Title: Complete Our Love

Author: TyMinMin/Seul95

Length:  Short Chapter

Genre: Romance, Friendship, School Life

Rating: PG-15

Casts:

–          Kang Jiyoung

–          Han Seungyeon

–          Lee Taemin

–          Lee Jinki

Summary: Kang Jiyoung dan Han Seungyeon telah lama bersahabat, tapi tanpa diduga mereka menyukai pria yang sama. Sementara si kakak beradik Lee menyukai masing-masing dari kedua gadis tersebut. apakah mereka bisa bersatu?

edit cover complete our love

Seungyeon berbaring di tempat tidurnya sambil menatap kosong ke arah luar jendela. Tubuhnya benar-benar terasa sangat lemas. Ia tidak bisa melakukan apapun sejak kemarin dan hanya bisa tertidur di kamarnya. Gadis itu tidak menjaga kesehatannya setelah ia memutuskan Jinki beberapa minggu yang lalu dan mengetahui bahwa mantan kekasihnya itu telah berpacaran dengan Jiyoung. Ia tidak pernah makan dengan teratur, kurang tidur, dan selalu menyibukkan dirinya dengan belajar dan belajar.

 

Meskipun sudah merelakan Jinki untuk meninggalkannya, tapi jauh di dalam hatinya Seungyeon masih sangat menyayangi pria itu. ia sama sekali tidak bisa melupakannya barang sedetikpun. Perasaannya untuk Jinki masih sangat kuat, dan kenyataan bahwa Jinki bukanlah miliknya lagi membuat gadis itu sangat syok. Rasa perih yang terus menerus menyerang hatinya seakan memakan seluruh kekuatannya. Ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan menangis, tapi tetap saja tidak mengurangi bebannya.

 

Seungyeon menghela napas berat, ia mengalihkan pandangannya dan matanya menangkap sesosok pria sedang berdiri di ambang pintu. Menatapnya dengan tatapan nanar sambil menyangga tubuhnya pada daun pintu.

 

Seungyeon merasakan napasnya tercekat, dan ia tidak dapat bergerak sama sekali. ia tidak tahu bagaimana bisa Jinki sudah berdiri di sana, dan menatapnya tidak berdaya di atas tempat tidur. Ia bahkan tidak menyadari bahwa pintu kamarnya sudah terbuka lebar seperti itu.

 

Seungyeon menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menyadarkan dirinya bahwa ini hanya sebuah mimpi. tapi tidak, pria itu masih tetap berdiri di sana, ia bahkan mulai bergerak dengan melangkahkan kakinya. Berjalan mendekati tempat tidur Seungyeon. Matanya tak pernah lepas memandang tubuh kurus gadis itu, pipinya yang tirus, dan lengan yang semakin mengecil.

 

Setitik air mata mengintip di ujung mata Jinki, dan Seungyeon menyadari itu. tanpa diduga sebelumnya, ia sudah mendengar isakan tertahan dari mulutnya sendiri. Seungyeon tidak bisa menahannya lagi, semua beban itu sudah membuatnya sangat menderita. Ia sangat merindukan Jinki. ia ingin memeluk pria itu, mencium bibirnya, dan membelai rambut cokelatnya. Ia ingin melakukan semua itu sebagai kekasihnya.

 

Perlahan pria itu mendudukan tubuhnya di sebelah tubuh Seungyeon, lalu meraih jemari kurusnya. Ia menggenggam dengan erat, mengalirkan kehangatan yang membuat tubuh Seungyeon bergetar hebat. Gadis itu memejamkan matanya, membiarkan air mata mengalir lebih banyak.

 

“aku…merindukanmu.” ujar Jinki untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu menahan diri untuk tidak menemui gadis yang sangat ia cintai ini. Seungyeon menggigit bibirnya keras, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Saat ini Jinki bukan miliknya lagi, ia tidak bisa membalas ucapannya, tapi ia juga tidak bisa berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak merindukannya. Tentu saja Seungyeon sangat merindukan Jinki, sangat dalam artian benar-benar sangat merindukannya.

 

Jinki menarik tangan Seungyeon dan membantunya untuk bangkit. Gadis itu menatap kedua bola mata cokelat Jinki, meneliti setiap wajah yang ada di hadapannya. memerhatikan bibir merahnya, hidung mancungnya, kulit putihnya. Ia sangat membutuhkan pria ini. seakan Jinki lah pusat kehidupannya, pusat kekuatannya.

 

“aku merindukanmu Han Seungyeon.” Ujarnya sambil mendekap tubuh kurus Sengyeon. Kali ini ia mengucapkan kalimat itu dengan lebih keras, bernada tegas.

 

Seungyeon mematung di dalam pelukan Jinki. ia merasa sangat nyaman, merasa di sinilah tempatnya harus menyandar. Tapi ketika kenyataan menghantamnya dengan sangat keras, gadis itu hanya dapat menangis. Ia ingin membalas pelukan Jinki, tapi pria itu milik Jiyoung. Ia tidak bisa mengkhianati sahabatnya sendiri. ia juga menyayangi Jiyoung.

 

“tolong…katakan kau juga merindukanku…” ujarnya memelas membuat Seungyeon semakin membenamkan wajahnya pada dada pria itu. ia tidak bisa mengucapkan kalimat itu, tenggorokannya selalu tercekat saat ia ingin mencoba mengucapkannya.

 

“kembalilah padaku Han Seungyeon, aku tidak bisa seperti ini. aku mencintaimu…aku mencintaimu…” ujar Jinki dengan suara bergetar. Pelukannya semakin erat memeluk tubuh Seungyeon hingga membuat pertahanan gadis itu runtuh. Perlahan tangannya terangkat dan membalas pelukan Jinki. ia memeluknya seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Dan gadis itu berharap kalau waktu berhenti saat itu juga, membiarkan mereka menikmati momen ini lebih lama lagi.

 

“a-aku…aku juga merindukanmu…” akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir mungil Seungyeon. Meskipun rasanya sangat sulit, tapi ia tidak bisa menampungnya dan seakan meluap begitu saja. “dan mencintaimu…” lanjutnya lagi membuat Jinki terkejut. Ia berusaha melepaskan pelukannya, tapi Seungyeon tidak. Ia tetap memeluk pria itu dengan erat, tidak ingin kehilangan perasaan nyaman yang sekarang menyelimuti dirinya.

 

“tetap peluk aku…tolong tetap peluk aku…” ujarnya cepat masih membenamkan wajahnya di dalam dada Jinki. pria itu terdiam, dan akhirnya kembali melingkarkan lengannya pada tubuh gadis itu. sebuah senyuman kecil tersungging pada wajah tampan Jinki. setidaknya ia tahu bahwa Seungyeon merindukan dan mencintainya.

 

“kembalilah padaku Seungyeon-ah.” Pinta Jinki kemudian setelah beberapa menit hanya kesunyian yang menguasai. Perlahan, pelukan gadis itu mulai mengendur. Ia kembali teringat pada Jiyoung, dan rasa bersalah seketika menyergap dirinya. Seungyeon menjauhkan tubuhnya dan menyisakan jarak yang lebar antara dirinya dan Jinki. pria itu mengernyitkan kening melihat sikap Seungyeon yang tiba-tiba berubah.

 

Gadis itu menggeleng cepat sambil memeluk lututnya. “tidak, aku tidak bisa. Bagaimana dengan Jiyoung?”

 

“tolong jangan paksa aku dengannya lagi Seungyeon-ah! Aku tidak bisa menyukainya, apalagi mencintainya. Seberapa keras aku mencoba, pada akhirnya aku hanya akan memikirkanmu!” ucap Jinki frustasi.

 

Seungyeon menatap Jinki dengan mata sayunya. Pria itu memang tidak tampak bahagia saat bersama Jiyoung. Seungyeon tahu itu dari pancaran matanya.

 

“aku menyukaimu, bukan dia.” Ujarnya lagi.

 

Tentu saja Seungyeon hanya dapat terdiam. Ia bingung harus bagaimana. Ia tidak ingin melukai Jiyoung, tapi ia juga tidak ingin kehilangan pria ini. cinta pertamanya, ciuman pertamanya, pacar pertamanya. Seungyeon harap ia juga yang terakhir.

 

Akhirnya, setelah beberapa menit berpikir dengan matang, Seungyeon pun kembali menjatuhkan dirinya dalam pelukan Jinki. ia menatap dalam mata pria itu, menyentuh pipi mulusnya dan membelai rambutnya, seperti yang ingin ia lakukan. Ia menatap bibir merah pria itu, menyentuhnya dengan ibu jarinya, lalu sesaat kemudian kedua belah bibir itu sudah menyentuh bibir mungilnya. Seungyeon merasakan kelembutan bibir Jinki, membiarkan pria itu menuntunnya. Bergerak sesuai keinginannya dan Seungyeon berusaha menyesuaikannya. Kedua orang itu seakan melupakan segalanya. Hanya ada mereka berdua, membiarkan dirinya hanyut dalam ciuman Jinki.

 

Sementara Jiyoung menatap semua itu lewat celah pintu. Ia tidak sanggup melihatnya lagi. Tepat ketika Jinki mendaratkan bibirnya pada bibir Seungyeon, gadis itu berbalik dan meninggalkan rumah Seungyeon. Ia merasa marah pada dirinya sendiri. ia terlalu egois dan tidak memikirkan perasaan kedua orang itu.

 

Ia tidak tahu kalau Seungyeon sudah sangat menderita karena dirinya. Jinki pun begitu. Ia sudah mengambil kebahagiaan kedua orang itu, dan Jiyoung benar-benar merasa sangat marah pada dirinya.

 

Ia terus belari menuju taman dan menjatuhkan tubuhnya di bawah sebuah pohon. Gadis itu memeluk lututnya dan kembali menangis. Membiarkan bahunya berguncang hebat karena tangisannya. Untungnya saat hari menjelang malam seperti ini tidak ada siapapun di taman itu.

 

Seseorang  mengahampiri Jiyoung, berdiri di hadapannya dengan tatapan nanar. Mendengar setiap isakan yang keluar dari bibirnya dengan perasaan sakit. Sakit karena melihatnya sedih, dan sakit karena ia menangisi pria lain yang sama sekali tidak mencintainya.

 

Merasa dirinya sedang diperhatikan, Jiyoung pun menghentikan tangisnya tapi tidak berniat untuk mengangkat kepalanya. Gadis itu hanya mengintip lewat celah-celah lengannya dan mendapati sepatu Taemin sedang berdiri di hadapannya. tentu saja ia tahu siapa pemilik sepatu berwarna biru tua itu.

 

Taemin mendudukan tubuhnya di sebelah Jiyoung, menatap kosong ke depan, dan tidak berniat untuk memulai percakapan. Ia tahu Jiyoung sedang butuh waktu untuk menangkan dirinya, jadi ia biarkan kesunyian menyelimuti mereka.

 

Setelah beberapa menit berlalu, perlahan kepala Jiyoung terangkat. Ia tidak langsung menatap ke arah Taemin, melainkan memusatkan pandangannya pada dedaunan pohon yang berjarak beberapa meter di depan mereka. Matanya tampak sembab dan hidungnya memerah. Sisa-sisa air mata membuat bulu mata lentiknya tampak basah, dan ia tidak berniat menghapus lelehan cairan bening itu dari pipinya.

 

Taemin menolehkan kepalanya, masih membisu karena tidak tahu harus mengatakan apa pada gadis di hadapannya ini. ia sudah mengatakan semuanya tadi sepulang sekolah. Mengungkapkan perasaannya pada Jiyoung, tapi gadis itu malah menolaknya dan lebih memilih Jinki meskipun pria tersebut tidak mencintainya sama sekali.

 

“maafkan aku…” ujar Jiyoung tiba-tiba.

 

Taemin sedikit terkejut, namun dengan cepat ia menguasai dirinya.

 

“minta maaf untuk apa?” tanyanya datar.

 

Jiyoung kembali terdiam. Ia tidak tahu harus menjawabnya seperti apa. ia tidak bisa menyakiti perasaan Taemin lagi. Sudah terlalu banyak orang yang menderita karena dirinya. Seungyeon, Jinki, dan sekarang Taemin. Kenapa ia tidak bisa membuat orang lain bahagia? Kenapa ia selalu bersikap egois?

 

“tidak ada yang perlu meminta maaf dan dimaafkan. Aku memang tidak bisa memaksakan perasaanmu jika kau memang tidak menyukaiku. Bisa mengungkapkannya padamu saja sudah membuatku cukup lega. Paling tidak aku tidak perlu menyembunyikannya terus menerus dan membuat dadaku sesak. Meskipun tidak bisa menjadi pacarmu, aku sudah bersyukur hanya dengan menjadi temanmu dan selalu ada di sampingmu saat kau sedang membutuhkan seseorang. Jadi…kau tidak perlu meminta maaf jika memang tidak bisa menerima pernyataan cintaku.” Jelas Taemin panjang lebar sementara Jiyoung hanya mendengarkannya dalam diam. Ia melihat Taemin tersenyum padanya. bukan senyum seperti biasa yang sering dilihatnya. Senyum itu penuh dengan kepedihan, penuh dengan beban dan tidak terlihat tulus. Jiyoung merasa sesuatu menghantamnya dengan sangat keras, menghempaskannya dari atas tebing yang tinggi dan membiarkannya tenggelam di lautan luas yang sangat dalam. Perasaan aneh menyelimutinya ketika melihat wajah Taemin. Ia tidak mau pria itu ikut terluka. Ia tidak mau senyum Taemin berubah. ia ingin selalu bisa melihat senyum tulus itu setiap hari di wajahnya.

 

Jiyoung merasakan Taemin memegang poninya, lalu mengacaknya. Jantungnya berdebar kencang, dan wajahnya memanas. Bahkan ia tidak pernah merasakan perasaan ini saat sedang bersama Jinki. ia merasa sangat nyaman, merasa hanya Taemin yang dapat mengerti dirinya. merasa bahwa Taemin adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuknya.

 

Pria itu bangkit dari duduknya, dan dengan langkah pelannya yang lemah, ia beranjak untuk meninggalkan Jiyoung di sana. Tiba-tiba semua seakan menekan kepala Jiyoung. Ingatan-ingatan ketika ia dan Taemin selalu bersama. bagaimana ia menemani Jiyoung menunggu hujan reda, bagaimana pria itu menariknya dan memeluknya ketika ia harus melihat Jinki dan Seungyeon berciuman, bagaimana ia sudah membuat keceriaannya kembali saat sedang kesal dengan Seungyeon yang berangkat ke sekolah dengan Jinki.

 

ia menatap punggung Taemin yang semakin menjauh meninggalkannya. Jantung Jiyoung berdetak lebih cepat. ia takut untuk kehilangan pria itu, ia tidak mau kehilangan sosok Taemin yang ternyata baru ia sadari sangat berarti baginya. Jadi Jiyoung memutuskan untuk mengejarnya. Sekuat tenaga ia berlari dan memeluk punggung pria itu. membiarkan air matanya kembali mengalir saat Taemin menghentikan langkahnya. Tentu saja pria itu sangat terkejut. Ia tidak menyangka Jiyoung akan melakukan ini. tubuhnya mematung tidak dapat bergerak.

 

“Ji-Jiyoung-ah…” panggilnya pelan.

 

“jangan pergi Taemin-ah…jangan tinggalkan aku…” isak gadis itu.

 

Taemin membalikan tubuhnya dan menatap mata Jiyoung yang berair. Ia menangkup pipi chubby gadis itu dengan kedua telapak tangannya dan mencari sebuah kejujuran di kedua mata bulatnya.

 

“apa maksudmu?” tanyanya masih merasa bingung. Padahal baru saja Jiyoung menolaknya, dan sekarang ia tidak ingin Taemin meninggalkannya.

 

“aku…aku menyukaimu.” Jawabnya dengan suara gemetar.

 

Belum sempat Taemin membalasnya, ia langsung menambahkannya lagi. “aku memang menyukai Jinki Oppa, tapi…kau membuat semuanya berbeda. Aku baru menyadarinya. Mungkin selama ini aku sudah menyukaimu. Aku sudah menyukaimu saat kau menemaniku menunggu hujan reda, tapi aku tidak pernah menyadarinya. Yang aku tahu aku hanya menyukai Jinki Oppa karena ia adalah laki-laki pertama yang sudah menarik perhatianku sampai seperti ini. tapi kau tidak, kau sama sekali tidak menarik perhatianku, tapi kau membuatku menyukaimu tanpa kusadari. Karena kau tidak memperbolehkanku meminta maaf, maka biarkan aku mengucapkan terima kasih. Terima kasih Lee Taemin, untuk semuanya.”

 

Temin tertegun. Ia masih belum memercayainya, ini terasa seperti mimpi. namun senyuman di wajah Jiyoung membuatnya tersadar. Gadis itu mengedipkan kedua matanya beberapa kali menunggu Taemin membuka suaranya, namun tak juga dilakukan oleh pria itu. hingga akhirnya ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Terasa lembut dan hangat. Jiyoung membelalakan matanya lebar, terkejut dengan tindakan Taemin. namun perlahan, mata gadis itu mulai menutup dan menerima ciuman Taemin. ia mencoba membalas setiap kecupan yang diberikan Taemin dengan perasaan gugup. jantungnya berdetak sangat kencang hingga rasanya hampir melompat keluar dari rongga dadanya. inilah perasaannya yang sebenarnya. Taemin adalah pria yang ia sukai sekarang, dan bukannya Jinki. ia akan membiarkan Jinki bersama Seungyeon. Kali ini Jiyoung tidak ingin membuat orang-orang yang disayanginya terluka.

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

Keesokan harinya—saat Jiyoung sedang menunggu Taemin di kantin sekolah karena pria itu harus mengantar tugasnya dulu pada Hwang Sonsaengnim—tiba-tiba Jinki dan Seungyeon menghampirinya. Tentu saja Jiyoung terkejut dengan kedatangan kedua orang itu. mereka tampak sangat gugup.

 

“mm…Jiyoung-ah, ada yang ingin kami katakan padamu.” Ujar Seungyeon. Diam-diam ia menggenggam erat tangan Jinki di bawah meja. Dan Jinki membalas genggaman itu tak kalah erat memberikan keberanian pada Seungyeon.

 

“sebenarnya aku dan Jinki…”

 

Belum sempat Seungyeon meyelesaikan kalimatnya, Jiyoung sudah memotongnya lebih dulu. ia tersenyum hangat dan mengangguk.

 

“aku tahu.” Ujarnya sambil menyeruput jus jeruknya.

 

Jinki dan Seungyeon membelalakan mata mereka. Tentu saja Seungyeon yang merasa paling takut dengan reaksi Jiyoung selanjutnya. Tapi tampaknya gadis itu tenang-tenang saja. tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menyiram mereka dengan jus atau menjambak habis rambut Seungyeon.

 

“ba-bagiamana bisa?” tanya Jinki yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya.

 

Jiyoung tertawa pelan. “mm…sebenarnya aku melihat semuanya kemarin, saat di kamar Seungyeon Eonni…kalian menangis, berpelukan, lalu berciuman, lalu….” gadis itu sengaja menggantung kalimatnya, padahal tidak ada lagi yang ia lihat karena sudah tidak di rumah Seungyeon saat kedua orang itu berciuman.

 

Wajah keduanya memerah dan mereka berdeham sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain. Jiyoung tertawa keras melihat kegugupan Jinki dan Seungyeon, ia sampai harus memegang perutnya.

 

Tak berapa lama kemudian Taemin datang dan duduk di sebelah Jiyoung.

 

“oh, ada kalian juga? Annyeong!” sapa Taemin.

 

Pria itu menatap kekasihnya yang masih saja tertawa keras. ia menyentil kening Jiyoung pelan dan membuat tawa gadis itu terhenti seketika, digantikan dengan bibir cemberutnya yang tampak menggemaskan.

 

“apa yang kau tertawakan?” tanya Taemin sambil mencubit pipi chubby Jiyoung.

 

“aaw!! Sakit tahu!!” kali ini Jiyoung yang mencubit kedua pipi Taemin.

 

Sementara dua orang yang duduk di hadapan mereka hanya dapat melongo. Apa yang terjadi pada kedua dongsaeng mereka? Kenapa terlihat sangat mesra? Kenapa Jiyoung tidak marah sama sekali setelah mengetahui semuanya? segala pertanyaan berkecamuk di pikiran kedua orang itu.

 

Menyadari ekspresi-ekspresi bingung di hadapan mereka, akhirnya Taemin dan Jiyoung menghentikan ‘kegiatan’ mereka. Dengan wajah malu-malu, Taemin mengatakan yang sebenarnya pada Jinki dan Seungyeon.

 

“mm…sebenarnya kami sudah berpacaran.” Ujarnya pelan. Jiyoung menggigit bibirnya menahan malu. Padahal dulu, saat ia berpacaran dengan Jinki ia tidak semalu ini saat mengungkapkannya pada Seungyeon. Bukan berarti Taemin memalukan dan ia juga malu memperkanalkannya sebagai kekasih. Tapi malu dalam artian lain.

 

Kali ini Jinki dan Seungyeon tidak dapat menutup mulut mereka. Bingung kenapa semuanya jadi mendadak seperti ini. perlahan, sebuah senyuman tersungging di wajah Jinki. ia menatap Taemin dengan mata berbinar.

 

“jadi selama ini gadis yang kau sukai itu Jiyoung???” tanyanya sambil meninju pelan bahu Taemin.

 

Taemin tertawa pelan dan mengelus bahunya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.

 

“woaahh…akhirnya kau mendapatkannya setelah penantian satu tahun itu.”

 

Taemin mengerucutkan bibirnya. “itu karena kau sudah tebar pesona padanya!”

 

“enak saja, aku tidak melakukan apa-apa kok! Ah~ aku tahu ini risiko menjadi orang tampan.”

 

“mwo???”

 

“stop!”

 

“stop!”

Jiyoung dan Seungyeon menghentikan perdebatan kedua orang itu. mereka tampak sangat bingung bagaimana bisa Taemin dan Jinki jadi sangat akrab. Padahal selama ini mereka tidak pernah melihat keduanya berbicara satu sama lain.

 

“kalian sudah berteman lama?” tanya Seungyeon sambil menatap Jinki dan Taemin bergantian.

 

“oh, jadi kau belum tahu? Sebenarnya kami kakak-adik.” Jawab Jinki sambil cengengesan dan membuat kekasih mereka masing-masing lebih terkejut lagi.

 

“ta-tapi…saat aku ke rumah Jinki untuk mempersiapkan olimpiade matematika aku tidak pernah melihatmu!” celetuk gadis itu masih tidak percaya bahwa Jinki dan Taemin bersaudara.

 

“itu karena si ayam ini melarangku keluar kamar! katanya ia tidak mau aku mengganggu acara kencannya denganmu. Asal Noona tahu saja, selama ini Hyung tidak menganggap kalian hanya belajar bersama untuk persiapan olimpiade. Tapi ia menganggap itu semua adalah acara kencannya denganmu.”

 

Seungyeon merasakan wajahnya memanas. Ternyata Jinki juga sudah menyukainya sejak dulu. tapi kenapa ia tidak pernah menyadarinya?

 

“ya!!! Dasar kau tidak bisa jaga rahasia!” Jinki menjitak kepala Taemin.

 

“ahh…sakit!!!”

 

Jiyoung menatap jidat Taemin yang memerah dengan kuatir. Ia mengusapnya pelan dan meniupnya lembut, berharap dengan begitu sakitnya akan hilang.

 

“oya…dan hubunganmu dengan Jiyoung??? Kau sudah mengakhirinya kan?!” tanya Taemin tiba-tiba membuat Jinki serta Jiyoung terkejut. Mereka saling menatap, merasa tidak enak. Biar bagaimana pun saat ini mereka masih sepasang kekasih resmi. Kalau tidak diakhiri, berarti sama saja dengan menjadikan Taemin dan Seungyeon sebagai orang ke dua di tengah-tengah mereka.

 

“mm…baiklah, mulai sekarang kau adalah adik iparku!” ujar Jinki dan membuat Jiyoung tersipu malu. Taemin sangat senang dengan panggilan baru Jinki untuk Jiyoung.

 

“kalau begitu Seungyeon Noona juga kakak iparku!” celetuknya.

 

Dan kali ini Seungyeon yang tersipu malu. Lalu sesaat kemudian mereka tertawa. Penuh dengan kegembiraan, tidak ada kecanggungan sama sekali. seakan seluruh beban yang selama ini mereka pikul terangkat begitu saja.

 

Semuanya terasa lengkap. Mereka tidak terpisah, tidak ada permusuhan, dan segalanya kembali seperti semula. Mereka harus melalui beberapa halangan untuk dapat menemukan pasangannya masing-masing. Dan keempat orang itu berjanji untuk tetap seperti ini. saling melengkapi, saling mendukung.

 

<.>THE END<.>

Advertisements