Title: Can’t I Love?

Inspiration: My Love By My Side (K-Drama)

Author: Seul95

Length: Long Chapter

Genre: Romance, Family, Pregnancy

Rating: PG-15

Casts:

–          Seo Joohyun as Seohyun

–          Jung Yonghwa as Yonghwa

–          Cho Kyuhyun as Kyuhyun

–          Go Ara as Cho Ara

Summary: di umur yang masih sangat muda, seorang Seo Joohyun harus melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu tanpa ada suami di sampingnya.

edit cover cant i love (yongseo)

Kyuhyun menatap Ayah, Ibu, Adik, serta Kakeknya yang mengantar kepergiannya di bandara. Wajah pria itu tampak tak bersemangat sama sekali. karena ia tahu, jika ia sudah berada di Amerika itu berarti selama beberapa tahun ia tidak akan bisa melihat keluarganya—dan tentu saja Seohyun.

 

Sebenarnya yang paling diberatkan oleh Kyuhyun adalah Seohyun. ia bahkan belum mengucapkan selamat tinggal kepada gadis yang ia cintai tersebut. meskipun ada perasaan marah padanya karena mendengar kabar bahwa ia telah menggugurkan anak mereka, tapi tetap saja perasaan tidak semudah itu dihapus. Apalagi jika itu adalah cinta pertama.

 

Kyuhyun mengembuskan napas keras seraya menatap ke sekeliling bandara, berharap Seohyun ada di sana sekadar untuk melihatnya diam-diam sebelum ia berangkat.

 

Nyonya Cho yang menyadari tingkah Kyuhyun lantas memegang tangan pria itu.

 

“kau mencari siapa?” tanyanya lembut.

 

Kyuhyun menatap mata ibunya dengan tatapan sayu. “apakah Eomma tidak mengatakan padanya bahwa aku akan pergi?”

 

Nyonya Cho terdiam sejenak, ia terlihat gelagapan untuk menjawab pertanyaan puteranya. Namun sesaat kemudian wanita itu menjawabnya dengan mantap tanpa keraguan.

 

“sudah! Tentu saja Eomma sudah memberitahunya, tapi percuma saja kau cari dia tidak akan datang.” Dusta Nyonya Cho untuk yang kesekian kalinya.

 

“Eomma dan Oppa, kalian membicarakan apa? kenapa berbisik-bisik!” tanya seorang gadis yang baru beranjak remaja, Cho Ara—adik Kyuhyun. Gadis yang baru menginjak umur empat belas tahun itu mengerucutkan bibirnya. “kalian merahasiakan sesuatu dariku lagi? Aish~ Eomma, Kyuhyun Oppa sebentar lagi akan berangkat ke Amerika, jadi jangan pernah menyimpan rahasia-rahasia yang sama sekali tak kuketahui!” ucapnya panjang lebar.

 

Nyonya Cho tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya, sementara Kyuhyun mengacak rambut adiknya dengan sayang. Sejak dulu gadis remaja itu selalu saja iri dengan kakaknya yang setiap hari mendapat perhatian lebih dari Kakek dan Ibunya hanya karena ia satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini. tentu saja Ara juga satu-satunya anak perempuan dan ayahnya sangat memanjakannya. Tapi pria paruh baya itu jarang ada di rumah, maka dari itu ia sering merasa iri melihat perhatian keluarganya yang lebih banyak tercurah pada Kyuhyun.

 

“ya!! Kenapa kau malah mengomel? Cepat ucapkan selamat tinggal pada Oppamu sebelum ia pergi!” pekik Nyonya Cho kepada Ara yang membuatnya semakin menekukkan wajah.

 

“Oppa annyeong.” Ucapnya dengan wajah datar tanpa menatap Kyuhyun yang tersenyum geli melihat tingkah adiknya.

 

“ne…jaga dirimu baik-baik anak kecil,” balas Kyuhyun.

 

“aku bukan anak kecil!”

 

“baiklah, jangan cemberut lagi! Kau tidak mau memberikanku pelukkan?” Kyuhyun membuka lebar-lebar tangannya siap menyambut pelukkan Ara, namun ditolak oleh gadis itu.

 

“sudahlah jangan berlebihan, kita pasti akan bertemu lagi!” ujar Ara.

 

Mendengar penolakkan adiknya, dengan wajah kecewa akhirnya Kyuhyun memeluk Ibu, Ayah, dan Kakeknya secara bergantian.

 

“belajarlah dengan baik di sana, buat kami bangga padamu saat kau kembali ke Seoul nanti.” Ujar Kakek Kyuhyun.

 

“ye Harabeoji.”

 

Kyuhyun membungkukkan tubuhnya dalam-dalam lantas masuk ke dalam ruang tunggu dengan berat hati. Tiba saatnya ia meninggalkan seluruh keluarga, teman, serta cintanya untuk waktu yang lama. Kyuhyun harap mereka tidak akan melupakannya, namun ia harus melupakan cintanya. Apapun akan ia lakukan untuk membuat dirinya melupakan Seohyun.

 

~~~~~~~~

 

Seohyun mengancingkan seragam sekolahnya yang sudah semakin sempit di tubuhnya. Ia mulai kesusahan untuk menyembunyikan kehamilannya. Lagipula semua orang di sekolah sudah tahu bahwa ia sedang hamil, jadi tidak ada yang perlu di sembunyikan.

 

Gadis itu menyampirkan tas sekolahnya dan hendak beranjak dari tempatnya sebelum akhirnya pintu kamar tersentak dengan tiba-tiba membuat Seohyun terlonjak kaget. Nyonya Seo berdiri di hadapannya dengan mata sembab dan tubuh yang semakin kurus. Ada cekungan hitam di bawah matanya yang menandakan bahwa ia kurang tidur selama ini. tubuh Seohyun mematung.

 

“Eo-Eomma…” ucapnya gugup.

 

Nyonya Seo menarik napas dalam sebelum akhirnya bersuara. “mau ke mana kau?” tanyanya dingin.

 

“aku…harus ke sekolah…” jawab gadis itu sambil menunduk.

 

“untuk apa kau ke sana? Apa yang kau cari di tempat itu? bahkan mereka sudah mengeluarkanmu dan tidak ada lagi yang berharap kau bersekolah lagi di sana!” ketusnya dengan penuh amarah serta kekecewaan mendalam terhadap puterinya itu.

 

Seohyun hanya dapat menundukkan kepala seraya meremas ujung baju seragamnya. Ia berdiri dengan gamang di sudut kamar, sama sekali tidak berani membalas tatapan sang ibu. Hingga gadis itu merasakan tangannya ditarik dengan paksa.

 

“Eomma…a-apa yang kau lakukan?” tanya Seohyun bingung.

 

Nyonya Seo menghentikan langkahnya dan menatap Seohyun tajam.

 

“ikut Eomma ke klinik! Kita harus menggugurkannya!”

 

Seohyun melepaskan genggaman tangan Nyonya Seo pada pergelangan tangannya ketika mendengar jawaban wanita paruh baya tersebut. ia memundurkan tubuhnya sedikit menjauh sambil menggeleng cepat.

 

“andwae Eomma, jangan membunuhnya…” ucap Seohyun lirih dengan manahan isak tangis yang sudah di ujung lidah. Napasnya tersengal-sengal tak beraturan.

 

“jangan membunuhnya?!! Apa maksudmu?! Kau bahkan tidak tahu siapa ayahnya, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas anak ini jadi apa yang mau kau pertahankan? Kau masih muda dan belum lulus sekolah, masa depanmu masih panjang. Tapi kau akan kehilangan semua itu jika kau mempertahankan anak ini!!!” bentaknya keras pada Seohyun. ia putus asa karena tak dapat meyakinkan gadis itu untuk menggugurkan anaknya. Putus asa karena tidak dapat membuat suaminya bahagia di atas sana. Dan putus asa karena tidak bisa menjaga Seohyun dengan baik.

 

Nyonya Seo hanya mempunyai seorang puteri yaitu Seohyun. sebelum suaminya meninggal, ia sudah berjanji akan menjaga anak mereka dengan baik dan membuatnya menjadi orang sukses. Tidak peduli halangan apapun, ia akan menyekolahkan Seohyun setinggi mungkin sehingga ia mendapatkan pekerjaan yang layak untuk dirinya sendiri. agar mereka tidak dianggap rendah lagi oleh orang lain.

 

Tapi pada kenyataannya, hal ini membuat Nyonya Seo benar-benar putus asa. Ia tidak dapat memercayai takdir akan berkata lain. Bahwa Seohyun tengah mengandung benih dari pria yang tidak bertanggung jawab membuat dirinya benar-benar frustasi karena dihantui rasa bersalah pada mendiang suaminya.

 

Nyonya Seo mengambil napas dalam, rahangnya mengeras dan air mata sudah membendung di pelupuk matanya.

 

“baiklah, jika itu maumu baiklah! Lakukan apapun itu, tapi kau akan kehilangan aku. Jangan pernah mencariku lagi atau menyesali kepergianku. Besarkan saja anak itu dengan keringatmu sendiri, tanggung semua beban yang akan kau dapat, tapi jangan pernah memanggil namaku! lebih baik aku mati saja!”

 

Seohyun tercekat mendengar ucapan Nyonya Seo. Ia membelalakan matanya dengan mulut menganga tidak percaya. Dengan sigap gadis itu mengejar ibunya yang sedang berjalan menghentak-hentak ke dapur. Di sana ia mendapati Nyonya Seo sedang memegang pisau, hendak menyayat pergelangan tangannya dengan benda tajam itu.

 

“ANDWAE EOMMA ANDWAE!!!” jerit Seohyun histeris. Ia menghampiri ibunya dan berusaha untuk menyingkirkan pisau itu. tubuh Seohyun bergetar hebat karena ketakutan luar biasa. Jika ibunya juga pergi, ia tidak akan punya keluarga lagi. Ia sudah kehilangan ayahnya, dan ia juga tidak ingin kehilangan ibunya.

 

Setelah berhasil membuang pisau itu jauh-jauh, Seohyun langsung berlutut dan memeluk kaki ibunya dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya di sana.

 

“andwae Eomma…jangan tinggalkan aku….”

 

Nyonya Seo mendengus keras. “apa yang kau lakukan?! Kenapa tidak membiarkanku menyusul ayahmu saja huh? Tidak ada lagi yang kuharapkan di sini, semuanya sudah hancur.” Ujar Nyonya Seo tanpa menghiraukan anaknya yang masih memeluk kakinya dengan erat.

 

“baiklah…aku akan menggugurkannya…” akhirnya Seohyun menyetujuinya. “aku akan menggugurkan anak ini, tapi jangan tinggalkan aku Eomma…jangan tinggalkan aku sendirian…”

 

Mendengar Seohyun telah menyetujuinya, akhirnya wanita paruh baya tersebut mau menatap anaknya. Ia mengangkat bahu Seohyun hingga berdiri, dan menatap matanya dalam. Namun Seohyun hanya dapat menangis dan menundukkan kepalanya. Ia terpaksa menyetujuinya karena tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ia tahu bagaimana menderitanya wanita ini saat membesarkannya, bekerja membanting tulang untuk menghidupinya. Seohyun tidak sanggup kehilangan ibunya, meskipun ia juga tidak sanggup jika harus kehilangan bayinya.

 

~~~~~

seorang Dokter sedang menatap hasil USG yang baru saja mereka lakukan tadi. Sementara Nyonya Seo menunggu penjelasan sang Dokter dengan tidak sabar. Seohyun hanya dapat duduk sambil menunduk. Sebenarnya ia ingin menangis, tapi ia tidak ingin membuat ibunya kecewa lagi. Ia harus rela kehilangan bayi ini demi ibunya.

 

“kalau dilihat dari umurnya kandungan anak gadis anda sudah memasuki bulan ke empat. Kami tidak bisa melakukan aborsi jika umur kandungan sudah di atas tiga bulan, itu sangat berbahaya bagi ibunya. Kami juga tidak mau mengambil risiko, karena hal itu melanggar hukum. Ketentuan undang-undang di Korea semua rumah sakit tidak diperbolehkan melakukan aborsi jika kandungan sudah di atas tiga bulan. Maafkan kami Nyonya.” Ujar Dokter perempuan itu sambil menunduk dalam menyatakan penolakannya secara halus.

 

“tolong saya Dokter, anak saya masih sekolah. Saya janji akan membayar berapapun tapi tolong gugurkan bayi ini…” mohonnya dengan wajah memelas. Namun yang didapat hanya penolakkan.

 

Ini adalah rumah sakit ke lima yang mereka kunjungi. Dari lima rumah sakit tersebut, tak ada satupun rumah sakit yang mau melakukan aborsi karena melanggar hukum dan berisiko tinggi. Akhirnya dengan perasaan kecewa yang mendalam, Nyonya Seo keluar dari rumah sakit diikuti Seohyun di belakangnya. Mereka berjalan tanpa arah dengan pandangan kosong. Nyonya Seo terkekeh pelan seraya mendengus pelan.

 

“kau senang sekarang? Kau senang tidak ada rumah sakit yang mau menggugurkan anak itu?” tanyanya sinis tanpa menoleh untuk menatap Seohyun yang sedang berjalan di belakangnya.

 

“Eomma…” panggil Seohyun, namun wanita itu hanya berjalan. Ia tidak ingin menghiraukan puteri semata wayangnya itu. pikirannya benar-benar kalut saat ini. tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Hidupnya kosong, hampa. Tidak ada lagi pengharapan seperti dulu. tidak ada lagi keinginan kuat untuk mengajari Seohyun menjadi anak yang berhasil.

 

Hingga tanpa sadar, mereka berhenti di sebuah tebing curam. Nyonya Seo menatap lurus ke depan, membiarkan kerasnya angin menerpa tubuhnya dan mengacak-acak rambut sepundaknya. Ia mengambil napas dalam sambil memeluk tubuhnya sendiri.

 

“Eomma…” panggil Seohyun lagi yang menatap ibunya.

 

“di sini…adalah tempat di mana abu Ayahmu dibuang.” Ujarnya memulai pembicaraan.

 

Seohyun terdiam untuk mendengar lebih lanjut kata-kata Ibunya.

 

“tujuh belas tahun yang lalu, Eomma membuang abu ayahmu di sini. Kau pasti sudah tahu ia meninggalkan kita karena gagal ginjal yang ternyata selama ini ia sembunyikan dari Eomma.” Nyonya Seo kembali menarik napas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. “dulu, tepat dua minggu setelah kematian ayahmu, saat kau berumur satu tahun Eomma pernah membawamu kembali ke sini. Eomma tidak tahu apa yang harus Eomma lakukan terhadapmu. Penagih hutang selalu datang untuk menagih uang yang Eomma pinjam demi membayar biaya rumah sakit tempat ayahmu dirawat, sementara kau terus saja menangis. Eomma tidak punya uang untuk membelikanmu susu. Eomma berusaha mencari pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga, pencuci piring, hingga pelayan restoran, tapi mereka semua memecat Eomma di hari pertama Eomma bekerja karena terganggu dengan suara tangisanmu. Eomma tidak tahu harus menitipkanmu di mana sementara Eomma bekerja. Eomma berpikir untuk menaruhmu di panti asuhan, tapi Eomma benar-benar tidak sanggup kehilanganmu. Kau satu-satunya peninggalan Ayahmu yang begitu berharga. Wajah kalian sangat mirip, bagaimana mungkin Eomma dapat menelantarkanmu begitu saja? dan akhirnya Eomma membawamu kemari. Eomma berpikir untuk melompat dari tebing ini berdua denganmu, maka masalah akan selesai. Kita akan kembali bertemu dengan Ayahmu di atas sana. Tapi…ketika Eomma melangkahkan kaki menuju ujung tebing di sana, tiba-tiba kau terbangun dan menatap Eomma dengan mata beningmu. Kau tersenyum seperti malaikat dan menyentuh wajah Eomma. Senyummu kembali mengingatkan Eomma pada Ayahmu, dan Eomma kembali teringat dengan permintaan terakhirnya untuk selalu menjagamu apapun yang terjadi. Saat itu Eomma sadar, Ayahmu tidak menginginkan hal itu, ia ingin Eomma membesarkanmu dengan baik hingga kau menjadi wanita dewasa yang cerdas. Jadi Eomma mengurungkan niat itu dan berusaha untuk membesarkanmu dengan susah payah tanpa mengeluh sedikitpun.” Nyonya Seo mengambil napas berat.

 

Seohyun menunduk dan menangis mendengar cerita Ibunya. Ia semakin merasa bersalah pada Nyonya Seo. Seandainya ia dapat memutar ulang waktu, ia tidak mungkin melakukan hal itu hingga membuat Ibunya seperti ini. kalau bisa, ia tidak ingin mengenal Kyuhyun dalam hidupnya. Seohyun sama sekali tidak membutuhkan laki-laki tak bertanggung jawab seperti dirinya.

 

Nyonya Seo berbalik lalu menghampiri Seohyun. ia memegang bahu puterinya dan menatapnya dengan tatapan memelas.

 

“tapi sekarang…tak ada yang bisa kita lakukan. Eomma tidak sanggup lagi Seohyun-ah…” wanita paruh baya itu mulai terisak. Ia memegang pipi Seohyun lembut lalu memeluknya.

 

“jadi sekarang…ayo kita akhiri semuanya. ayo kita menyusul Ayahmu di atas sana. Sebenarnya Eomma ingin melakukannya sendiri, tapi mengingat kau menangis dengan histeris tadi membuat Eomma tidak sanggup meninggalkanmu juga. Jadi…ayo kita akhiri…!” ujarnya mempertegas kalimat akhir. Matanya menatap Seohyun penuh harap. Sementara gadis itu hanya dapat mematung di tempatnya. Ia memikirkan kata-kata Ibunya berulang-ulang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus mengikuti permintaan Ibunya untuk mengakhiri semua ini? jika ia mati, tak ada lagi beban hidup yang harus ditanggung. Anak ini tidak akan lahir ke dunia, dan ia akan bertemu dengan Ayah yang sudah meninggalkannya sejak ia masih berumur satu tahun. Rasa sakit, harga diri yang diinjak-injak, kenangan pahit, dan kemarahan semuanya akan lenyap. Tapi…apakah keputusannya untuk mengakhiri semua ini bersama Ibunya sudah benar?

 

~*~TBC~*~

Advertisements