Title: Can’t I Love?

Inspiration: My Love By My Side (K-Drama)

Author: Seul95

Length: Long Chapter

Genre: Romance, Family, Pregnancy, Marriage

Rating: PG-15

Casts:

–          Seo Joohyun as Seohyun

–          Jung Yonghwa as Yonghwa

–          Cho Kyuhyun as Kyuhyun

–          Go Ara as Cho Ara

Summary: di umur yang masih sangat muda, seorang Seo Joohyun harus melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu tanpa ada suami di sampingnya.

edit cover cant i love (yongseo) 3

Seohyun berjalan dengan tatapan kosong tidak bersemangat. Setelah mendengar ancaman anak buah Nyonya Go padanya tadi ia jadi tidak ingin masuk kuliah dan bertemu dengan Kim Sonsaengnim yang hanya akan membuat kepalanya semakin berdenyut dengan tugas yang diberikan. Baru saja kemarin gadis itu menyelesaikannya, masa sekarang ia sudah mendapat tugas yang bahkan membutuhkan waktu dua minggu lebih untuk menyelesaikannya?

 

Lama ia berjalan tanpa arah hingga matanya mendapati sebuah selebaran yang ditempel pada dinding jalan.  Seohyun menghentikan langkahnya dan mencabut selebaran itu untuk melihat dan membaca setiap kalimat dengan jelas.

 

LOWONGAN PEKERJAAN.

 

Dua kata yang bercetak besar itu yang membuat perhatian Seohyun teralih. Ia membutuhkan pekerjaan ini, gaji yang ditawarkan juga lumayan. Setidaknya ia bisa mencicil dengan gaji itu. enam atau delapan bulan mungkin bisa membuat hutangnya pada Nyonya Go lunas.

 

Memang yang dibutuhkan adalah pegawai dengan kemampuan tinggi dibidangnya, dan menurut Seohyun yang penting ada kemauan ia pasti bisa masuk perusahaan itu.

 

Gadis tersebut tersenyum dan berjalan menuju perusahaan besar yang sedang membutuhkan beberapa pegawai baru itu. ia harus bisa masuk ke perusahaan itu untuk membantu keuangan ibunya yang sudah banyak menderita untuknya dan Nami.

 

~~~~~

Nyonya Cho menurunkan kaca jendela mobilnya sambil memerhatikan Ibu Seohyun yang sedang menggandeng cucunya memasuki sebuah rumah sederhana. Mereka terlihat sangat bahagia, sungguh tidak akan ada yang percaya bahwa beberapa tahun yang lalu mereka menghadapi masalah sulit. Senyuman itu seakan tidak ada beban sama sekali, wajah putri kecil tersebut pun sangat ceria. Seakan-akan kehidupannya sudah sangat normal hanya dengan tinggal bersama Ibu dan Neneknya, tanpa seorang Ayah yang mendampinginya.

 

Nyonya Cho memegang erat kemudi mobilnya. Gemeretak giginya terdengar keras dan rahang kurusnya menegang ketika ia memikirkan bahwa mungkin saja gadis kecil itu adalah cucunya. Cucu yang dulu telah ia buang dan menginginkannya mati agar tidak merusak nama baik keluarganya.

 

Tak perlu dipertanyakan lagi, garis wajah gadis mungil tersebut sangat mirip dengan Kyuhyun. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal, bibirnya yang tipis. Astaga, apakah ia adalah replika dari wajah Kyuhyun?

 

Nyonya Cho merasakan kepalanya berdenyut. ia memijatnya pelan sambil memejamkan mata. Entah kenapa rasa bersalah tiba-tiba menyergap dirinya. ia telah membuang anak Kyuhyun, telah membuang cucunya. Darah keluarga Cho mengalir di dalam tubuh gadis kecil itu.

 

Setelah beberapa lama ia hanya berdiam di dalam mobil untuk merenungkan semuanya, dan menenangkan pikiran, akhirnya Nyonya Cho memutuskan untuk menjalankan mobil. Mungkin besok ia akan kembali ke sini lagi untuk mencari tahu lebih dalam. Meskipun wajahnya mirip Kyuhyun tapi tentu saja ia butuh kepastian yang benar.

 

~~~~~~~

 

Seohyun berjalan pulang menuju rumahnya dengan perasaan senang yang teramat sangat. Tidak disangka ia langsung diterima untuk bekerja hanya dengan sekali wawancara. Jadi besok siang Seohyun diminta kembali ke perusahaan tersebut untuk memulai awal kerja. Untungnya pula gadis itu mendapat waktu kerja di siang hari, jadi tidak bentrok dengan jadwal kuliahnya. Sungguh tidak dapat dipercaya, dari puluhan orang yang mendaftarkan diri menawarkan jasa mereka, hanya dirinya dan lima orang lainnya yang diterima. Bukankah itu seperti sebuah keajaiban? Bahkan Seohyun tidak pernah mempunyai pengalaman kerja sebelumnya di bidang itu.

 

Gadis berambut panjang tersebut memasuki pagar rumahnya dengan wajah sumringah. Ia tidak sabar untuk memberitahu kabar gembira ini kepada ibunya, tapi tentu saja ia harus memberitahu kabar buruk tentang batas waktu pelunasan yang diberikan oleh Nyonya Go.

 

“Eomma…aku pulang…” pekik Seohyun saat memasuki rumah dan mendapati sang ibu sedang menyiapkan makan malam. Mendengar suara ibunya, dengan bersemangat Nami berlari ke luar kamar dan melompat ke gendongan Seohyun.

 

“Eomma…wasseo!” ujar Nami sambil melingkarkan tangannya pada leher Seohyun.

 

“ne…apa kegiatanmu bersama Halmeonni tadi?” tanya Seohyun. ia menurunkan putri kecilnya dan mereka pun duduk di lantai sambil menumpukan tangan di atas meja makan.

 

“tadi aku dan Halmeonni pergi untuk berbelanja, lalu aku bertemu dengan Ahjumma baik hati yang memberikanku permen!” ujar Nami. Senyum ceria tak pernah luput dari wajah cantiknya.

 

“benarkah? Siapa Ahjumma itu? kau sudah mengucapkan terima kasih padanya?”

 

Nami mengangguk cepat. “ne Eomma…tapi aku tidak tahu siapa namanya.”

 

“ah…sayang sekali. tapi tidak apa-apa, yang penting kau sudah berterimakasih pada Ahjumma itu.”

 

Percakapan mereka terputus sampai di situ ketika Nyonya Seo menyajikan makan malam di atas meja. Aromanya yang nikmat membuat perut Seohyun berbunyi, tidak sabar untuk menyantapnya.

 

“makan dulu, kau pasti lapar kan?” ujar Nyonya Seo. Ia mengambilkan Nami dan Seohyun semangkuk nasi, lalu menyerahkan pada kedua orang itu.

 

“Eomma…” panggil Seohyun saat mereka sedang menyantap makan malam sederhana itu.

 

“waeyo?”

 

“Hmm…sebenarnya tadi aku tidak pergi ke kampus…”

 

“ye??? Kenapa?” Nyonya Seo memotong kalimat Seohyun dengan wajah terkejut karena selama ini Seohyun memang tidak pernah membolos kecuali jika ia sedang sakit.

 

“tadi saat aku dalam perjalanan ke kampus dua anak buah Nyonya Go mencegatku. Mereka menagih uang yang kita pinjam. Jika tidak dilunasi secepatnya mereka akan mencelakai Nami, aku tidak mau itu terjadi. Jadi aku memohon agar diberi waktu lebih panjang lagi, dan akhirnya Nyonya Go setuju. Kita hanya punya waktu satu bulan untuk melunasinya.” Jelas Seohyun. ia mengambil napas dalam dan mengembuskannya dengan keras.

 

“tapi Eomma tidak perlu kuatir, karena sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Gajinya cukup untuk mencicil hutang itu selama satu tahun, atau mungkin kurang dari satu tahun.”

 

“lalu bagaimana dengan kuliahmu? Eomma tidak mau pekerjaan itu mengganggu kuliahmu. Bagaimana jika nilai-nilaimu menurun?” ujar Nyonya Seo tampak tidak setuju dengan keputusan Seohyun untuk kerja sambilan kuliah. “kau tidak perlu melakukan itu, biar Eomma saja yang bekerja!”

 

Seohyun menggeleng cepat. “aniyo Eomma, biar aku saja. jika Eomma yang bekerja siapa yang akan menjemput dan menjaga Nami saat pulang sekolah? Sedangkan aku pulang kuliahnya saja siang. Lagipula Eomma juga bekerja kan? Eomma membuat pesanan Kimchi dan bisa mengajarkan Nami cara membuat Kimchi sama seperti saat Eomma mengajariku dulu.”

 

Gadis itu terus mencoba untuk meyakinkan ibunya agar ia diberikan ijin bekerja sambil Kuliah. tidak sia-sia usahanya, akhirnya dengan berat hati Nyonya Seo menyetujuinya. Tapi tentu saja dengan satu syarat. Kuliahnya tidak boleh terbengkalai oleh pekerjaannya itu.

 

~~~~~~

Seohyun mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan seniornya di perusahaan besar tempatnya bekerja. Ini adalah hari pertama Seohyun memulai pekerjaannya dengan lima orang pegawai yang diterima. Tapi sayangnya mereka tidak berada dalam satu departemen. Hyeseul ditempatkan di bagian keuangan.

 

Gadis itu mengikuti langkah kaki sang senior menuju ruangan yang akan menjadi tempatnya bekerja nanti. Sungguh Seohyun benar-benar gugup bekerja di perusahaan besar seperti ini. meskipun gajinya juga besar, tapi tanggung jawabnya pun juga sangat besar.

 

“nah Seo Joohyun-ssi, ini adalah ruangan kantor kita.” Ujar Senior Hong memperlihatkan sebuah ruangan yang terlihat rapi dan nyaman. ada sekitar belasan pegawai yang bekerja di bagian keuangan ini termasuk Senior Hong. Dan sekarang menjadi bertambah karena kehadiran dirinya.

 

“oh iya, karena kau pegawai baru kau harus mempunyai seorang mentor.” Lanjut Senior Hong. “Jung Yonghwa ssi!!” panggilnya membuat seorang laki-laki yang sedang sibuk dengan komputer di hadapannya menoleh.

 

“ada apa Sunbae?” tanya pria itu setelah menghampiri Senior Hong.

 

Seohyun yang menyadari bahwa Yonghwa adalah pria yang telah menjadi ‘korbannya’ akibat batu yang ia lempar, hanya bisa bersembunyi di balik tubuh sang senior. Ia menggigit bibirnya keras sambil meringis kesal. Kenapa ia harus dipertemukan dengan pria satu ini lagi?

 

“Yonghwa ssi, aku ingin kau yang menjadi mentor untuk pegawai baru kita selama satu bulan ini. tolong kau jelaskan semua hal yang belum ia mengerti tentang pekerjaan ataupun peraturan perusahaan kami.” Jelas Senior Hong.

 

Yonghwa mengangguk patuh. “Ye Sunbae.”

 

“Seohyun ssi, mulai sekarang mentormu adalah Jung Yoghwa.” Senior Hong menggeser tubuhnya dan membiarkan mata mereka saling bersitatap. Seketika itu juga Yonghwa membelalakan matanya selebar mungkin, terkejut dengan Hoobae-nya yang ternyata adalah orang yang telah membuat kepalanya mendapat empat jahitan. Bahkan sampai sekarang kening pria itu masih diperban karena ulah Seohyun.

 

“Kau!!!” pekiknya tak percaya.

 

Sementara Seohyun hanya tersenyum terpaksa dengan wajah kaku. “a-annyeonghaseyo Yonghwa ssi…” sapanya gugup.

 

Senior Hong menatap keduanya dengan alis terangkat bingung. “kalian sudah saling mengenal? Hmm….baguslah, jadi tidak akan merasa canggung satu sama lain. Aku tinggal dulu, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

 

“ta-tapi Sunbae….” Yonghwa tidak dapat meluncurkan kalimat protesnya karena senior Hong sudah berjalan meninggalkan mereka dan kembali ke meja kerjanya. Pria yang berumur sekitar akhir tiga puluhan itu mulai sibuk dengan pekerjaannya dan Yonghwa jadi merasa tidak enak untuk mengganggunya lagi.

 

Ia menatap Seohyun dari atas hingga bawah dengan tatapan dingin, lantas mengembuskan napas keras.

 

“hey gadis miskin, apa kau mau menguntitku?!” tanya Seohyun ketus.

 

“mwo??? menguntit??? Kau tidak lihat kalau aku ke sini untuk bekerja?!” balas Seohyun mulai kesal dengan kata-kata Yonghwa yang dianggapnya keterlaluan.

 

“tapi kenapa harus di sini? Kau pasti menguntitku!”

 

“ya! Dengar yah Tuan Jung Yonghwa yang terhormat, aku ke sini hanya untuk bekerja. Mana aku tahu kau juga bekerja di sini dan di bagian keuangan. Lagipula apa untungnya bagiku mau menguntitmu? Mungkin kalau kau adalah si aktor Won Bin aku akan menguntitmu sampai ke ujung dunia sekalipun, tapi lihat dirimu! Kau siapa?!” nada suara Seohyun mulai meninggi mendengar tuduhan-tuduhan Yonghwa yang tak beralasan, dan membuat pegawai yang lain menatap mereka dengan bingung. Bahkan Senior Hong pun ikut menatap kedua orang itu. untungnya sedang tidak ada manajer Park, karena saat ini pria itu sedang mengantarkan laporan ke atasan mereka.

 

“Ya,Ya!!! Jika kalian ingin bermain-main bukan di sini tempatnya, sekarang waktunya untuk bekerja. Aku tahu kalian sudah mengenal satu sama lain, tapi hargailah kolega lain yang sedang bekerja juga.”

 

Mendengar ucapan Senior Hong, akhirnya Seohyun dan Yonghwa pun terdiam—merasa malu. Keduanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

 

“hmm…Yong-Yonghwa ssi, meja kerjaku di mana?” tanya Seohyun pelan.

 

Andai saja orang di depannya ini bukan mentor sekaligus seniornya, mungkin sekarang ia sudah membentaknya habis-habisan. Enak saja mengatakan dirinya seorang penguntit.

 

“ikut aku!” ujar Yonghwa masih dengan nada ketusnya. Mereka melewati beberapa meja kerja kolega lain, dan akhirnya berhenti pada meja paling ujung.

 

“ini tempatmu, jika ada yang belum jelas tanyakan saja padaku.”

 

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Yonghwa pun duduk di kursi meja kerjanya.

 

“ya,ya! Kenapa kau duduk di sini?” bisik Seohyun menatap Yongwa tidak suka.

 

“ini meja kerjaku, memangnya kau tidak lihat tadi?!”

 

Seohyun terdiam, menunduk, lantas kembali merutuk di dalam hati. Sungguh sial nasibnya harus selalu berdekatan dengan Yonghwa yang menurutnya sangat menyebalkan ini.

 

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang, dan itu berarti sekarang adalah waktunya jam makan siang. Seohyun membereskan meja kerjanya yang penuh dengan berkas-berkas perusahaan. Baru hari pertama masuk kerja saja ia sudah harus menyelesaikan pekerjaan sebanyak ini. dan sepertinya ia akan pulang terlambat nantinya. Semoga Nami tidak merengek-rengek pada ibunya karena ingin bertemu dengannya.

 

Setelah yakin semuanya sudah tertata kembali dengan rapi, Seohyun pun bangkit dari kursi bersiap-siap pergi menuju kantin. Tapi tunggu dulu, di mana letak kantinnya? Saat berkeliling tadi senior Hong tidak memberitahukan letak kantin, mungkin karena ia juga sedang sibuk jadi tidak ada waktu untuk membawa Seohyun ke sana dan hanya memberitahukan lokasi-lokasi yang dianggap perlu untuk urusan pekerjaan saja.

 

Yonghwa menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya. Ia tidak menatap Seohyun, pandangannya lurus ke depan dan ekspresi wajahnya terlihat angkuh. Hal itu membuat Seohyun merasa ingin melemparnya dengan high heels super tinggi yang membuat kakinya seperti mau patah.

 

“tunggu apa lagi? Kau tidak tahu letak kantinnya kan?” ujar Yonghwa membuka suara karena sejak tadi Seohyun hanya menatapnya dengan pandangan kesal.

 

Tanpa menunggu jawaban gadis itu Yonghwa pun melanjutkan langkahnya, sementara Seohyun mengikutinya dengan kaki mengentak-entak dan mengundang beberapa pasang mata yang menatapnya aneh. Tidak dipedulikan lagi tumit kakinya yang hampir remuk karena high heels sialan ini, rasa kesal itu mengalahkan rasa sakitnya.

 

Mereka keluar dari lift tanpa ada percakapan sejak tadi. Namun saat Seohyun mengikuti Yonghwa untuk berbelok ke kanan, tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Tanpa sadar ia menahan napasnya ketika melihat sosok itu. Seohyun memang tidak yakin jika yang dilihatnya adalah pria itu, tapi ia memang sangat mirip dengan Kyuhyun. Si Pria-berwajah-mirip-Kyuhyun itu langsung menghilang di dalam lift yang berjarak beberapa meter dari dirinya, maka dari itu Seohyun tidak sempat meyakinkan dirinya apakah itu benar-benar Kyuhyun atau bukan.

 

Yonghwa menoleh ke belakang saat dirasanya Seohyun tidak mengikuti langkahnya lagi. Ia menatap heran pada gadis yang sekarang terlihat seperti patung itu. dan dengan malas menghampirinya.

 

“ya!! Ada apa denganmu? Kau habis melihat hantu?!” tanyanya dengan nada kasar membuat Seohyun terkejut setengah mati. Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati Yonghwa telah berdiri di hadapannya—lagi-lagi dengan wajah menyebalkan itu.

 

“oh…ti-tidak apa-apa. ayo kita jalan lagi!” ujarnya gugup. tanpa sadar ia menarik tangan Yonghwa.

 

“hey! Aku bisa jalan sendiri, lepaskan tanganmu!”

 

Seohyun terlonjak kaget, ia menarik tangannya dari lengan Yonghwa secepat mungkin dan menunduk malu. Akhirnya pria itu jalan lebih dulu, dan Seohyun mengekorinya di belakang—sama seperti posisi mereka tadi. Tapi sepertinya suasana berubah menjadi semakin canggung. Apalagi bayangan si pria-berwajah-mirip-Kyuhyun sudah mengganggu pikirannya, dan ia tidak bisa fokus lagi mengerjakan segala pekerjaan yang dilimpahkan padanya.

 

~*~TBC~*~

Advertisements