Title: Your Love is All I Need

Author: Seul95

Length: Ficlet

Genre: Sad Romance, Pregnancy

Rating: PG-15

Casts:

–          KhunToria (Nichkhun & Victoria)

Summary: Victoria mendapati bahwa dirinya sedang mengandung, sedangkan kesehatannya tidak memungkinkan ia untuk memiliki seorang bayi.

Note: annyeong khuntorians…maaf yah aku gak bisa ngepost khuntoria love story, feeling nya gak dapet buat ngelanjutin tuh FF, yg kmarin aja kependekan,,jadi sebagai gantinya aku post ficlet ini. harap maklum kalo bahasanya gaje atau gak sreg di baca atau apalah…nih ff aku buat uda dari tahun 2010, cast nya juga bukan khuntoria dan uda pernah aku post di facebook.

 

Angin malam pada hari itu berhembus kencang menusuk tulang. Ia mengeratkan jaket ungu yang sedang dikenakannya. Menghirup udarapun rasanya sangat susah jika mengingat akan penyakitnya yang dapat merenggut nyawanya kapan saja, membuat Victoria menjadi takut. Bukan takut karena akan menghadap kepada Sang Pencipta, melainkan takut tidak dapat bertemu dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Orang yang selama tiga tahun belakangan ini mengisi hari-harinya, memberi warna pada kehidupannya dan membuatnya mengenal apa arti dari sebuah hubungan. Banyak hal yang sangat sayang untuk dilupakan dan ditinggalkan. Kenangan-kenangan manis yang selama ini dirasakannya bersama Nichkhun. cinta pertama dan terakhir Victoria.

Ia sadar ia bukan gadis sempurna yang dapat mendampingi Nichkhun seumur hidupnya. Ia hanyalah seorang gadis berpenyakitan yang sebentar lagi akan meninggalkan dunia. tidak ada yang dapat diharapkan dari dirinya untuk Nichkhun. yang bisa ia berikan hanya cinta tulusnya kepada pria itu.

 

Tangan kekar melingkar erat di tubuh kurus Victoria membuatnya tersentak kaget. Ciuman hangat mendarat di tengkuk mulusnya, dan aroma mint menggelitik indera penciumannya setiap kali pria itu mengembuskan napas.

“kau belum tidur Qian?” tanya Nichkhun lembut. Victoria memegang lengan Nichkhun dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu.

“aku belum mengantuk, kalau kau ngantuk tidur saja duluan,” kata Victoria. Nichkhun menggeleng sambil menempelkan bibirnya di pucuk kepala kekasihnya.

“anni, aku akan menemanimu di sini sampai kau mau tidur.”

“baiklah, aku juga tidur. Kajja!” Victoria beranjak dari balkon apartemen tempatnya berdiri tadi dan melepas jaketnya. Ia merebahkan diri di tempat tidur dan diikuti oleh Nichkhun.

“Qian… kau semakin kurus saja, perbanyaklah makanmu. Aku tidak suka melihatmu kurus seperti ini.” ujar Nichkhun sambil memainkan rambut panjang Victoria yang tergerai indah di atas bantal. Sementara wanita itu hanya dapat tersenyum kecut.

 

Nichkhun dan dirinya memang memutuskan untuk tinggal bersama 2 tahun lalu di apartemen milik Nichkhun, tapi pria itu tidak tahu bahwa saat ini Victoria sedang mengidap leukimia stadium tiga. Victoria sengaja menyembunyikan penyakitnya ini dari Nichkhun, ia tidak ingin membuat Nichkhun kuatir dan sering bolos kerja karena mengurusnya.

“tidurlah Khun, besok pagi kau harus ke kantor.” Tukas Victoria. Nichkhun tersenyum dan mengecup kening gadis itu. Ia melingkarkan lagi lengan kekarnya pada pinggang Victoria dan memejamkan mata bulatnya. Perlahan,  Air mata Victoria mulai mengintip, tapi sebisa mungkin ia menahannya agar tidak tumpah. Ia tidak boleh terlihat sedih di hadapan Nichkhun.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

 

bau bumbu masakkan memaksa mata Nichkhun untuk membuka. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan berjalan keluar kamar mencari sumber bau masakkan yang sudah membuatnya terbangun. Didapatinya Victoria sedang berkutat di dapur sambil bersenandung kecil membuat bibir tipis Nichkhun terangkat ke atas membentuk seulas senyuman manis. Ia memeluk gadis itu dari belakang dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya.

“Khun, kau sudah bangun?” tanya wanita itu.

“jangan bergerak, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja.” Perintah Nichkhun membuat Victoria terdiam merasakan kehangatan yang diberikan oleh pria itu. “akhir-akhir ini aku seperti merasa kau semakin jauh dariku. Kau tidak mungkin meninggalkanku kan?”

Deg!

Jantung Victoria serasa terhenti mendengar pertanyaan Nichkhun. tubuhnya kaku dan pandangannya kosong. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Qian?” tanya Nichkhun lagi.

“eh… ti-tidak, Khun, aku tidak mungkin meninggalkanmu, kenapa kau berpikiran seperti itu?” kata-kata tersebut keluar secara spontan dari bibir mungilnya.

“molla, aku juga tidak mengerti.”

“jangan berpikiran yang macam-macam, kau tahu kan aku sangat mencintaimu?” Hatinya terasa perih saat ia mengucapkan kalimat itu.

Nichkhun mengangguk “aku tahu, aku juga mencintaimu.”

“sudahlah Khun, cepat mandi dan sarapan nanti kau terlambat!”

“pagi ini kau masak apa?”

“deonjang jjigae.”

“huwaaah… sepertinya enak. Baiklah, aku akan segera mandi!” Nichkhun mengecup pipi Victoria dan berlalu dengan terburu-buru ke kamar mandi.

 

Victoria hanya menatap kekasihnya itu menikmati deonjang jjigae buatannya. Ia berpikir, jika ia pergi nanti siapa yang akan memasakkannya makanan seperti ini? siapa yang akan memijatnya jika ia pulang kerja dengan keadaan lelah? Pria ini sangat bergantung pada Victoria membuat gadis itu kuatir jika suatu hari nanti Tuhan mengambil nyawanya.

“Qian kau tidak makan?” tanya Nichkhun membuyarkan seluruh lamunan Victoria.

“Ya…? ah…  aku tidak napsu makan,”

Nichkhun menyipitkan matanya ketika Victori mengatakan kalimat tersebut.

“aku kan sudah bilang semalam, aku tidak suka melihatmu kurus seperti ini.” ujarnya. “atau jangan-jangan kau hamil?” lanjutnya girang membuat Victoria yang sedang minum jadi tersedak karena terkejut. Matanya membelalak lebar. Tidak mungkin ia bisa hamil dalam keadaan selemah ini. sebenarnya Victoria akan sangat senang jika hal itu memang terjadi pada dirinya, tapi dalam keadaan seperti ini tentu saja ia tidak bisa mengandung. Tubuhnya sangat lemah dan sangat tidak memungkinkan untuk mempunyai seorang bayi.

“itu tidak mungkin Khun!!” pekiknya cepat.

“kenapa tidak mungkin? Itu bisa saja terjadi. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter saja?”

“mwo??? Ti-tidak perlu, aku hanya sedang tidak napsu makan saja, bukan berarti aku hamil!” Victoria berusaha mengelak. Tapi Nichkhun tetap bersikukuh agar kekasihnya itu mau diperiksakan ke dokter, hingga akhirnya Victoria menyerah dan mengiyakan keinginan Nichkhun. jika memang saat ini waktunya Nichkhun untuk mengetahui kebenarannya, biarlah ia tahu. lagi pula Victoria sudah lelah harus berbohong terus pada pria itu.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

 

“chukhae tuan Buck, istri anda positif hamil.” Ujar dokter di hadapan mereka. mata Victoria terbelalak lebar. Tidak, aku tidak mungkin hamil, dokter ini pasti salah! batin Victoria.

“jeongmal?!” pekik Nichkhun senang.

“dokter kau tidak salah kan?” tanya Victoria dengan suara yang terdengar lirih.

“kau benar-benar positif hamil. Dan sepertinya kondisi tubuhmu sangat lemah, kau harus perbanyak minum vitamin agar bayinya juga tumbuh sehat.” Dokter Kim meyakinkan membuat Victoria seakan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

 

Dalam perjalanan pulang pun Victoria hanya mendengarkan celotehan Nichkhun yang menyuruhnya memakan makanan bergizi dan meminum vitamin yang diberikan dokter dengan teratur. Tapi ia tidak sepenuhnya memusatkan perhatian pada pria itu, yang ada di pikirannya hanya bagaimana nasib anak yang sekarang berada di kandungannya ini nanti. Apakah ia kuat mengandung selama 9 bulan dalam perutnya? Sekarang saja sakit di tubuhnya seringkali datang hingga membuatnya tidak kuat untuk melakukan pekerjaan rumah apapun.

“Qian, kau kenapa diam saja dari tadi? Tidak senang yah?” tanya Nichkhun tiba-tiba karena merasa kata-katanya tidak direspon oleh wanita itu.

Victoria menoleh dan menyunggingkan senyum terpaksa. “aku senang, sangat senang malah dapat mengandung anak darimu.”

“mm…bagaimana kalau pernikahan kita lakukan secepatnya sebelum perutmu membesar!”

“Ya??!” kejutan apa lagi ini? Victoria memang senang jika sebentar lagi ia akan menikah dengan Nichkhun, tapi kenapa harus dalam keadaan seperti ini? kenapa di saat yang tidak tepat kebahagiaan itu baru datang padanya?

“kenapa??”

“tidak Khun, tapi…”

“2 minggu lagi! Mulai dari sekarang kita urus semuanya.”

“hah??!! Apa tidak terlalu cepat? Waktunya singkat sekali!”
“serahkan saja padaku,” ujar Nichkhun santai. Victoria hanya mendesah pasrah sambil memegangi keningnya yang mulai berdenyut.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

 

Hari pernikahan pun tiba. Victoria mengenakan gaun putih tanpa lengan dan mengikat janji suci dengan Nichkhun di hadapan para tamu undangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Victoria juga bahagia atas pernikahannya ini. ia mulai belajar untuk mencoba menerima semua kenyataan yang diatur Tuhan untuk dirinya. Nichkhun dan anak yang dikandungnya sekarang adalah hal terindah yang diberikan Tuhan sebelum ajal menjemputnya. Setidaknya Victoria merasakan kebahagiaannya sebelum ia pergi meningglkan orang-orang yang dicintainya.

Hari demi hari pun berlalu. Kandungan Victoria sudah menginjak bulan ke lima. Obat-obatan yang diberikan dokter untuk penyakit leukimianya tak pernah disentuhnya sedikitpun setelah ia mengetahui bahwa ia sedang hamil. walaupun ia tahu itu akan mempercepat kematiannya. Yang ia minum hanya vitamin dan makanan-makanan bergizi. Nichkhun pun sekarang menjadi lebih perhatian padanya. Yang dulunya ia pulang kantor pukul 7 malam, sekarang jam setengah enam sore sudah tiba di apartemen.

 

Hari ini Victoria sedang menyiapkan makan malam sebelum Nichkhun pulang dari kantor ketika dirasakannya kepalanya berputar dan darah segar mengalir dari hidungnya. Dengan tergopoh-gopoh berlari ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air. Sakit di sekujur tubuhnya kembali dirasakan gadis itu. Ia mengerang keras tidak kuasa menahan kesakitan.

“tidak, jangan sekarang! Sebentar lagi Nichkhun pulang,” racau Victoria mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya yang limbung agar dapat berdiri tegak.

“Qian!!! Kau di mana??” pekikan Nichkhun terdengar dari luar sana. Ia berusaha mengatur napasnya dan mengeringkan wajahnya dengan tissue, memastikan tak ada noda darah yang tertinggal sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi dan menyambut kepulangan suaminya.

“aku di sini Khun,” jawab Victoria menghampri Nichkhun. ia memeluk tubuh lelah Nichkhun dan mengecup bibirnya sekilas.

“tadi kau di mana?”
“aku sedang di kamar mandi. Kau mandi saja dulu, aku sedang masak untuk makan malam.”

Nichkhun mengangguk sambil mengelus perut buncit Victoria.

“appa mandi dulu sayang,” ujarnya. Victoria terkekeh ringan melihat tingkah suaminya itu.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

 

Siang ini adalah jadwal Victoria memeriksakan kandungannya yang sudah memasuki bulan ke-7. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat membuat Victoria semakin takut jika ia tidak dapat melihat wajah anaknya setelah ia lahir. Bahkan daya tahan tubuhnya semakin menurun. Rasa sakit di sekujur tubuhnya terkadang membuatnya ingin cepat-cepat mengakhiri penderitaan ini, tapi jika ia teringat pada Nichkhun dan bayi yang dikandungnya seakan ia ingin hidup lebih lama lagi. Kalau perlu hingga ia dapat melihat anaknya tumbuh dewasa nanti.

“bayimu baik-baik saja, tapi tubuhmu semakin melemah. Aku sarankan pikirkan juga kesehatanmu.” Ujar dokter yang memeriksakan kandungan Victoria. wanita itu tersenyum manis menanggapi nasihat sang dokter.

“gwaenchana Kim uisangnim, kesehatanku tidak terlalu penting. Asalkan anakku  sehat aku sudah cukup senang.” Jawab Victoria sambil memegang perutnya. Dokter itu hanya mengangguk prihatin menatap Victoria.

 

Sesampainya di rumah, Victoria menatap dirinya di depan cermin yang ada di dalam kamarnya. Tubuhnya semakin kurus tapi perutnya melendung besar. Kelihatannya seperti orang busung lapar.

Tiba-tiba ia merasakan lagi sakit yang sama seperti yang dirasakannya hampir setiap hari. Gadis itu terjatuh di lantai keramik kamarnya sambil mengerang memeluk tubuhnya yang kesakitan.

“ada…apa denganku…” untuk yang kesekian kalinya darah segar mengalir dari hidungnya dan sakitnya seakan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit itu hingga akhirnya tidak sadarkan diri, tergeletak di atas lantai keramik yang dingin dan keras.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

 

Nichkhun merasa perasaannya tidak enak semenjak pagi tadi. Ia gelisah dan tidak dapat berkonsentrasi pada rapatnya. Setelah rapat selesai, pria itu langsung bergegas pulang ke apartemen dan mencari sosok Victoria di setiap sudut ruangan yang ada di apartemennya.

“Qian… kau di mana?” pekik Nichkhun. ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Victoria sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan wajah pucat dan darah yang mengalir dari hidungnya. Dengan sigap pria itu membopong Victoria keluar apartemen dan membawanya ke rumah sakit.

 

Nichkhun hanya dapat mondar-mandir di depan ruang ICU menunggu dokter yang sedang menangani Victoria keluar dari dalam sana. Ia benar-benar kuatir dengan keadaan Victoria, wanita itu terlihat seperti mayat hidup tadi. Wajahnya pucat pasi, tapi untung tubuhnya masih hangat menandakan ia masih hidup.

Dokterpun keluar dari dalam ruang ICU dan menghampiri Nichkhun.

“tuan Buck, sepertinya keadaan istri anda sangat kritis. Untung cepat dibawa kemari. Kami harus melakukan operasi cecar untuk mengeluarkan bayinya, jika tidak akan membahayakan mereka berdua.” Ujar dokter itu.

“sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya?” tanya Nichkhun dengan nada cemas.

“anda belum tahu? Istri anda mengidap leukimia. Ini sudah stadium akhir.” Jelas dokter itu membuat Nichkhun terpaku.

“tuan Buck, kita harus melakukan operasi cecar dengan segera. Jadi tolong tanda tangani kertas ini!” kata dokter itu menyerahkan sebuah kertas kepada  Nichkhun.

“apa jika melakukan operasi keduanya akan selamat?” tanya Nichkhun lagi. Dokter itu mendesah keras.

“saya tidak tahu, kemungkinan besar salah satu dari mereka tidak selamat. Lebih baik anda cepat menandatangani suratnya.”

Tanpa berpikir panjang Nichkhun pun mulai menandatangani surat itu menyerahkannya kembali pada sang dokter yang menangani Victoria.

 

4 jam berlalu, Nichkhun masih berdiri di depan ruang operasi namun belum juga ada tanda-tanda operasi akan selesai. Orang tua Victoria dan orang tua Nichkhun juga ada di sana menunggu hasil operasi. Tak berapa lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan operasi yang langsung di hampiri oleh Nichkhun.

“bagaimana keadaan istri dan anak saya??” tanya Nichkhun tidak sabaran. Dokter itu tersenyum menenangkan.

“operasi berjalan lancar, keduanya selamat. Tapi istri anda harus banyak istirahat dan bayinya harus dimasukkan ke dalam incubator karena lahir prematur.” Ujar dokter tersebut. Nichkhun menghembuskan napas lega, begitu juga dengan kedua orang tua Victoria dan Nichkhun.

Ia memasuki ruang perawatan Victoria dan duduk di samping wanita itu. Selang oksigen melekat pada hidungnya lengkap dengan jarum infus yang ditancapkan di pergelangan tangannya. Nichkhun meraih jemari Victoria dan mengecupnya lembut.

“Qian… bangunlah, kau harus melihat bayi perempuan kita. Wajahnya sangat mirip denganmu. Kau pasti sangat ingin melihatnya kan? Kalau begitu bangunlah, jangan tidur terus!” ujar Nichkhun membangunkan Victoria. Ia takut jika gadis itu terus tertidur ia tidak akan dapat membuka matanya lagi.

Perlahan tapi pasti kelopak Victoria mulai bergerak dan membuka, menatap Nichkhun yang berada di sampingnya.

“Khun, bagaimana keadaannya? Aku ingin melihatnya.” Kata Victoria lemas.

“ia baik-baik saja, dokter bilang ia harus dimasukkan ke incubator karena lahir prematur.”

“tapi aku ingin melihatnya Khun,” paksa Victoria.

“baiklah, tunggu sebentar aku meminta suster untuk mengantarnya ke sini.” Nichkhun beranjak keluar dari kamar rawat sementara Victoria sedang menerawang  bagaimana wajah anaknya nanti. Apakah ia tampan seperti Nichkhun, atau cantik seperti dirinya? Ia bahkan belum tahu jenis kelaminnya apa.

Sesaat kemudian Nichkhun datang dengan seorang suster yang sedang mendorong kotak incubator berisi bayi perempuan di dalamnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Victoria menatap bayi mungil yang selama ini dipertahankannya hingga sekarang. bayi yang juga pernah merasakan penderitaannya, bayi yang selama ini sangat disayanginya. Jika saat ini ia dapat melihat wajah anaknya, itu adalah hadiah terbesar dalam hidupnya. Tuhan sudah memberinya kesempatan untuk melihat keadaan anak itu.

“apa aku tidak bisa memegangya?” tanya Victoria. Nichkhun menggeleng.

“kau hanya boleh melihatnya saja.” Kata pria itu. Victori memerhatikan bayi mungil tersebut. alis tebal dan hidung mancungnya sama seperti Nichkhun, tubuhnya mungil dan rentan seperti akan patah jika di sentuh. Ia mengusap air mata yang mengalir dari matanya dan beralih menatap Nichkhun.

“Khun… aku sudah memikirkan nama anak ini dari sebelum ia lahir. Karena ia bayi perempuan, namanya adalah Vicky. Vicky Buck Horvejkul. Jadi kau akan selalu ingat dengan namaku ketika kau memanggilnya dengan sebutan Vicky. ” Victoria tersenyum lemah seakan ada berjuta-juta penderitaan dalam dirinya.

“Khun, jaga Vicky dengan baik. Aku hanya ingin ia mengenal siapa Ibu yang telah melahirkannya. Kau harus menceritakan tentangku padanya Khun! Di dalam laci meja risaku ada sebuah diary, aku mohon agar kau memberikan diary itu padanya di ulang tahunnya yang ke-17. Menurutku 17 tahun adalah waktu di mana ia akan menjadi dewasa dan mulai mengerti dengan keadaanku yang harus meninggalkannya. Berikan juga Vicky sosok ibu yang  dapat memberinya kasih sayang. Ia berhak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dan jangan pernah lupa bahwa aku selalu mencintaimu. Saranghaeyo Khun, yoengwonhi…” perlahan jemari Victoria yang ada dalam genggaman tangan Nichkhun mulai melemas dan akhirnya terjatuh di atas tempat tidur. Bersamaan dengan itu, Vicky menangis sangat keras di dalam incubator.

Victoria telah pergi meningglakan berjuta kenangan yang telah ia ciptakan bersama Nichkhun dan Vicky saat masih berada di dalam kandungannya. Satu-satunya peninggalan Victoria yang sangat berharga adalah Vicky. Bayi perempuan bukti cintanya terhadap Nichkhun.

“na do saranghae yeobo…” untuk yang pertama dan terakhir kalinya Nichkhun memenggil Victoria dengan sebutan yeobo. Bahu pria itu bergetar hebat melepas kepergian Victoria yang terasa begitu berat baginya. Ia tidak akan melupakan wanita itu, wanita yang sudah memberinya seorang bayi perempuan sehat untuknya. Dan ia berjanji suatu hari nanti, ia akan melakukan permintaan terakhir Victoria. ia akan memberikan Vicky sosok ibu yang baik untuknya.

 

**THE END**

Advertisements