan orangtuanya pun sudah menyetujui hubungan kami. Tidak ada hambatan apapun saat aku meminta ijin kepada ayah dan ibunya untuk meminang anak gadis mereka.

 

Dua tahun menjalani hubungan dengan Jiyoung benar-benar membuat hidupku berwarna. Memang hubungan kami juga sering putus-sambung *?*, tapi aku bahagia. Kami saling mencintai dan saling mengerti. Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga tidak sia-sia kami menjalani hubungan selama ini. di usiaku yang sudah menginjak dua puluh lima ini, aku akan menikahi seorang gadis manis yang usianya lebih muda dua tahun dariku.

 

Memang umurnya terdengar sangat dini untuk menikah, tapi menurutku ia adalah gadis yang tepat untuk menjadi istriku.

 

Aku meletakkan ponsel yang tadi berada di sebelah telingaku ke atas meja lampu setelah sebelumnya mematikan alarmnya. Mataku menatap jam dinding untuk memastikan sudah pukul berapa saat ini.

 

08.30.

 

Astaga, aku terlambat! Aku sudah berjanji pada Jiyoung untuk menjemputnya pukul sembilan nanti di rumahnya. Aku bahkan belum mandi dan bersiap-siap sama sekali, ditambah lagi jarak rumah Jiyoung dari apartemenku bisa dibilang agak jauh. Butuh waktu tiga puluh menit untuk tiba di sana.

 

Dengan segera aku bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhku. Semoga saja nanti Jiyoung tidak marah lagi padaku setelah semalam aku tertidur saat sedang meneleponnya.

 

~~~~~

sepanjang perjalanan Jiyoung hanya cemberut saja, ia tidak ingin menyapaku bahkan mencium pipiku saat kami bertemu tadi. Aku yakin saat ini ia benar-benar kesal padaku. bibirnya mengerucut ke depan dengan mata yang menatap keluar jendela mobil.

 

Kuberanikan diri untuk mengganggam tangannya, dan ia diam saja. tidak menarik tangannya maupun menepis genggamanku. Sekali lagi, Jiyoung tidak memberikan reaksi apa-apa. Ia tidak membalas genggaman hangatku. Kutarik dagunya hingga kepalanya menoleh ke arahku.

 

“Jing…”

 

“Perhatikan saja jalanmu!” celetuknya saat aku berusaha untuk berbicara padanya. jika sudah begini bagaimana caranya aku mau meminta maaf?

 

Aku berdeham pelan dan kembali membuka suara. “Jangan seperti ini, semalam aku benar-benar sangat lelah.” Ujarku lagi. Kali ini berhasil, ia mempertemukan mata kami. Namun jawaban yang keluar dari mulutnya membuatku kembali harus menelan pil pahit.

 

“Choi Minho, kau itu sedang menyetir. Berkonsentrasi saja pada jalanmu!”

 

Aku menghela napas berat. Mau tidak mau aku menuruti kata-katanya dengan kembali memerhatikan jalanku agar suasana tidak bertambah buruk. Pagi-pagi begini bukannya aku mendapat senyuman hangat darinya tapi malah mendapatkan kemarahannya. Kau benar-benar bodoh Choi Minho.

 

“Maafkan aku Jing…aku tidak bermaksud ingin membuatmu marah seperti ini.” ujarku tidak menyerah.

 

“Jika semalam kau mengantuk seharusnya kau bilang padaku dan menutup telepon, bukan meninggalkanku tidur sedangkan aku terus berbicara seperti orang bodoh!”

 

Aku menolehkan kepala lagi dan menatap Jiyoung dengan pandangan memelas. Jika tatapan ini tidak berhasil membuat hatinya luluh, aku tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa agar ia memaafkanku.

 

“Maafkan aku, maaf…aku benar-benar meminta maaf padamu Tuan Putri. Aku tidak ingin memutus pembicaraanmu, karena kudengar dari suaramu kau sepertinya sangat bersemangat membicarakan tentang pernikahan kita. Tapi kemarin aku sudah sangat lelah setelah seharian mengurus persiapan yang lainnya.” Kataku sedikit frustasi dengan sikapnya. Aku tidak kuat jika ia memperlakukanku seperti ini terus.

 

Jiyoung menatapku dengan tatapan hangatnya. Sepertinya ia tidak semarah tadi, meskipun napasnya masih terdengar tidak teratur. Ia menghela napas pelan.

 

“Tapi kau tahu kan aku sudah membuat janji pada pemilik butik itu untuk datang jam sembilan pagi. Kalau begini aku jadi merasa bersalah karena datang tidak tepat waktu.”

 

Perasaan bersalah semakin membelenggu dadaku saat mendengar kata-katanya. Wajahnya tampak kecewa dan sedih. Jiyoung memang tidak suka jika ada orang yang melanggar janji dengannya, maka dari itu ia berusaha untuk tidak melanggar janji dengan orang lain.

 

“Ya aku tahu. Tapi aku….”

 

“Sudahlah tidak apa-apa. ini bukan kesalahanmu sepenuhnya. Aku sudah melimpahkan semua urusan pernikahan padamu hingga kau lelah seperti ini dan sekarang aku malah marah-marah.”

 

Akhirnya Jiyoung membalas genggamanku dengan erat. Ia memberikan senyuman hangatnya untukku. Senyuman pertama yang kulihat pagi ini.

 

Tak berapa lama kemudian kami tiba di butik tempat Jiyoung ingin membeli gaun pernikahan untuknya. Yah, memang benar kami sangat terlambat. Sekarang sudah pukul sepuluh, dan sang empunya butik sepertinya agak bosan menunggu kedatangan kami. Aku tahu kerjaannya bukan hanya menungguku dan Jiyoung datang.

 

Jiyoung menggamit lenganku dengan manja dan kami berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis—si pemilik butik.

 

“Han ahjumma, mianhae kami terlambat. masih banyak yang harus kami siapkan dulu.” ujar Jiyoung berusaha untuk mnutupi kesalahanku di depan wanita yang dipanggilnya Han ahjumma itu.

 

“Oh tidak apa-apa, aku mengerti kesibukan kalian.” Ujarnya. “oya aku sudah mempersiapkan tiga gaun terbaikku. Silakan dilihat.” Lanjutnya. Jiyoung pun menarikku mengikuti di mana Han ahjumma menyimpan tiga gaun terbaiknya itu.

 

Dapat kulihat binar-binar di mata Jiyoung saat mendapati tiga gaun pengantin yang tampak anggun itu.

 

“Aku akan mencobanya, Oppa tunggu di sini dulu ya?”

 

Aku mengangguk sambil tersenyum dan membiarkannya berjalan menjauh dariku menuju kamar ganti. Tirai berwarna putih bersih itu tertutup rapat, menenggelamkan sosok manisnya di dalam sana. Aku menghela napas sejenak, entah kenapa jantungku berdetak sangat kencang selagi menunggunya selesai mencoba gaun.

 

Beberapa menit kemudian, tirai pun terbuka dan aku dapat melihat wajah cantik Jiyoung tersenyum ke arahku dengan gaun putih nan panjang. sungguh, aku seperti sedang melihat bidadari dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin kata-kataku memang terlalu berlebihan, tapi aku tidak bohong. Jiyoung sangat cantik dengan gaun itu.

 

“Bagaimana dengan yang ini Oppa?” tanyanya meminta pendapat dariku.

 

“Kau terlihat sangat cantik menggunakan gaun ini Jing…” ucapku kagum.

 

“aish~ masih ada dua gaun yang belum kucoba. Aku harus mencobanya dulu baru bisa memastikan mau pilih yang mana.” Ujarnya kembali menarik tirai putih itu hingga tertutup.

 

Dua gaun yang lainnya sudah dicobanya semua, dan tentu saja aku semakin terkagum-kagum melihatnya. Aku merasa bingung harus memilih gaun yang mana, karena ketiganya memang sangat cocok di tubuhnya. Namun kebingunganku malah membuat Jiyoung sedikit jengkel karena tidak bisa memilih gaun yang paling terbaik dari tiga yang terbaik tadi.

 

“Kau ini benar-benar tidak punya selera!” ketusnya sambil mengerucutkan bibir lagi. Dalam tiga jam terkahir, aku sudah membuatnya kesal hingga dua kali. Astaga Choi Minho, calon suami macam apa kau ini?!

 

“Mm…baiklah, sebenarnya aku sangat suka melihatmu menggunakan gaun yang pertama tadi.” Ujarku.

 

“Yang pertama? Tapi gaun itu terlihat sangat sederhana oppa.”

 

“Memang.” Jawabku singkat sambil tersenyum dan mencubit pipinya gemas. “Aku suka dengan penampilan sederhanamu. Dengan begitu kau akan terlihat lebih cantik.”

 

Jiyoung tersipu malu mendengar pujianku. Tapi tunggu dulu, aku sangat ingat kalau aku pernah mengucapkan kata-kata itu. tapi di mana? Kapan? Sepertinya aku sudah sering mengucapkannya.

 

Jiyoung melambaikan tangannya di depan wajahku membuatku sedikit tersentak. Alisnya menyatu dan tatapannya terlihat sedikit bingung.

 

“Oppa kau kenapa melamun?”

 

“A-aniyo, hanya saja…apakah aku sering mengucapkan kata-kata itu padamu?”

 

Kening Jiyoung semakin mengernyit mendengar pertanyaan anehku itu.

 

“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Ayo bayar gaunmu.”

 

Setelah selesai membayar gaun Jiyoung, kami pun keluar dari butik. Aku memang tidak membeli tuksedo untuk pernikahan nanti, karena ayahku akan memberikan tuksedonya saat pernikahannya dengan Eomma dulu kepadaku. Semoga saja tuksedo itu belum ketinggalan jaman, aku tidak ingin membuat beliau kecewa jika tidak menggunakannya.

 

Jiyoung kembali menggamit lenganku erat sambil tersenyum lebar. Ia terus mengoceh karena sudah tidak sabar dengan acara pernikahan kami yang akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak begitu mendengarnya karena entah kenapa saat ini mataku terpaku pada sesosok gadis yang sedang berjalan di seberang jalan. aku tidak dapat melihat wajahnya karena ia sedang memunggungiku. Rambut panjangnya yang cokelat kemerahan seakan mengingatkanku akan sesuatu, tapi aku tidak tahu itu apa. Caranya berjalan, postur tubuhnya, tinggi badannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini, tapi aku benar-benar merindukannya. Aku ingin memeluknya dan menghirup aroma rambut indahnya itu.

 

“OPPA!!! Kau tidak mendengarkanku lagi?!!!” bentakan Jiyoung berhasil membuatku mengalihkan pandanganku. Kali ini wajah manisnya terlihat sangat marah.

 

“Ne??”

 

“Ada apa denganmu hari ini? kau selalu membuatku kesal, apa yang sedang kau lihat tadi?” Jiyoung menyapukan pandangannya ke seberang jalan, memastikan apa yang baru saja kuperhatikan. Namun gadis itu sudah tidak ada.

 

“A-aku hanya melihat jalanan yang sepertinya sedikit ramai. Apa kita bisa tiba di rumah tepat waktu? Kau kan ingin cepat-cepat menunjukkan kepada ibumu gaun yang baru saja kau beli.” Dustaku. Jiyoung menyipitkan mata, seakan menyelidikiku. Namun sesaat kemudian—mungkin karena tidak dapat menebak apa yang sedang kulihat tadi—ia mengentakan kakinya keras dan membuka pintu mobil dengan kasar, lantas menutupnya lagi. Aku menggelengkan kepala. Jiyoung memang sedikit kekanak-kanakan, tapi aku sangat menyukai sifatnya itu meskipun aku merasa kewalahan untuk menanganinya.

 

~~~~~

Author PoV

 

Jiyoung berjalan memasuki rumah orangtuanya yang sebentar lagi akan  ia tinggalkan. Tentu saja gadis itu akan hidup dan tinggal bersama dengan Minho di apartemennya setelah mereka resmi menikah nanti.

 

Jiyoung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, hendak mencari sang ibu yang biasanya sedang bermalas-malasan di ruang tengah jika hari sudah siang seperti ini. dan benar saja, ia menatap sosok wanita paruh baya itu dengan senyum mengembang sempurna di wajah manisnya.

 

“Eomma, aku kembali!” pekiknya riang. Ia menarik lengan Minho dan memaksanya untuk menghampiri calon mertuanya tersebut.

 

“Kau sudah kembali? Mana gaun pengantinmu?”

 

Jiyoung mengambil tas besar yang sejak tadi ditenteng oleh Minho lalu mengeluarkan isinya. Ia menunjukkan gaun pilihan Minho dengan bangga.

 

“kenapa terlihat biasa sekali?” tanya Mrs. Kang dengan wajah kurang suka atas pilihan putri serta calon menantunya.

 

“Wae? Eomma tidak suka? Minho Oppa bilang aku akan terlihat cantik saat berpenampilan sederhana saja. Ya, kan?” Jiyoung menyikut lengan Minho hingga membuat pria itu sedikit tersentak. Wajahnya tampak sangat gugup. Jika tahu ibu Jiyoung tidak menyukai gaun pilihannya lebih baik tadi ia memilih gaun yang ketiga, dengan rok mekar panjang dan banyak hiasan mengkilap itu.

 

“Pernikahan pertama itu harus sangat berkesan. Jangan dibawa main-main.” Jelas wanita itu.

 

“Tapi aku mau yang ini!”

 

“Kalau begitu biar nanti aku tukar saja gaunnya eomonim.” Sela Minho.

 

Jiyoung menatap tunangannya itu dengan pandangan tajam. Sementara Minho hanya dapat menaikan alisnya tidak mengerti dengan maksud tatapan Jiyoung. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang memang sebenarnya tidak ada rasa gatal sama sekali.

 

“Tidak!!! Kita sudah membelinya kenapa harus ditukar? Lagipula yang mau menikah itu aku, bukan eomma.” Bentak Jiyoung. Sepertinya sifat keras kepalanya sedang datang, karena saat ini wajahnya sudah memerah dan rahangnya mengeras.

 

“Ah~ terserah kalian saja, Eomma tidak mau tahu lagi.” Ucap Mrs. Kang akhirnya mengalah. Sementara Jiyoung tersenyum senang atas kemenangannya.

 

“Lihat? Eomma sudah tidak mempermasalahkannya, jadi tidak perlu ditukar lagi.”

 

Minho dapat mendengar dengusan kesal dari calon mertuanya itu. ternyata sifat Jiyoung menurun dari ibunya. Dapat dilihat bahwa mereka berdua pasti sering tidak akur karena perbedaan pendapat.

 

~~~~~

Pintu lift di gedung apartemen Minho terbuka secara otomatis setelah sebelumnya terdengar bunyi dentingan pelan. Pria itu berjalan sambil memegangi lehernya yang terasa pegal. Seharian ini ia benar-benar sibuk dengan segala urusan pernikahannya nanti. Ia baru bisa keluar dari rumah Jiyoung pukul tiga sore setelah sebelumnya ditahan oleh gadis tersebut untuk tidak pulang. Dan setelah itu ia harus menyelesaikan biaya Hotel yang akan ia sewa, serta mempersiapkan konsep seperti apa yang akan dipakainya nanti.

 

Samar-samar, Minho mendengar suara tangis seorang anak kecil dari kejauhan. Langkahnya pun terhenti. Ia mengernyitkan kening, mencoba memperjelas pendengarannya. Kepala Minho menoleh ke kanan dan ke kiri serta ke belakang, lalu kembali lagi ke depan. Namun koridor apartemen itu tampak lengang, tidak ada seorang pun di sana.

 

Ia menggidikan bahu dan menggosok lengannya. Ketakutannya mulai datang ketika suara tangis itu semakin kencang sambil menyebutkan kata ‘Eomma’. Minho mengambil napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan untuk mengumpulkan segenap keberaniannya. Setelah yakin, ia mencoba memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya kembali menyusuri koridor yang membelok itu.

 

Dari kejauhan, Minho dapat melihat sebuah koper besar berwarna hijau tergelatak di depan pintu apartemennya. Ia memiringkan kepalanya dan terus melanjutkan langkahnya. Sepertinya suara tangisan itu berasal dari balik tas koper besar itu.

 

Dengan tangan gemetar, Minho mencoba menyingkirkan koper tersebut. dan benar saja dugaannya, seorang bocah dengan tangisnya yang memilukan sedang meringkuk mendekap lututnya yang mungil. Ia membenamkan wajah lucunya di balik kedua lengannya yang putih mulus.

 

Seketika itu juga, rasa takut Minho berubah menjadi rasa iba karena melihat keadaan anak itu. ia ikut berjongkok di hadapan bocah yang—mungkin—berumur sekitar tiga tahun tersebut, lalu menarik lengannya hingga kepalanya terangkat.

 

“Hey, kau kenapa? Mana ibumu?” tanya Minho lembut mencoba untuk menenangkan bocah itu. wajahnya tampak memerah dan lelehan lendir keluar dari kedua lubang hidungnya. Sebenarnya Minho merasa jijik, ia paling tidak suka dengan anak kecil, namun ia juga merasa kasihan dengan anak ini.

 

Mata besar bocah itu menatap Minho sejenak, tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah tampan Minho. Perlahan, isakannya mulai menghilang, dan koridor apartemen itu pun menjadi senyap. Mereka hanya saling menatap.

 

Minho merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya saat mata mereka bertemu. Ada perasaan hangat yang teramat sangat, seakan salah satu dari dua serpihan yang hilang dalam hatinya kembali dan menutupi kekosongan yang lain. Ia tidak tahu, sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sepanjang hari ini. ia pun merasakan hal yang sama saat melihat gadis berambut cokelat kemerahan itu di seberang jalan raya tadi. Namun saat sosok itu menghilang, kehangatan yang menjalari seluruh tubuhnya seakan ikut menghilang. Dan kekosongan itu kembali dirasakan Minho.

 

“Ap-pa?” bocah itu mengeluarkan suaranya yang serak. Sepertinya ia sudah menangis cukup lama di depan pintu apartemen pria itu.

 

Minho terkejut, ia membelalakan matanya tidak percaya mendengar seorang bocah kecil yang tidak dikenal memanggilnya ayah. Seumur-umur baru kali ini Minho dipanggil seperti itu, dan tentu saja ia sangat tidak suka. Siapa anak ini berani-beraninya memanggilnya dengan sebutan ayah?

 

Minho hanya ingin dipanggil ayah saat ia sudah menikah dan mempunyai anak dari Jiyoung nanti. Tapi bocah ini malah mendahuluinya.

 

“A-aku bukan Appamu,” ucapnya sedikit gugup. “Cepat katakan di mana ibumu, aku sedang lelah!”

 

Namun bocah itu tidak menghiraukan perkataan Minho dan malah berdiri. Ia menghampiri Minho lalu memegang pipi pria itu dengan tangan mungilnya yang dingin. Tangan itu sampai memerah saking dinginnya. Kemungkinan besar sudah satu jam lebih ia berada di sini. Tidak heran anak ini menangis, ia pasti takut dan kedinginan sendirian di sini. Udara musim gugur tahun ini sangat dingin.

 

“Appa…Appa…” panggilnya lagi.

 

Minho menyentakkan tangan mungil yang sedang menyentuh wajahnya itu dengan kesar, hingga bocah tersebut sedikit terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Ia menatap Minho terkejut dengan mata besarnya itu. perlahan suara isakan tangis yang sama seperti yang tadi kembali terdengar. Air mata membasahi pipi merah bocah itu.

 

“Ya, ya!! Kenapa menangis lagi? Aish~ kau benar-benar merepotkan!” Minho bangkit berdiri dan membuka pintu apartemennya. Ia hendak masuk meninggalkan anak itu, namun tangan mungilnya lagi-lagi menahan Minho. Ia menarik-narik ujung baju Minho dengan tatapan memelasnya, membuat Minho tidak tega untuk meninggalkannya sendirian di luar. Akhirnya—dengan berat hati—Minho mengijinkannya masuk.

 

Ia mendudukannya di sofa lalu mulai memeriksa koper besar yang ada bersama bocah itu di luar tadi. Ternyata koper tersebut cukup berat, tidak mungkin anak sekecil ini dapat menggeretnya. Pasti ada orang yang membantunya. Atau apakah ibunya sengaja melepaskannya di depan apartemen Minho?

 

Di dalam koper itu terdapat baju-baju dan celana-celana mungil yang Minho yakin itu pasti milik bocah ini. lalu ada beberapa mainan, handuk, sepatu, susu dan sejenisnya. Bahkan peralatan mandi seperti bedak, shampoo, sabun, dan pasta gigi anak-anak pun tersedia. Apakah ibunya yang mempersiapkan ini semua?

 

Tiba-tiba saja mata Minho tertuju pada sebuah amplop biru yang terselip di antara baju-bajunya. Amplop dengan warna biru langit itu sepertinya adalah pesan, atau sejumlah uang? Entahlah, Minho harus melihatnya terlebih dahulu.

 

Dan ternyata, itu adalah sebuah surat yang ditujukan untuk… Choi Minho?!

 

Minho terlonjak kaget. Jadi orangtua anak ini mengenalnya? Tapi siapa? setahunya ia tidak memiliki teman yang sudah mempunyai anak. Kalau keluarganya itu tidak mungkin, Minho mengenal mereka semua.

 

Perlahan, Minho mulai memberanikan diri untuk membaca pesan itu meskipun dadanya terasa bergemuruh hebat.

 

To: Choi Minho

Tolong jaga anak kita, jika bersamaku terus ia akan menderita. Aku tidak mempunyai uang untuk membesarkannya sendirian. Oya, aku sudah menyiapkan barang-barangnya di koper itu lengkap. Jika sudah habis, kau beli saja yang merknya sama seperti yang sudah kusiapkan. Karena kulitnya sensitif, ia akan alergi jika menggunakan merk yang lain. Nama anak kita Goo Yoogeun, tolong jaga dia dengan baik

GHR

 

Surat yang ada dalam genggaman tangan Minho terjatuh. Ia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang baru saja dibacanya. Lelucon macam apa lagi ini? apakah ini kerjaan teman-temanku untuk menyusahkanku sebelum aku menikah? Batinnya.

 

Mata Minho beralih untuk menatap bocah bernama Yoogeun itu. ia membalas tatapan Minho dengan mata polosnya. Jika diperhatikan dengan saksama mata, alis, serta hidungnya memang mirip dengan Minho. Sangat mirip malah. Tapi bibirnya…bibir itu seakan mengingatkannya dengan seseorang. Bibir itu seperti tidak asing lagi baginya. Apakah itu adalah bibir ibunya? Orang yang berinisial ‘GHR’ itu?

 

Tapi Minho yakin, sangat yakin bahwa ia tidak pernah menghamili seorang gadis. ia tidak pernah menyentuh gadis mana pun, bahkan Jiyoung tak pernah disentuhnya. Tapi anak siapa ini? apa hubungannya dengan Minho? Kenapa kemiripan di wajah mereka sangat jelas?

 

“Hey Goo Yoogeun, siapa nama ibumu? Di mana rumahmu? Biar kuantar kau pulang!” ujar Minho memecah keheningan.

 

Namun Yoogeun tetap bungkam, sepertinya ia tidak berani menjawab pertanyaan Minho yang terdengar kasar itu.

 

“A-appa…lapar…” kata Yoogeun akhirnya setelah ruangan hening selama beberapa menit. Minho menatapnya yang sedang memegang perut laparnya.

 

“Aish! Kau benar-benar menyusahkan!” umpatnya sebelum akhirnya beranjak ke dapur untuk membuatkan bocah itu segelas susu.

 

………..

 

Minho menatap wajah polos yang sedang tertidur dengan nyenyaknya di atas sofa hanya dengan berbalutkan sebuah selimut kain tipis. Padahal udara sedang dingin-dinginnya. Ia merasa bocah ini benar-benar sangat merepotkan dirinya. Tentu saja Minho merasa kasihan padanya, tapi ia juga belum dapat menerima kenyataan yang sekarang sedang dihadapinya.

 

Berkali-kali Minho membaca surat yang ia temukan di tas Yoogeun, namun tetap saja ia tidak mengenali tulisan tangan itu. ia benar-benar bingung saat ini. bulan depan adalah hari pernikahannya dengan Jiyoung, bahkan Jiyoung sama sekali tidak mengetahui keberadaan anak ini. entah apa yang akan dilakukan calon istrinya itu jika ia tahu bahwa Yoogeun adalah anak Minho. meskipun itu belum pasti seratus persen, tapi tetap saja saat ini ia harus menyembunyikan Yoogeun dari Jiyoung.

 

Minho mengusap wajahnya berkali-kali. Ia frustasi. Ia sudah lelah mengurus pernikahannya dengan Jiyoung, dan sekarang ia juga harus mengurus seorang anak kecil. Apakah ia harus membawa Yoogeun ke panti asuhan? Minho belum bisa menerima jika Jiyoung tahu kenyataan ini dan gadis itu ingin pernikahan mereka dibatalkan. Minho sangat takut kehilangan Jiyoung.

 

~~~~~

tirai jendela kamar Minho terbuka dengan lebarnya, membuat cahaya matahari pagi membias masuk dan menyilaukan mata bulat pria itu. Minho menggeliat kecil, sedikit kesal karena tidurnya terganggu. ia mengerang pelan membenamkan wajahnya di atas bantal.

 

Terdengar suara langkah kaki mungil yang mendekat ke arah tempat tidurnya. Minho merasakan selimutnya ditarik paksa hingga udara dingin menyentuh kulit hangatnya. Sebuah tangan kecil menyentuh pipinya.

 

“Appa…ireona!” ucap suara lembut itu.

 

Sesaat Minho tertegun, tidak dapat bergerak sama sekali. Jadi semalam itu bukan mimpi? Batinnya sedikit merasa kecewa. Ia berharap semua yang ia alami ini hanya mimpi semata, tapi ternyata tidak. Ini adalah kenyataan yang harus ia jalani.

 

Minho membalikan tubuhnya menatap mata bulat Yoogeun dengan matanya yang masih menyipit karena sinar matahari. Senyum hangat Yoogeun menyambutnya dengan ramah. Kali ini bocah itu mengguncang tubuh Minho pelan.

 

“Kajja Appa ireona…aku lapar…” ucapnya polos.

 

Sekali lagi, Minho menggeram pelan. Ia melirik jam, dan ternyata baru pukul setengah delapan pagi. Padahal ia berencana ingin bangun jam sembilan nanti. Yoogeun sudah membuat waktu tidurnya berkurang.

 

“Aish~ kau selalu menggangguku!! Sudah kubilang juga kan, jangan pernah memanggilku Appa?! Aku bukan Appamu!!!” bentak Minho keras membuat Yoogeun sedikit terkejut. Bocah itu memundurkan tubuhnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bibir tipisnya melengkung ke bawah dengan gemetar, siap mengeluarkan tangisan keras yang sudah di ujung lidah.

 

Minho mulai panik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengelus rambut mulus Yoogeun dengan gerakan kaku. Mencoba untuk menenangkan bocah itu agar tidak menangis dan membuat gendang telinganya pecah.

 

“Ya..ya..jangan menangis…aku tidak bermaksud memarahimu. Aish~ kau mau makan apa? Biar kubuatkan.” Ucap Minho.

 

Namun sia-sia usahanya, karena tangis Yoogeun pecah dan membuat seisi kamarnya dipenuhi oleh suara tangisannya. Minho meraih tubuh mungil Yoogeun lalu menggendongnya, membawanya turun dari tempat tidur lantas keluar dari kamar.

 

“Aigoo…jangan menangis, kau membuat telingaku sakit.” Ucapnya frustasi. “Baiklah, baiklah. Kau mau makan apa?”

 

Baru saja Minho akan melangkahkan kakinya menuju dapur, namun bel apartemen pria itu berbunyi beberapa kali. Ia berjalan menuju monitor yang berada di sebelah pintunya, lalu memeriksa sang tamu yang sedang menunggu di luar sana.

 

Seketika tubuh Minho terpaku menatap sosok gadis yang sekarang sedang tersenyum ke arah kamera di depan pintu Minho.

 

“Oppa…cepat bukakan pintu!” ujarnya dengan suara riang.

 

Mendengar suara Jiyoung, Minho pun mulai bergerak cepat. ia berlari ke sana dan kemari untuk mencari tempat agar dapat menyembunyikan Yoogeun dari Jiyoung. Tangannya menutup mulut bocah kecil itu agar tangisnya tidak terdengar sampai ke luar.

 

Ya Tuhan…di mana aku harus menyembunyikan anak ini? batinnya panik.

 

==TBC==

Advertisements