Title: Can’t I Love?

Inspiration: My Love By My Side (K-Drama)

Author: Seul95

Length: Long Chapter

Genre: Romance, Family, Pregnancy, Marriage

Rating: PG-15

Casts:

–          Seo Joohyun as Seohyun

–          Jung Yonghwa as Yonghwa

–          Cho Kyuhyun as Kyuhyun

–          Jessica Jung as Jessica

–          Go Ara as Cho Ara

Summary: di umur yang masih sangat muda, seorang Seo Joohyun harus melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu tanpa ada suami di sampingnya.

edit cover cant i love (yongseo) 3

Gadis muda itu berjalan dengan tatapan kosong, membiarkan angin dingin pada malam hari menusuk kulitnya hingga menembus tulang. pikiran Seohyun kembali melayang pada pertanyaan Ara beberapa saat lalu. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia masih sering memikirkan serta menanyakan keadaan Kyuhyun pada Ara. Cinta itu tak akan dengan mudahnya hilang. Perasaan sayang masih tersimpan dengan rapi di sebuah tempat paling tersembunyi di sudut hatinya. Namun ketika mengingat awal dari kepedihan dimulai membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.

 

Ia ingin membenci Kyuhyun, membenci pria yang telah menorehkan luka yang masih menganga hingga sekarang di hatinya. Namun ia tidak sanggup. Keberadaan Nami menyulitkan dirinya untuk mengendalikan perasaannya sendiri. Seo Nami, bocah berusia lima tahun itu seperti cetakan versi perempuan dari wajah Kyuhyun. Sifat merekapun tak jauh berbeda. Tatapan tajam Nami mengingatkan tatapan tajam Kyuhyun padanya ketika pria itu meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar mencintai Seohyun dengan segenap hatinya.

 

Langkah gadis tersebut terhenti ketika melihat sebuah batu tepat di ujung kakinya. Ia kembali teringat dengan kata-kata gombal Kyuhyun saat menyatakan perasaan kepadanya tujuh tahun yang lalu.

 

‘perasaanku sekokoh batu ini, meskipun telah terinjak, terkena hujan dan panas, ia tetap utuh. Tak banyak berubah dari bentuk awalnya.’

 

Terdengar desahan napas berat dari bibir mungil gadis itu. ia menundukkan tubuhnya dan berjongkok, meraih batu sebesar genggaman tangannya. Ditatapnya batu itu dengan dada sesak dan pandangan mengabur. Ketika emosi memuncak begitu saja dalam dirinya, ia berdiri dan melempar batu itu ke sembarang tempat. Dipikirnya sudah tak ada orang lagi di daerah itu, namun dugaannya salah. terdengar erangan keras ketika suara benturan batu berbunyi satu detik sebelumnya.

 

Seohyun mengangkat kepalanya dan mendapati seorang lelaki sedang menunduk, memegangi kepalanya yang baru saja terkena lemparan batu Seohyun, berdiri dengan jarak lima meter dari hadapannya. bergegas gadis itu menghampiri dan dengan wajah panik menanyakan keadaannya.

 

“kau tidak apa-apa? maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja….” ujar Seohyun merasa sangat bersalah. Ia membungkukkan tubuh berkali-kali.

 

Perlahan namun pasti, kepala pria yang menjadi korban lemparan batu Seohyun itu terangkat, lalu menatapnya dengan wajah meringis. Dapat ia lihat cairan kental berwarna merah pekat mengalir melintasi wajah pria itu. tentu saja Seohyun terperanjat.

 

“a-anda berdarah!” pekiknya semakin panik.

 

~~~~~~~~~~

seorang pria keluar dari ruangan gawat darurat dengan perban melingkar di kepalanya. Untung saja tidak terjadi hal parah padanya akibat batu yang dilempar Seohyun.

 

Sementara gadis itu menghampiri pemuda yang saat ini hanya dapat menatapnya dengan kesal. Ia berkacak pinggang sambil berdecak keras.

 

“ma-maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja! Aku pikir tadi tidak ada orang.” Ujar Seohyun lagi dengan suara memelas. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia mengucapkan kalimat itu.

 

“kau pikir hanya dengan minta maaf bisa membuat kepalaku kembali pulih? Karena ulahmu aku mendapat empat jahitan. Kalau terjadi apa-apa padaku memangnya kau mau bertanggung jawab?! Bagaimana kalau aku amnesia dan tidak mengenal siapa keluargaku?” ucap pria itu panjang lebar.

 

Seohyun hanya terdiam di tempatnya sambil menundukkan kepala. Lagi-lagi ia telah berbuat ceroboh karena memikirkan Kyuhyun. Seohyun kira masih mengingat serta mengenang masa lalunya dengan pria yang pernah ia cintai itu adalah sebuah kesialan baginya.

 

“kenapa diam saja?!” bentak pemuda yang sepertinya mulai emosi.

 

“n-ne?”

 

“ayo bayar tagihan rumah sakitnya!!”

 

Seohyun tercekat. Sungguh ia benar-benar lupa membawa dompet. Gadis itu baru menyadarinya saat sudah di kampus tadi. Bagaimana ia bisa membayar tagihan rumah sakit kalau begini caranya?

 

“hmm…chogiyo…sebelumnya boleh aku tahu namamu?” tanya Seohyun hanya untuk mengulur-ulur waktu. ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada korbannya. Bisa-bisa ia diseret ke kantor polisi.

 

“Jung Yonghwa.” jawab pemuda tersebut singkat.

 

“oh…jadi begini Jung Yonghwa ssi, sebenarnya tadi saat aku melempar batu aku tidak tahu kau berada di sana. Aku baru saja pulang kuliah dan sedang terburu-buru pulang ke rumah….”

 

“hey Nona muda, sebenarnya kau mau membicarakan apa? kalau ingin mengucapkan sesuatu langsung saja, aku juga harus cepat pulang.” Potong Yonghwa tidak sabaran.

 

Seohyun menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya kepada pria ini.

 

“hmm…sebenarnya…aku tidak membawa uang sama sekali. dompetku tertinggal di rumah.” Seohyun berusaha menenangkan detak jantungnya yang menderu kencang, namun ketika tatapan Yonghwa menajam seakan mengulitinya ia malah semakin tidak dapat mengendalikan diri. Dapat dirasakan tubuhnya bergetar. Sungguh yang ia takutkan hanya jika diseret ke kantor polisi.

 

“kau mau menipuku?” tanya Yonghwa dingin.

 

Seohyun menggeleng cepat, ia sudah tidak sanggup mengeluarkan suara. Hingga dirasakannya Yonghwa merampas tas yang tersampir di bahu kanannya dan mulai menggeledah isinya. Dengan susah payah Seohyun ingin mengambil kembali tasnya, namun usahanya menjadi sia-sia karena tubuh Yonghwa jauh lebih tinggi dari dirinya.

 

“ah…kau benar-benar tidak punya uang sama sekali? apakah kau semiskin itu?” ucap Yonghwa dengan nada merendahkan.

 

“sudah kubilang, dompetku tertinggal!”

 

Yonghwa kembali menggeledah isi tas Seohyun berharap gadis itu menyembunyikan beberapa lembar uang di tasnya, namun hasilnya tetap saja nihil. Hingga pada akhirnya Yonghwa menemukan sebuah diary. Ia membuka diary itu dan mendapati kartu tanda pengenal Seohyun yang diselipkan di sampul dalam diary tersebut.

 

“baiklah, aku yang akan membayar tagihan rumah sakitnya, tapi kartu pengenalmu kutahan. Tentu saja kau harus mengganti uangku dan waktu yang terbuang hanya karena lemparan batu konyolmu itu!” ujar Yonghwa sebelum akhirnya melempar tas serta diary tersebut kepada sang pemilik, lantas ia berjalan meninggalkan Seohyun.

 

Sementara gadis itu hanya dapat tercengang di tempatnya, masih memikirkan kalimat Yonghwa. jika KTP-nya berada di tangan Yonghwa, lalu bagaimana jika ada suatu keperluan penting yang harus menggunakan KTP?

 

~~~~~~~~~~~~

Ara memasuki rumah mewahnya tidak bersemangat. Saat ayahnya meneleponnya bahwa kakak laki-lakinya sudah pulang dari Amerika dan membawa sang istri, ia dengan sengaja tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke pusat perbelanjaan. Demi apapun Ara sangat tidak suka dengan istri Kyuhyun. Ingin sekali rasanya ia menjambak serta mencakar wajah cantiknya ketika dengan sengaja perempuan itu bermanja-manja pada Kyuhyun di depan matanya. Tidakkah sangat keterlaluan jika ia mencium suaminya di depan mertua serta adik iparnya sendiri? Apakah ia tidak pernah diajarkan sopan santun di Amerika sana?

Awal melangkahkan kaki di ruang tengah ia sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya muak. Kyuhyun, Jessica, Ayah, dan Ibunya sedang menonton bersama di sana. Ara yakin kakeknya pasti sudah berada di dalam kamar sekarang. Namun yang membuat Ara muak adalah tingkah Jessica saat bersama Kyuhyun. Bagaimana bisa ia menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun sambil memeluk perutnya sementara kedua mertua sedang duduk di hadapannya? Ara yakin, sebenarnya Ayah dan Ibunya merasa risih, namun mereka tidak enak untuk mengungkapkannya. Atau mungkin mereka tidak mau membuat Jessica merasa sulit beradaptasi di lingkungan keluarga ini jika harus mengubah kebiasaannya di Amerika.

 

“oh…Ara kau pulang?” ujar Kyuhyun yang menyadari lebih dulu kehadiran Ara.

 

Gadis itu menatap kakaknya sekilas, lantas berjalan menuju kamarnya di lantai dua tanpa menyambut sapaan itu. Kyuhyun mengerutkan kening lalu menyusul Ara ke kamar. ia mengetuk pintu kamar beberapa kali untuk meminta ijin masuk hingga mendapat sahutan dari dalam. Perlahan, tangannya mendorong gagang pintu hingga terbuka dan mendapati Ara sedang mengeluarkan isi tas belanjaannya.

 

“kau pulang terlambat karena mau belanja dulu?” tanya pria itu lembut. Memang Kyuhyun sangat menyayangi Ara dan berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan adiknya itu sejak dulu, namun tetap saja mendapatkan respon dingin. Ia tahu Ara tidak menyukai dirinya karena iri, namun ia juga tidak tahu sekarang Ara semakin tidak menyukainya karena menikahi prempuan bernama Jessica Jung itu.

 

“kau tidak mau mengucapkan selamat datang pada Oppamu?” tanya Kyuhyun lagi karena tak mendapatkan respon apa-apa dari Ara.

 

“Ara, jangan seperti ini. kita sudah lama tidak bertemu dan kau masih saja iri dengan Oppa?”

 

Ara menghentikan kegiatannya yang sedang mengamati sebuah gaun putih selutut yang baru ia beli. Matanya menatap tajam ke arah Kyuhyun.

 

“kau masih berpikiran aku iri padamu?” ujarnya dingin, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Namun beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu.

 

“Oppa…apakah kau tidak mencintai Seohyun Eonni lagi?” tanya Ara tiba-tiba.

 

Kyuhyun tercekat. Dadanya menjadi sesak ketika mendengar nama itu disebut. Pernyataan ibunya beberapa tahun lalu tentang Seohyun yang lebih memilih menggugurkan kandungannya dan meninggalkan Kyuhyun membuat hatinya kembali perih. Rahang Kyuhyun mengeras dan tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

 

“Oppa…jawab pertanyaanku!” Ara mengguncang bahu Kyuhyun membuat pria itu tersadar dari lamunannya.

 

Dengan mantap ia menjawab, “tidak! Untuk apa aku masih mencintainya? Lagipula sekarang sudah ada Jessica. Ah~ sudahlah, lebih baik kau istirahat saja ini sudah malam.” Ujar Kyuhyun lantas meninggalkan Ara sendirian di kamarnya. Gadis itu termenung. Ada yang aneh dengan kakaknya, reaksinya sama seperti Seohyun ketika ia menyinggung hal tentang hubungan mereka. Rasa penasaran semakin menggerogoti Ara. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. menurutnya hubungan kedua orang itu sangat janggal.

 

~~~~~

 

Pagi menjelang, seperti biasa kegiatan Seohyun setiap pagi adalah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kuliah dengan terburu-buru dan harus mengantar Nami ke sekolah terlebih dahulu. Ia keluar dari kamarnya ketika mendapati Nami sedang memakan kimbab buatan neneknya dengan santai. Gadis kecil itu masih menggunakan piyama merah jambunya, membuat Seohyun mendesah keras.

 

“Nami-ah, kau belum siap-siap? Eomma sudah terlambat, kenapa belum mandi dari tadi!” omel Seohyun dengan wajah merengut kesal. Ia mengambil dua potong kimbab dan memasukkan satu kimbab ke mulutnya, sedangkan yang satu lagi masih di dalam genggamannya.

 

“Nami hari ini libur, tadi Eomma juga sudah menelepon sekolahnya dan ternyata memang benar libur.” Jelas Nyonya Seo yang sedang duduk di samping Nami seraya menyantap kimbab buatannya.

 

“ah~ jinjja? Baguslah,” ucap Seohyun. setelah dua potong kimbab itu habis, dengan cepat ia meneguk susu hangat yang sudah disediakan memang untuk dirinya.

 

“Eomma, aku berangkat dulu. Nami-ah, baik-baik di rumah ne…” setelah mengacak rambut sebahu Nami, lantas Seohyun bergegas keluar rumah untuk menuju tempat kuliahnya.

 

Sementara Nyonya Seo menatap cucunya yang sedang sarapan sambil tersenyum. Ia megelus rambut Nami dengan sayang.

 

“nanti temani Halmeonni membeli kebutuhan rumah ya…” ujar wanita paruh baya itu yang dijawab dengan anggukan bersemangat oleh Nami.

 

~~~~~~~~~

 

Seohyun menatap gerbang kampusnya di depan sana. Ia berlari secepat mungkin meskipun ia tahu gerbang itu tidak akan pernah ditutup, tapi pada jam pertama itu adalah waktunya Kim Sonsaengnim mengajar. Seohyun jadi merasa tidak enak jika harus terus terlambat dan mendapat tugas tambahan darinya.

 

Hingga ketika jarak antara dirinya dan gerbang kampus tinggal satu meter lagi, tanpa ia duga dua orang laki-laki berpakaian serba hitam dan berbadan kekar menghalanginya. Kedua laki-laki tersebut menarik Seohyun ke balik pohon besar di sebelah kampusnya dan membekap mulutnya dengan sapu tangan. untungnya tidak ada obat bius atau apapun di sapu tangan tersebut.

 

“kau masih ingat kami?” ujar pria yang membekap mulutnya. Seohyun memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya. Ia memerhatikan wajah kedua pria tersebut hingga beberapa detik kemudian ia tercekat. Seohyun sangat mengenalnya. Mereka adalah anak buah Nyonya Go, tempat ibunya meminjam sejumlah uang untuk biaya masuknya ke universitas dan biaya sekolah Nami. Beberapa bulan terakhir kedua orang ini selalu datang menemuinya atau ibunya untuk menagih hutang karena waktu perjanjian pelunasan sudah habis. Tapi apa daya, ia dan Nyonya Seo masih belum mempunyai uang cukup untuk melunasinya.

 

“terakhir aku bertemu denganmu kau meminta waktu dua minggu lagi untuk melunasi hutang, dan sekarang waktunya sudah habis. Jadi, mana uangnya?” ujar salah seorang pria lagi yang memegangi kedua tangan Seohyun agar tidak dapat kabur.

 

Bekapan pada bibir Seohyun dibukanya agar gadis itu dapat menjawab.

 

“maafkan aku, aku belum bisa melunasinya sekarang. Tolong beri aku waktu lagi. Kemarin aku tidak mendapatkan lowongan kerja sama sekali.” ucap Seohyun sambil menunduk gemetar.

 

“apa?! beri kau waktu lagi? Hey dengar, selama ini kau selalu mengucapkan kalimat itu tapi uang yang kau berikan pada kami tidak pernah cukup. Bungamu sudah menumpuk dan harus segera dilunasi!”

 

“tolonglah ahjussi, aku janji akan berusaha untuk mendapatkan uangnya…” pinta Seohyun dengan wajah memelas. Kedua pria itu terdiam sejenak, saling berpandangan, lalu akhirnya mengangguk. Pria yang tadi membekap mulut Seohyun kini mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon Nyonya Go untuk meminta persetujuan darinya. Selama beberapa menit Seohyun hanya dapat terdiam di tempatnya berharap Nyonya Go mau memberinya waktu.

 

“baiklah, satu bulan. Apakah waktu itu cukup?” ujarnya setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

 

Seohyun mengangguk cepat. “i-iya, aku usahakan bulan depan bisa melunasi hutangnya!”

 

“tapi ingat, jika kau melanggar janjimu jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa pada gadis kecil yang tinggal di rumahmu itu!”

 

“ne??? Ja-jangan apa-apakan Nami, aku janji akan melunasinya bulan depan!”

 

Setelah mendengar jawaban meyakinkan dari Seohyun, kedua pria itupun beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Seohyun yang sekarang sedang kalut. Ia tidak lagi takut terlambat, yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya mencari pekerjaan yang bergaji besar untuk melunasi hutang ibunya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Nami, bahkan gadis kecil itu tidak tahu apa masalahnya.

 

~~~~~

Nyonya Seo mendorong kereta belanjanya yang dipenuhi dengan bahan makanan untuk satu minggu ke depan. Wanita paruh baya tersebut sedang berhenti di rak buah untuk memilih buah mana yang lebih bagus, sementara Nami sedang berlari ke arah rak jajanan. namun tanpa disengaja olehnya, ia menabrak seseorang hingga tubuh mungilnya terjatuh.

 

“oh…kau tidak apa-apa nak?” tanya sebuah suara lembut dari wanita yang baru saja ditabrak oleh Nami. Gadis mungil itu memegangi lututnya yang memerah, namun ia tidak menangis.

 

“aigoo…apakah kau terluka?” tanyanya lagi. Nami mengangkat kepalanya dan menatap wajah anggun wanita itu.

 

“gwaenchana…” jawabnya pelan.

 

Wanita tersebut mengeluarkan sebuah permen dari tasnya dan memberikannya kepada Nami.

 

“ini permen untukmu, maafkan Ahjumma karena tidak melihatmu…” ujarnya seraya menyerahkan sebungkus permen yang disambut dengan senang hati oleh Nami.

 

“kamsahamnida Ahjumma…” ucapnya dan bergegas untuk beranjak dari tempatnya terjatuh. Nami berlari menghampiri sang nenek dengan senyum ceria di wajahnya.

 

“Halmeonni!!!” teriaknya sambil menarik ujung baju Nyonya Seo.

 

“wae Nami-ah?”

 

“Halmeonni, tadi ada Ahjumma cantik yang baik hati memberikanku permen.” Ujar gadis kecil itu seraya mengacungkan permen yang baru saja didapatnya.

 

“jinjja? Mana Ahjumma itu? kau sudah mengucapkan terima kasih?”

 

“ne…sudah…”

 

Sementara di kejauhan, dari balik rak makanan, Nyonya Cho memperhatikan anak itu. ia terkejut bukan main ketika Nami menghampiri Nyonya Seo dan memanggilnya Halmeonni. Sungguh, rasanya jantungnya seperti akan melompat keluar saja. meskipun baru beberapa kali bertemu dengan Nyonya Seo dulu saat Seohyun dan Kyuhyun masih berpacaran, tapi ia sangat mengenal wajah itu. wajah ramah yang selalu tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya.

 

Ingatannya kembali pada kejadian enam tahun yang lalu ketika Seohyun mengatakan bahwa dirinya sedang hamil dan meminta pertanggung jawaban dari Kyuhyun. Gadis itu menolak untuk melakukan aborsi, dan Nyonya Seo hanya mempunyai seorang anak yaitu Seohyun. jadi jika gadis kecil yang menabraknya tadi memanggil Nyonya Seo dengan sebutan Halmeonni, berarti itu adalah putri Seohyun yang juga adalah cucunya.

 

Nyonya Cho memegang rak makanan itu dengan kuat. Tubuhnya bergetar hebat. Ia pikir Seohyun tidak akan kembali lagi, ia pikir gadis itu sudah pindah entah ke mana dan tidak ingin menginjak Seoul lagi setelah kehamilannya diketahui oleh teman-temannya. Tapi ternyata tidak, gadis itu telah kembali. dan ia kembali di saat yang tidak tepat. Jika keluarganya serta Jessica dan Kyuhyun mengetahui kenyataan ini, habislah dia. Ia sudah banyak berbohong untuk menyembunyikan kehamilan Seohyun, dan sudah pasti semua ini akan berimbas pada Kyuhyun juga yang akan dianggap sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab. Pernikahannya dengan Jessica yang baru dibina beberapa bulan ini akan hancur begitu saja hanya karena kehadiran gadis kecil itu dan Seohyun.

 

~~~~~~~~~~~~

 

Kyuhyun berjalan memasuki ruangan kerjanya yang terlihat sangat mewah. Akhirnya pria itu menduduki kursi yang sebelumnya adalah milik sang Kakek. Memang awalnya Kyuhyun tidak menginginkan jabatan ini, sekarangpun ia masih tidak tertarik dengan jabatan sebagai presdir ini. Kyuhyun lebih senang melakukan keinginannya. Ia lebih suka bermain musik, sungguh pria itu akan sangat bahagia jika dirinya bisa menjadi seorang musisi terkenal.

 

Ditatapnya berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Itu adalah laporan-laporan atau kontrak kerja sama yang harus ia periksa dan tanda tangani.

 

“pekerjaan ini memang membosankan…” gumamnya seraya mengembuskan napas berat. Dengan terpaksa tangannya membuka satu persatu berkas-berkas tersebut dan membacanya, lalu setelah itu ia harus menandatanganinya. Tentu saja tidak boleh asal tanda tangan, karena setiap kontrak kerja sama tidak segampang perkiraannya selama ini.

 

Setelah beberapa saat berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya Kyuhyun menyudahi hal tersebut. perutnya sudah berbunyi minta diisi, dan ini memang jam makan siangnya. Namun baru saja ia akan berdiri dari duduknya, pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah Jessica dengan sangat bersemangat.

 

“jagiya, kau pasti lapar! Aku membawakan jajjangmyeon untukmu.” Ujarnya dengan senyum lebar sambil menaruh dua kotak jajjangmyeon di atas meja Kyuhyun.

 

“ah…jinjja? kau membuatnya sendiri?” tanya pria itu dengan wajah gembira.

 

Jessica menghampiri Kyuhyun, duduk di atas pahanya lalu memeluk leher pria itu, dan Kyuhyun membalas pelukkan Jessica dengan melingkarkan lengannya pada pinggang sang istri.

 

“tidak, aku membelinya di restoran tadi.” Kata gadis itu sambil mengecup kilat bibir Kyuhyun.

 

“aku pikir kau membuatnya spesial untukku.” Wajah Kyuhyun berubah kecewa.

 

Jessica menatapnya tajam. “kau tahu kan aku tidak suka memasak dan paling benci berurusan dengan dapur?”

 

“ara…ara…ya sudah jangan diperdebatkan lagi, aku sudah lapar…” ujar Kyuhyun akhirnya tidak ingin berdebat dengan sang istri.

 

~*~TBC~*~

Advertisements