Title: Complete Our Love

Author: TyMinMin/Seul95

Length:  Short Chapter

Genre: Romance, Friendship, School Life

Rating: PG-15

Casts:

–          Kang Jiyoung

–          Han Seungyeon

–          Lee Taemin

–          Lee Jinki

Summary: Kang Jiyoung dan Han Seungyeon telah lama bersahabat, tapi tanpa diduga mereka menyukai pria yang sama. Sementara si kakak beradik Lee menyukai masing-masing dari kedua gadis tersebut. apakah mereka bisa bersatu?

edit cover complete our love

Jiyoung menghapus sisa-sisa air mata yang masih meleleh di pipinya. Ia mencoba untuk mengatur napasnya yang memburu dan menghentikan cairan bening itu mengalir keluar dari mata indahnya. Ia benar-benar merasa sangat marah saat ini. sebelumnya Jiyoung tidak pernah merasakan hal seperti ini, dan ia tidak pernah merasa terkhianati sampai seperti ini juga. Ia selalu mendapatkan apa yang ia mau, Seungyeon dan Gyuri selalu mengalah padanya. orangtuanya pun begitu. Ia tumbuh besar dengan sifat egois yang sudah terbentuk sejak dirinya masih bayi. Dan sekarang, saat ia sedang menghadapi hal ini, rasanya Jiyoung sangat membenci Seungyeon.

Ia tahu sahabatnya itu tidak salah apa-apa. Seungyeon tidak tahu sama sekali bahwa Jiyoung menyukai Jinki, jadi ia pasti merasa tidak perlu menjaga perasaan Jiyoung dengan menolak pernyataan cinta Jinki. tapi tetap saja Jiyoung merasa sangat marah. Ia tidak suka seseorang mengambil apa yang ia rasa adalah miliknya.

Jemari Jiyoung mengepal kuat di sisi tubuhnya. Taemin menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk. Ia sudah melewati dua mata pelajaran untuk menemani Jiyoung membolos di gazebo sekolah. Taemin rasa Jiyoung tidak boleh sendiri, ia bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal nantinya. Pria itu cukup tahu bagaimana sifat Jiyoung hanya dengan memerhatikannya selama ini. Jiyoung bisa saja menyakiti Seungyeon atau Jinki, ia bisa membuat keributan di sekolah dengan mendatangkan kelas Seungyeon. Dan Taemin tidak ingin hal itu terjadi.

Jadi Taemin memutuskan untuk menemani Jiyoung. Gadis itu juga sangat membutuhkan seseorang di sampingnya saat ini. meskipun sejak tadi mereka tidak berbicara apa-apa, paling tidak Taemin tahu bahwa Jiyoung merasa lebih nyaman saat ada dirinya ketika situasinya sedang seperti ini.

“aku benci mereka!!” untuk yang pertama kalinya Jiyoung mengeluarkan suara setelah dua jam hanya menangis yang bisa ia lakukan. Suaranya terdengar sumbang dan serak.

“kau memang punya hak untuk membenci seseorang, tapi kau harus mempunyai alasan yang jelas.” Ujar Taemin merespon ucapan Jiyoung. Gadis itu menolehkan kepalanya dan menatap Taemin dengan tajam.

“tentu saja aku punya alasan yang jelas! Seungyeon Eonni sudah merebut Jinki Oppa dariku! Jinki Oppa-ku!!” pekiknya dengan wajah memerah. Air mata membuat pandangannya kembali kabur, tapi kali ini ia bisa menahannya agar tidak tumpah. Sudah cukup ia menangis, rasanya sangat lelah jika harus melakukannya lagi.

“tapi ia tidak tahu kalau kau menyukai Jinki Hyung, lagipula Jinki Hyung juga tidak tahu kalau kau menyukainya. Kupikir Jinki Hyung tidak pernah menyadari kehadiranmu selama ini.” ujarnya membuat Jiyoung semakin naik darah.

Gadis itu berdiri dari duduknya dan menendang kaleng kosong yang ada di depan kakinya. Ia menatap Taemin marah, tidak terima dengan ucapannya. Dipikirnya pria itu akan membelanya, membantunya untuk merebut Jinki dari Seungyeon. Tapi nyatanya ia malah membela kedua orang tersebut.

Mereka saling menatap untuk beberapa saat, hingga akhirnya suara deringan bel yang menandakan berakhirnya pelajaran untuk hari ini mengalihkan tatapan Jiyoung. Ia melihat satu per satu murid-murid tersebut mulai keluar dari kelas dengan tas mereka masing-masing. Jiyoung kembali menolehkan kepalanya pada Taemin dan menyipitkan mata.

“aku juga benci kau!!!”

Setelah berkata seperti itu Jiyoung berlari menuju kelasnya untuk mengambil tas yang masih ia simpan di bawah laci mejanya. Rasanya gadis itu ingin cepat-cepat pulang dan membungkus seluruh tubuhnya di bawah selimut. Menangis sepuas yang ia mau tanpa ada seorang pun yang dapat mengganggunya. Sekalipun itu Gyuri dan Jonghyun, karena Jiyoung tahu Gyuri pasti akan pergi ke kantor Jonghyun untuk mengirimkannya makan siang.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seungyeon berdiri di samping meja Jiyoung. Kelas gadis itu memang sudah kosong, tapi tas Jiyoung masih berada di bawah laci mejanya. Jadi Seungyeon tahu bahwa ia masih berada di sekolah.

Seungyeon berjalan mondar-mandir memikirkan Jiyoung. Ia tahu sahabatnya itu pasti sangat marah padanya karena sudah melupakannya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah pada Jiyoung karena ini pertama kalinya ia membuat gadis itu marah sampai seperti padanya.

Beberapa menit kemudian, sosok Jiyoung muncul memasuki ruang kelas. Gadis itu berhenti, mematung saat mendapati Seungyeon sedang berdiri di samping mejanya. Mereka bertatapan sejenak, dan Seungyeon dapat melihat mata Jiyoung yang merah dan bengkak. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa gadis itu akan menangis sampai begini hanya karena ia melupakannya. Setidaknya itu adalah pemikiran Seungyeon.

Ia berjalan mendekati Jiyoung, namun gadis itu malah melewatinya dan mengambil tas yang masih berada di bawah laci mejanya. Ia hendak meninggalkan Seungyeon di kelas ketika gadis itu menghentikannya.

“tunggu!!!” pekik Seungyeon. Ia menarik tangan Jiyoung hingga menghadap padanya. dengan jarak seperti ini, Seungyeon dapat melihat seberapa buruknya wajah gadis itu karena menangis. Seungyeon pikir ia sudah menangis terlalu lama.

“Jing….maafkan aku….tolong jangan seperti ini…” mohon Seungyeon dengan wajah memelas. Ia menggigit bibirnya menunggu Jiyoung menerima permintaan maafnya.

“seperti apa??? kau mau aku seperti apa??? menjambak rambutmu? Menginjak kakimu? Mencakar wajahmu?” ujar Jiyoung penuh emosi. Dan tentu saja Seungyeon sangat terkejut mendengar gadis itu berbicara seperti itu padanya. ini bukan Jiyoung yang dikenalnya, ia sama sekali tidak mengenal Kang Jiyoung yang sekarang sedang berdiri di hadapannya. menatapnya dengan penuh emosi seakan siap menelannya hidup-hidup jika ia mau.

“aku…aku tahu aku salah. tapi tolong jangan marah padaku. aku janji tidak akan melupakanmu lagi, kita akan berangkat sekolah bersama dan pulang bersama.” pinta Seungyeon lagi. Ia hampir menangis melihat Jiyoung bersikap seperti ini padanya. air matanya sudah mengintip dan tinggal menunggu waktunya untuk tumpah.

“yah, kau memang salah sudah melupakanku. Tapi kau lebih salah lagi karena sudah melupakanku demi Jinki Oppa!!!” bentak Jiyoung dengan suara bergetar. Air matanya jatuh saat mengucapkan kalimat itu. emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia ingin menjambak rambut Seungyeon saking kesalnya dengan sahabatnya itu.

Sementara Seungyeon tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia tidak tahu dari mana Jiyoung bisa tahu bahwa pagi tadi ia berangkat dengan Jinki, dan saat ini Seungyeon benar-benar takut jika Jiyoung mengetahui bahwa ia berpacaran dengan Jinki. ia pasti akan sangat marah karena selama ini ia sudah menyembunyikan perasaannya dan tidak berbagi dengannya.

“aku melihatmu! Aku melihatmu saat waktu istirahat tadi. Jinki Oppa memintamu menjadi pacarnya dan kalian berciuman. Aku melihat semuanya!!” ujar Jiyoung lagi membuat Seungyeon seakan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Jiyoung. Bingung harus menjelaskannya dengan cara apa.

“aku…aku menyukai Jinki Oppa!! Tapi kau sudah merebutnya dariku!! Aku benci kau!!!” setelah berkata seperti itu, Jiyoung berlari meninggalkan Seungyeon yang masih mematung di tempatnya. Rasanya baru pagi tadi ia merasa sangat bahagia, setelah menjadi kekasih Jinki. tapi sekarang perasaan itu lenyap seketika saat mendengar ucapan Jiyoung. Pantas saja gadis itu sangat marah padanya.

Rasa bersalah semakin meggerogoti diri Seungyeon. Ia menutup mulutnya dengan tangannya yang bergetar, mencoba menahan isak tangisnya. Dan ia tahu bahwa ia sudah kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya. Jiyoung sama sekali tidak akan memaafkannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seungyeon berdiri sambil meremas jari jemarinya. Wajahnya tampak tidak bersemangat dan sedikit pucat. Kenyataan bahwa Jiyoung sudah membencinya membuatnya sangat takut kehilangan temannya itu. ia sangat menyayangi Jiyoung seperti adiknya sendiri. ia tidak ingin kehilangan sosok gadis itu hanya karena seorang pria. Jadi pada sabtu pagi, ketika murid-murid yang lain menikmati akhir pekan dengan keluarga, teman, atau kekasih mereka, Seungyeon memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan Jinki.

Ia menunggu pria itu di taman di dekat rumahnya dengan jantung berdebar. Ia harap pria itu tidak datang, jadi ia bisa menunda waktu untuk mengatakan maksudnya mengajaknya ke sini. Tapi harapan tinggal harapan. Seungyeon dapat melihat dari kejauhan Jinki sedang berlari menghampirinya. Kulitnya tampak putih bercahaya di bawah sinar matahari, dan rambut cokelatnya bergerak mengikuti gerak tubuhnya. Ia tersenyum pada Seungyeon, menunjukan mata bulan sabitnya.

Tentu saja Seungyeon semakin merasa tidak rela untuk melepaskan Jinki darinya. Tubuhnya semakin bergetar saat Jinki sudah tiba di hadapannya, dan tanpa ia duga sebelumnya, pria itu sudah mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibirnya. Seungyeon tidak bisa bereaksi apa-apa. ia hanya terbelalak terkejut, kehilangan suaranya untuk mengucapkan sepatah katapun.

“aku merindukanmu. Maaf sudah membuatmu menunggu.” Ujarnya.

Seungyeon mendongakan wajahnya dan menatap kedua manik mata cokelat Jinki. ia mendapati pantulan wajahnya di sana, tampak rapuh dan pucat. Seungyeon berusaha untuk membuka mulutnya, tapi lidahnya terasa kelu. Ia benar-benar tidak bisa mengucapkan apa-apa.

“kau sakit?” tanya Jinki tampak kuatir sambil memegang pipi kiri Seungyeon.

Gadis itu menolehkan kepalanya hingga tangan Jinki terlepas dari pipinya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang membuat pandangannya kabur. Entah kenapa semuanya terasa sangat singkat sekali. baru kemarin ia resmi menjadi kekasih Jinki, dan sekarang harus berpisah darinya?

“Seungyeon-ah…”

“aku mau putus!” potong Seungyeon sebelum Jinki menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak mau mengulur waktu lagi, ia takut akan berubah pikiran dan tidak sanggup melepaskan pria ini.

Jinki tampak sangat terkejut dengan ucapan Seungyeon. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya lenyap seketika. Tubuhnya mematung dan tiba-tiba saja merasa seperti terhempas dari ketinggian.

“kau bercanda kan?” tanyanya untuk memastikan.

Seungyeon menggeleng pelan sambil menunduk, tidak berani menatap wajah Jinki.

“aku mau putus. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu, maafkan aku.” Ucapnya dengan suara bergetar.

Jinki mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan. Ia merasa hancur, merasa dipermainkan oleh gadis di hadapannya ini. rasa nyeri di dadanya seakan memaksanya untuk mati.

“tapi kenapa? ada apa denganmu Seungyeon-ah?! Aku tahu ini bukan keinginanmu. Katakan padaku ini bukan karena kemauanmu sendiri!” Jinki memegang bahu Seungyeon dan mengguncangnya, membuat gadis itu mengeluarkan isakan dari bibir mungilnya.

“aku…aku menginginkannya! Ini keinginanku!” pekik Seungyeon dengan terpaksa. Seakan ada sesuatu yang menghantam jantungnya dengan sangat keras saat ia mengucapkan kalimat itu. napasnya menjadi sesak dan ia mendapati dirinya sudah menangis keras, tersengal-sengal seakan tidak ada cukup oksigen di sekitarnya.

Jinki melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Seungyeon, tubuhnya terasa sangat lemas dan ia merasa tidak sanggup hanya untuk melangkahkan kakinya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada batang pohon dan mengusap wajahnya frustasi.

“tinggalkan aku…dan jadikanlah Jiyoung sebagai penggantiku.” Ujar Seungyeon setelah beberapa saat hanya kesunyian yang mendominasi. Jinki mengangkat kepalanya dengan wajah terkejut.

“apa?!”

“Jiyoung…dia menyukaimu.” Tambah gadis itu pelan.

“tidak! Aku tidak menyukai Jiyoung, aku menyukaimu Han Seungyeon! Yang kusukai itu kau!” ucap Jinki dengan wajah tertekan.

“kau harus menyukainya Jinki! kau harus belajar untuk menyukainya…”

Jinki terkekeh pelan. Ia memutar bola matanya dengan kesal. Bagaimana mungkin perasaan bisa dipaksakan?

“dengar…”

“kumohon…ini permintaan terakhirku. Hanya sekali ini saja, tolong biarkan Jiyoung yang menggantikanku. Buat dia bahagia…” pinta Seungyeon dengan wajah memelas. Jinki terdiam, ia tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Mata gadis itu kembali berair, wajahnya pucat seakan ada begitu banyak beban yang harus ia pikul. Hingga akhirnya—dengan terpaksa—Jinki mengabulkan permintaan terakhirnya itu. jika hal itu bisa membuat Seungyeon bahagia, ia akan melakukannya. ia tidak ingin melihat air mata Seungyeon lagi. Setidaknya Jinki dapat meringankan beban Seungyeon dengan menjadikan Jiyoung sebagai kekasihnya.

“baiklah. Jika memang itu yang kauinginkan.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Jinki pun berbalik dan meninggalkan Seungyeon sendirian di taman itu. setetes air mata menganak sungai dari pipinya. Ia memegang dadanya yang masih terasa nyeri.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Tiga hari berikutnya, kabar bahwa Jinki sudah berpacaran dengan Jiyoung menyebar luas di sekolah. Tentu saja banyak yang membicarakannya. Jinki adalah wakil dari sekolah mereka yang sering mengikuti olimpiade matematika dan sudah sering mengharumkan nama sekolah. Ia sempat menjabat sebagai ketua osis setahun yang lalu, dan menjadi murid kesayangan setiap guru. Ditambah dengan wajahnya yang tampan, tidak sedikit gadis-gadis di sekolah mengagumi sosoknya.

Banyak yang menyayangkan karena Jinki memilih Jiyoung sebagai kekasihnya. Si junior yang tidak terlalu menonjol dan sedikit menyebalkan bagi beberapa siswi yang iri padanya.

Tentu saja Seungyeon juga sudah mendengar kabar itu. teman-teman sekelasnya sedang sibuk membicarakan tentang hubungan Jinki dan Jiyoung. Hal ini menyebar sejak Jinki mencegat Jiyoung di koridor sekolah dan memintanya menjadi pacarnya kemarin. Beberapa siswa yang menyaksikan kejadian itu saling menceritakan pada siswa yang lain. Banyak yang ingin membuktikannya hingga terkadang mereka mengikuti Jiyoung dan Jinki ke kantin. Dan memang benar, kedua orang itu memang tampak seperti sepasang kekasih. Jiyoung selalu menggamit lengan Jinki kemana pun mereka pergi, menyuapkannya makanan saat sedang makan di kantin, dan masih banyak lagi yang bisa membuktikan bahwa keduanya memang sedang berpacaran,

“Seungyeon-ah, kau sudah tahu kan tentang Jiyoung dan Jinki?” tanya salah seorang temannya saat ia sedang membaca sebuah buku pelajaran hanya untuk mengalihkan pikirannya dari kedua orang tersebut.

Seungyeon mengangkat kepalanya dan menganguk pelan.

“aku tidak menyangka ternyata Jinki menyukai gadis manja seperti Jiyoung. Memang sih dia cantik, imut, supel, tapi….aku tidak merasa mereka cocok.” Ujar gadis itu dengan mimik wajah tidak suka.

Seungyeon memaksakan seulas senyum pada wajahnya. “menurutku cocok-cocok saja kok.”

“cocok apanya?! Oya Seungyeon-ah, bukankah kau pernah mengikuti olimpiade matematika dengan Jinki? kau terlihat lebih cocok dengannya, kau tahu? Kupikir kalian saling suka, aku sering melihat kalian saling curi pandang.” Ujarnya bersemangat.

Seungyeon mengernyitkan kening dan menatap teman sebangkunya itu. bagaimana mungkin ia tahu? Padahal Seungyeon tidak pernah menunjukannya dengan terang-terangan.

“kau pikir aku tidak tahu? Seungyeon-ah, sudah jelas-jelas kalian itu saling suka. Pasti ada sesuatu yang membuatnya lebih memilih Jiyoung.” Ia menyipitkan matanya sambil mengusap dagu lancipnya.

Sementara Seungyeon hanya dapat menghela napas berat. Meskipun terasa sangat sesak baginya, tapi ia rela melakukannya demi kabahagiaan Jiyoung. Asalkan ia tidak kehilangan gadis itu, asalkan gadis itu tidak membencinya lagi. Ia rela melepaskan pria yang sangat ia cintai.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Dua minggu berlalu, Jiyoung dan Jinki masih tampak mesra. Atau lebih tepatnya Jiyoung yang selalu bersikap mesra pada Jinki. gadis itu memang tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya ketika Jinki memintanya menjadi kekasihnya. Ia langsung mencari Seungyeon dan berterimakasih pada Eonni-nya itu karena sudah menyerahkan Jinki padanya.

Tapi setelah dua minggu berjalan, Jiyoung merasa hubungannya dengan Jinki terasa sangat janggal. Ia tidak merasa Jinki juga menyukainya. Jiyoung pikir pria itu pasti butuh waktu untuk bisa menyukainya, tapi sepertinya tidak. Sedikitpun ia tidak pernah berusaha untuk menyukai Jiyoung. Ia tidak pernah membalas perlakuan manisnya, tidak menanggapi perhatiannya, tidak pernah tersenyum padanya, dan Jiyoung sering mendapati kekasihnya itu termenung.

Semuanya semakin terasa aneh saat sikap Seungyeon juga jadi ikut berubah, sama seperti Jinki. ia tidak seceria dulu, tubuhnya semakin kurus, dan selalu menghindari perbincangan tentang Jinki. Jiyoung seakan tidak mengenal Seungyeon. Bahkan Taemin juga menghindarinya. Ia tak pernah berbicara padanya, apalagi menyapa. Sekadar melirik pun tidak. Mungkin pernah, tapi tanpa sepengetahuan Jiyoung.

Gadis itu berjalan keluar gerbang sekolah dengan kepala tertunduk. Sudah dua hari ini Seungyeon tidak masuk karena sakit, dan Jinki harus menghadiri seminar di sekolah lain. Jiyoung merasa sangat kesepian sejak tadi. Teman-temannya yang lain mulai menjauhinya ketika kabar tentang hubungannya dengan Jinki menyebar. Entahlah, Jiyoung juga tidak mengerti kenapa.

Langkah Seungyeon terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati wajah datar Taemin. Jiyoung sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, namun beberapa detik kemudian senyum lebar tersungging di wajah cantiknya.

“Taemin-ah!!” pekik gadis itu girang.

Namun Taemin tidak bereaksi apa-apa. ia hanya terdiam menatap Jiyoung dan membuat gadis itu bingung. Ia memiringkan kepala dengan wajah penuh tanda tanya.

“Jiyoung-ah…kenapa kau tidak bisa melihatku?” tanya Taemin tiba-tiba yang semakin membuat Jiyoung bingung. Ia mengernyitkan kening tidak mengerti.

“aku selalu ada di sampingmu saat kau sedang kesepian, saat kau butuh seseorang, saat kau ingin menangis, aku selalu ada kan? Tapi kenapa kau tidak pernah melihatku?? Kenapa Kang Jiyoung???” tanyanya frustasi. Wajah Taemin tampak memerah entah itu karena marah atau menahan air mata.

Jiyoung benar-benar terkejut mendengar ucapan Taemin. Ia memundurkan langkahnya dengan mulut ternganga. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang tapi ia tidak tahu kenapa. ia ingin menangis tapi tidak bisa melakukannya.

“tinggalkan dia, dan lihatlah aku.” Ujar pria itu lagi.

Jiyoung menggeleng pelan. “tidak bisa…kau tahu aku sangat menyukainya!!”

“tapi dia tidak menyukaimu Kang Jiyoung, dia menyukai Seungyeon Noona!! Dia tidak akan bisa membuatmu bahagia…”

“tidak!! Dia pasti akan menyukaiku, dia hanya butuh waktu!!!” pekik Jiyoung dengan bibir yang mulai bergetar dan pandangan mengabur.

“Kang Jiyoung….”

Belum sempat Taemin menyelesaikan kalimatnya, Jiyoung sudah mendorongnya dan berlari sekencang mungkin sambil menutup telinganya. Ia tidak mau mendengar ucapan Taemin lagi. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa yang dicintai Jinki itu adalah Seungyeon, dan bukan dirinya. ia terus melangkahkan kakinya sekencang yang ia bisa, tidak mengenal rasa lelah dan membiarkan air mata terus mengalir.

<<TBC>>

Advertisements