Title: Complete Our Love

Author: TyMinMin/Seul95

Length:  Short Chapter

Genre: Romance, Friendship, School Life

Rating: PG-15

Casts:

–          Kang Jiyoung

–          Han Seungyeon

–          Lee Taemin

–          Lee Jinki

Summary: Kang Jiyoung dan Han Seungyeon telah lama bersahabat, tapi tanpa diduga mereka menyukai pria yang sama. Sementara si kakak beradik Lee menyukai masing-masing dari kedua gadis tersebut. apakah mereka bisa bersatu?

edit cover complete our love

Seungyeon dan Jinki melangkahkan kaki mereka dengan perlahan dalam kesunyian. Keduanya sama sekali tidak berbicara setelah meninggalkan sekolah tadi. Seungyeon benar-benar merasa sangat canggung berjalan di sebelah pria yang disukainya ini sambil menggamit lengannya. Ini adalah pertama kalinya Seungyeon mengalungkan lengannya pada lengan Jinki.

Hujan menghantam permukaan payung mereka semakin keras, dan Seungyeon merasa seragam di bahu kanannya mulai basah. Tentu saja gadis itu tidak bisa melukakan apa-apa. tidak mungkin ia mendekatkan jaraknya pada Jinki.

Namun pria itu menyadari sesuatu yang membuat Seungyeon gelisah sejak tadi. Ia pun berinisiatif untuk merangkul Seungyeon dan menariknya mendekat. Gadis itu membelalak saat merasakan tangan Jinki sudah berada di atas bahunya. Jinki tidak membiarkan sesenti jarakpun memisahkan mereka.

“kau bisa sakit kalau seragammu basah.” Ujar Jinki untuk yang pertama kalinya setelah mereka meninggalkan sekolah. Seungyeon tersenyum malu dan menundukkan kepalanya. Meskipun udara sangat dingin saat ini, tapi entah kenapa Seungyeon merasa wajahnya memanas. Apalagi ia sedang berada dalam rangkulan Jinki. ia sedang berusaha untuk mengatur jantungnya yang berdetak cepat agar Jinki tidak menyadarinya karena jarak mereka yang sangat dekat.

“kau masih ingat rumahku?” tanya Seungyeon tanpa menatap wajah Jinki. ia tidak ingin Jinki mendapati wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.

Pria itu terkekeh pelan. “tentu saja aku masih mengingatnya. Ini baru tiga bulan setelah terakhir kali aku ke rumahmu. Bagaimana mungkin sudah lupa.” Ujarnya.

Seungyeon tersenyum senang mendengar jawaban pria itu. membuktikan bahwa dirinya tidak melupakan Seungyeon sepenuhnya.

“kau? apakah kau masih mengingat rumahku?” Jinki balas bertanya dan membuat Seungyeon sedikit gelagapan. Tentu saja ia masih mengingatnya. Terkadang Seungyeon sengaja berjalan melewati rumah Jinki hanya agar dapat melihat wajah pria itu. tapi sayangnya Jinki jarang berada di halaman rumahnya. Jadi usaha Seungyeon selama ini hanya sia-sia.

“mm…aku masih ingat.” Jawab gadis itu singkat.

Jinki menghentikan langkahnya membuat Seungyeon mengernyitkan kening bingung. Pria itu menatap Seungyeon eyes smile-nya dan memperlihatkan giginya yang putih dan rata.

“kalau begitu kapan-kapan kau harus bermain ke rumahku lagi. Meskipun kita berbeda kelas, tapi kita tetap masih bisa belajar bersama kan!” ujar Jinki riang.

Seungyeon sedikit terkejut mendengar ajakan Jinki. ia sampai lupa bagaimana cara menutup mulut dengan rapat. Sejak tadi Jinki selalu berhasil membuatnya terkejut dan tidak bisa berkutik. Perlahan tapi pasti sebuah senyuman tersungging pada bibir Seungyeon, dan ia pun mengangguk.

“aku tunggu kedatanganmu.” Setelah berkata seperti itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Seungyeon yang memang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah Jinki. hanya terpisahkan oleh beberapa gang, dan tidak begitu jauh juga dari sekolah mereka. Membutuhkan waktu lima belas menit hanya dengan berjalan kaki.

Langkah keduanya terhenti saat mereka tia di rumah Seungyeon. Jinki menatap Seungyeon dan kembali tersenyum. Entah sudah berapa kali Seungyeon terpesona oleh senyuman Jinki.

“kita sudah sampai, setelah ini langsung ganti bajumu agar tidak sakit.” Pesannya dan membuat Seungyeon sedikit tersentuh. Jinki sangat perhatian padanya, Seungyeon tidak tahu harus bagaimana membalas ucapannya selain mengucapkan kata terimakasih.

“mm….terimakasih sudah mau mengantarkanku Jinki ssi.” Seungyeon membungkukkan tubuhnya sedikit, lantas berlari memasuki rumah.

Setelah yakin Seungyeon tidak akan keluar lagi, Jinki pun memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Sementara gadis itu masih menatap Jinki dari balik jendela ruang tamunya. Ia menggigit bibirnya dengan keras, tidak menyangka bahwa ia baru saja diantar pulang oleh pria impiannya. Ia bahkan tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi pada dirinya. perasaan bahagia yang meluap-luap membuat Seungyeon tidak bisa berhenti tersenyum.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Taemin dan Jiyoung menghentikan langkah mereka tepat di depan pagar rumah Jiyoung. Pria itu tersenyum dan menatap rumah gadis itu.

“jadi ini rumahmu?” tanya Taemin.

Jiyoung mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu.

“berarti aku melewati rumahmu setiap kali aku berangkat sekolah. Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu ya?”

Jiyoung tertawa mendengar ucapan Taemin. “tentu saja kita tidak pernah bertemu. Kau selalu datang ke sekolah pagi-pagi sekali, sementara aku selalu tiba di kelas lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Bagaimana mungkin mau bertemu!” ujarnya.

Taemin ikut tertawa mendengar ucapan Jiyoung. Benar juga, selama ini Taemin selalu datang lebih pagi dari teman-temannya yang lain.

“hmm…kalau begitu kau mau aku datang sedikit siang agar kita bisa bertemu?” Taemin tidak menyangka akan mengatakan hal seperti itu pada Jiyoung. Ia sendiri terkejut mendapati dirinya mengeluarkan kalimat memalukan itu. jantungnya jadi berdetak sangat kencang selagi ia menunggu jawaban Jiyoung. Tapi gadis itu malah kembali tertawa seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

“jangan jadi ikut-ikutan malas sepertiku, lagipula selama ini aku berangkat dan pulang sekolah dengan Seungyeon Eonni. Tidak mungkin aku membiarkannya pulang dan berangkat sekolah sendirian sementara kau selalu menemaniku.”

Penolakan halus Jiyoung membuat wajah Taemin memerah, tapi untungnya ia dapat menyembunyikannya. Taemin mengumpat dalam hati karena sudah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Jiyoung. Ia tersenyum kikuk dan akhirnya memundurkan langkahnya agar menjauh dari Jiyoung.

“baiklah, sepertinya aku harus pulang. Udara semakin dingin, sebaiknya kau masuk ke dalam. Sampai bertemu besok!” ujar pria itu sambil melambaikan tangannya, lantas melanjutkan perjalanannya. Jiyoung tersenyum geli melihat tingkahnya. Ternyata Taemin tidak seburuk perkiraannya. Ia memang terlihat seperti anak pendiam di kelas, tapi ia juga bisa menjadi menyenangkan saat sedang dibutuhkan.

Tanpa disadari oleh gadis itu ia mulai merasa nyaman berada di dekat Taemin. Mungkin Taemin tidak begitu buruk untuk dijadikan teman dekatnya.

Jiyoung mengembuskan napas pelan saat tubuh Taemin menghilang di ujung jalan. ia hendak berbalik untuk memasuki rumahnya, namun terhenti ketika ia melihat rumah bertingkat Seungyeon yang tepat berada di sebelah rumahnya. Kali ini Jiyoung mendengus kesal pada sahabatnya itu. ia kembali teringat pada kejadian tadi dan rasa cemburu yang tadi sempat menyurut akhirnya tersulut kembali. entahlah, Jiyoung sendiri bingung apakah harus bersikap biasa saja pada Seungyeon setelah ini atau harus bagaimana.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Pagi itu seperti biasa, Seungyeon sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia menatap dirinya di cermin, dan memperbaiki seragam sekolahnya, lantas menyisir kembali rambutnya yang hanya dijepit oleh pita mungil untuk menghalangi anak-anak rambut yang menghalangi penglihatannya. Ia memoleskan sedikit lipbalm pada bibir tipisnya, lalu tersenyum saat semua sudah terlihat sempurna.

“oh, Seungyeonnie…seorang teman sedang menunggumu di depan rumah.” Ujar ibunya ketika melihat Seungyeon sedang menuruni anak tangga sambil menenteng tas birunya. Gadis itu mengernyitkan kening. Ia menatap arloji yang melingkar di tangannya. Ini masih terlalu pagi jika Jiyoung sudah datang ke rumahnya untuk berangkat sekolah bersama. Seungyeon tahu betul kalau gadis itu selalu bangun agak siang. Lagipula jika memang itu Jiyoung ia pasti akan langsung masuk ke dalam rumahnya dan menghampirinya di kamar. atau ikut sarapan bersama dengannya.

Perlahan gadis itu melangkahkan kakinya menuju jendela ruang tamu hanya untuk mengintip siapa yang sedang duduk di bangku teras rumahnya. Mata Seungyeon terbelalak dengan sangat lebar saat mendapati orang itu adalah Jinki. ia berbalik dan menatap sang ibu.

“kenapa Eomma tidak mempersilakannya masuk?” tanyanya masih dengan wajah terkejut. Jantungnya berdetak di atas normal hingga tubuh gadis itu bergetar hebat. Ia bingung harus melakukan apa, dan akhirnya hanya menatap sarapan di piring yang belum tersentuh sedikitpun olehnya.

“bagaimana ini…” gumamnya.

“Eomma sudah memintanya untuk masuk, tapi ia mau menunggumu di teras saja. kau mau membawa sarapanmu ke sekolah?” tanya wanita paruh baya itu.

Seungyeon hanya dapat mengangguk. Ia tidak sanggup berkata-kata lagi karena suaranya sudah menguap entah ke mana. Wajahnya memerah saat mengingat kejadian kemarin. Apakah mereka akan jalan berdua ke sekolah lagi? Pikirnya.

“ini, masukan ke dalam tasmu!” Ujar ibu Seungyeon sambil memberikan sarapan yang sudah ia masukan ke dalam kotak bekal. Gados itu mengambilnya dan mengikuti perintah ibunya. Setelah yakin tasnya sudah tertutup dengan rapat, ia pun berpamitan.

“aku pergi dulu.”

“hati-hati di jalan!”

Seungyeon membuka pintu rumah dengan sangat pelan. Ia dapat melihat tangannya masih bergetar saat mendorong daun pintu hingga terbuka.

Jinki mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan sangat manis ketika mendapati Seungyeon sudah berdiri di hadapannya. entah ini hanya khayalannya atau memang kenyataan, tapi semakin haris Seungyeon terlihat semakin cantik di matanya.

Pria itu berdiri dari duduknya dan menyerahkan lengannya untuk digamit oleh Seungyeon. Awalnya, Seungyeon hanya terdiam selama beberapa detik. Namun langsung menyambut uluran lengan pria itu setelah tersadar dari lamunannya.

Mereka berjalan berdua untuk keluar dari rumah Seungyeon dalam diam. Gadis itu sampai melupakan semuanya saking gugupnya. Meskipun mereka melewati depan rumah Jiyoung, tapi ia sama sekali tidak memikirkan sahabatnya itu selama berada di dekat Jinki. bagaimana mungkin ia membiarkan Jiyoung pergi ke sekolah sendiri pagi ini?

>>>>>>>>>>>>>>>>

Jiyoung membuka gerbang rumah Seungyeon dan memasukinya dengan setengah berlari. Seperti biasanya, gadis itu tersenyum sangat ceria ketika memberi salam pada orangtua Seungyeon yang sedang sarapan. Ia memutuskan untuk melupakan kejadian kemarin daripada mereka harus diam-diaman nantinya. Lagipula kasihan Seungyeon yang tidak tahu apa salahnya, lalu Jiyoung mendiamkannya begitu saja.

“Jiyoungie, ada apa?” tanya ibu Seungyeon terlihat bingung saat Jiyoung memasuki rumah mereka.

“Eonni tidak sekolah?”

“bukankah Seungyeon sudah berangkat ke sekolah dengan temannya tadi?”

Jiyoung terdiam sesaat. Seungyeon sama sekali tidak bilang apa-apa padanya kalau ia akan berangkat ke sekolah lebih dulu dengan temannya.

“siapa Eommoni???” tanyanya lagi dengan wajah penasaran.

“Eommoni tidak tahu namanya. Tapi dia laki-laki yang sangat ramah, sepertinya satu sekolah dengan kalian karena mengenakan seragam yang sama.” Jelas wanita paruh baya itu.

Senyum yang tadinya menghiasi wajah Jiyoung lenyap seketika. Tanpa perlu diberitahu ia sudah tahu kalai pria itu adalah Jinki.

Jiyoung keluar dari rumah Seungyeon setelah sebelumnya berpamitan pada kedua orangtua Seungyeon. Ia berjalan dengan langkah tak bersemangat dan sama sekali tidak berniat untuk mengangkat kepalanya. Air mata gadis itu hampir saja jatuh dari pelupuk matanya jika saja ia tidak mendengar seseorang memanggil namanya.

“Jiyoung ssi!!!”

Jiyoung mengerjap-ngerjapkan matanya dan memberanikan diri mengangkat kepala. Ia mendapati Taemin sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan. senyum lebarnya membuat Jiyoung mau tidak mau ikut tersenyum pada pria itu.

“kau belum berangkat sekolah???” tanya Jiyoung dengan wajah bingung.

Taemin tersenyum malu seraya menggosok tengkuknya. “kupikir jika berangkat lebih siang kita akan bertemu. Dan ternyata benar.”

Jiyoung melebarkan matanya, tidak menyangka Taemin benar-benar melakukan hal itu untuk bisa berangkat ke sekolah bersama dengannya. Namun sesaat kemudian senyum yang sangat lebar kembali menghiasi wajah cantiknya. Taemin selalu datang di saat yang tepat, dan entah kenapa ia bisa melupakan segala kemarahan dan kecemburuannya pada Seungyeon setiap kali pria itu datang padanya.

Tanpa sadar Jiyoung menggamit lengan Taemin dan menariknya.

“kajja!! Kita akan terlambat!” pekik gadis itu, sementara Taemin berusaha keras untuk menormalkan debar jantungnya agar tidak terdengar oleh Jiyoung.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Bel istirahat berbunyi, Jiyoung memasukan buku-bukunya ke dalam laci dan hendak beranjak ke kantin dengan Taemin. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan Seungyeon untuk saat ini, daripada moodnya jadi jelek nantinya lebih baik ia menempel terus dengan Taemin yang selalu bisa membuatnya tertawa.

Baru saja Jiyoung melangkahkan kaki beberapa langkah bersama Taemin, tiba-tiba seseorang menghampirinya dengan napas terengah-engah. Seungyeon membungkukan tubuhnya dan menatap Jiyoung dengan tatapan bersalah. Ia merasa sangat tidak enak telah meninggalkan sahabatnya itu dan pergi ke sekolah berdua dengan Jinki.

“Jing…maafkan aku, aku lupa kalau…”

“tidak apa-apa, aku juga berangkat ke sekolah dengan Taemin.” Potong Jiyoung cepat sebelum Seungyeon menyelesaikan kalimatnya. Tampak air muka Jiyoung berubah seketika saat melihat wajah Seungyeon di hadapannya, dan membuat gadis itu merasa semakin bersalah telah meninggalkannya.

“jing…”

“kami ke kantin dulu!” ujarnya lagi dan menarik tangan Taemin untuk meninggalkan Seungyeon yang masih terdiam menatap kepergiannya. Rasanya ia ingin menangis melihat Jiyoung yang sedang marah padanya. gadis itu memang tidak bisa kalah dan harus menang sendiri, Seungyeon sudah terbiasa dengan sikapnya dan ia bisa mengatasinya dengan baik. Tapi kalau sudah marah begini, itu berarti ia sudah membuat kesalahan yang sangat fatal. Jiyoung jarang marah padanya.

Seungyeon sendiri bingung, padahal dulu saat Seungyeon memutuskan untuk meninggalkan Jiyoung karena takut terlambat ia tidak semarah seperti ini. tapi entah ada apa dengannya sekarang hingga ia jadi sangat sensitif.

Seungyeon masih terdiam di tempatnya, menatap kosong ke arah pintu kelas meskipun sosok Jiyoung sudah menghilang bersama Taemin. Ia ingin mengejarnya, namun kakinya sama sekali tidak dapat digerakkan. Hingga seseorang membuyarkan lamunannya tersebut.

“benar dugaanku, ternyata kau di sini.” Ujar sebuah suara.

Seungyeon tersentak saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Tanpa ia sadari Jinki sudah berdiri satu meter di hadapannya sambil tersenyum lebar. Tentu saja dengan senyum sempurnanya itu. jantung Seungyeon kembali berdetak tidak terkendali. Ada apa lagi Jinki sampai mencarinya ke kelas Jiyoung?

“ke-kenapa kau tahu aku ada di sini?” tanya Seungyeon tergagap.

Pria itu mendekati Seungyeon. “kau selalu bersama Jiyoung selama ini. jadi kalau bukan di kantin, berarti kau berada di kelasnya.”

Wajah Seungyeon memerah saat mengetahui bahwa selama ini Jinki juga memerhatikannya sampai tahu di mana saja ia biasanya berada kalau sedang waktu istirahat. Gadis itu menunduk dan tersenyum malu.

“jadi…mana Jiyoung?” tanya Jinki kemudian yang mengingatkan Seungyeon akan kemarahan sahabatnya itu.

Ia mengembuskan napas keras sebelum akhirnya menjawab. “dia ke kantin dengan Taemin.”

Jinki mengangguk mendengar jawaban Seungyeon, ia tampak seperti sedang berpikir.

“mm…bagaimana kalau kau ikut aku ke taman sekolah?”

Seungyeon tercekat mendengar ajakan Jinki. ini sudah yang ke sekian kalinya pria itu membuatnya terkejut, tidak menyangka dengan sikapnya yang akhir-akhir ini seperti sedang mendekatkan diri dengannya. Seungyeon menelan saliva dengan susah payah dan berdeham pelan untuk memastikan kalau suaranya masih ada.

“ba-baiklah…” jawabnya pelan.

Mereka berjalan bersama menuju taman tanpa ada pembicaraan. Seungyeon sangat membenci keadaan ini, mereka selalu kehabisan kata-kata kalau sudah jalan berdua seperti ini. gadis itu memikirkan sebuah topik pembicaraan sampai tanpa sadar keningnya berkerut. Namun ia tidak juga menemukan topik yang bagus untuk memulainya. Hingga akhirnya kedua orang itu berhenti di sebuah bangku panjang di bawah pohon, dan memutuskan untuk duduk di sana.

Seungyeon menunduk sambil memainkan jari jemarinya dan menggigit bibirnya. Bahkan keadaan seperti ini lebih canggung dari sebelumnya. Mereka duduk bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat. Ia dapat mendengar suara dehaman Jinki, lalu merasa kalau pria itu sedang menatap dirinya. Seungyeon sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, takut kalau Jinki mendapati wajahnya yang memerah.

“Seungyeon-ssi…” panggil Jinki pelan.

Awalnya Seungyeon masih tetap mempertahankan kepalanya agar tetap menunduk, tapi rasa penasaran memaksanya untuk membalas tatapan Jinki. ia mendapati mata cokelat pria itu menatapnya dengan serius, seperti ingin mengucapkan sesuatu yang sangat penting. Dan entah apa yang membuat jantung Seungyeon kembali berdetak sangat cepat. kali ini seperti akan melompat dari rongga dadanya, ia sampai merasa sulit bernapas.

Jinki mengangkat tangannya dan memegang bahu Seungyeon, tidak melepaskan manik cokelat itu dari pandangannya sedetik pun. Seungyeon hampir saja melompat dari duduknya ketika merasakan tangan Jinki menyentuh bahunya. Tangan gadis itu mulai bergetar dan ia harus mengepalkannya dengan kuat agar Jinki tidak melihatnya.

“aku…menyukaimu.” ujarnya kemudian yang membuat mata Seungyeon membulat dengan sangat lebar. Ia sampai tidak dapat menutup rapat bibir mungilnya karena terlalu terkejut dengan pernyataannya yang tiba-tiba. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Jinki juga menyukainya.

“a-apa??” hanya itu yang dapat keluar dari bibirnya yang gemetar.

“tolong jangan tolak aku, aku tidak mau mendengar kata tidak, dan aku mau mendengar jawabanmu sekarang!” tambah Jinki tidak menghiraukan pertanyaan Seungyeon. “jadilah pacarku!” ucapnya kemudian dan membuat Seungyeon semakin tidak percaya. Ia ingin pingsan, rasanya seperti mimpi, tapi ini nyata!

Jinki masih menunggu jawabannya, menatap Seungyeon dengan penuh pengharapan. Menunggu kalimat yang akan ia ucapkan dengan jantung berdebar kencang. Berharap gadis itu tidak menolak pernyataan cintanya.

Seungyeon menunduk dan menggigit bibirnya. Ia tidak dapat menemukan suaranya kembali karena masih terkejut, dan sebagai jawaban gadis itu hanya mengangguk kecil. Meskipun begitu, sudah membuat Jinki sangat puas dengan anggukan kepalanya. Ia mengembuskan napas lega dan memeluk tubuh mungil Seungyeon dalam dekapannya.

Tanpa disadari oleh keduanya, Jiyoung berdiri di balik sebuah pohon besar, menyembunyikan tubuhnya dan melihat semuanya. ia mendengar apa yang Jinki katakan, ia melihat anggukan kepala Seungyeon. Ia menyaksikan pria itu memeluk tubuh sang Eonni, dan Jiyoung merasa sangat marah. Benar-benar marah hingga rasanya ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Marah pada Jinki yang menyukai Seungyeon dan bukan dirinya, serta marah pada Seungyeon yang sudah menerima pernyataan cinta Jinki.

Ia meremas kedua jemarinya hingga kuku-kukunya memutih. Dada Jiyoung tampak naik-turun tidak teratur dengan wajah memerah. Ia mencoba untuk menahan air matanya namun tidak bisa. Cairan bening itu sudah membuat penglihatannya kabur.

Ketika sedang berbaris untuk memesan makanan di kantin tadi Jiyoung melihat Seungyeon dan Jinki berjalan ke arah taman hanya berdua. Ia pun memutuskan untuk mengikutinya. Ia memang sudah merasa ada sesuatu yang lain di antara Jinki dan Seungyeon sejak pria itu menawarkan payungnya bersama Seungyeon. Sikap keduanya menunjukan kalau ada suatu perasaan yang lebih kuat dari seorang teman.

Taman itu memang tampak sepi, karena para murid lebih memilih berada di kantin atau di kelas daripada harus berpanas-panasan di taman. Tapi Jiyoung tidak menyangka kedua orang itu berani melakukannya di sini. Tubuh Jiyoung terpaku, tidak bisa digerakkan sama sekali. persendiannya seakan membeku, seakan tidak mengijinkannya untuk meninggalkan tempat itu. Jinki meraih dagu Seungyeon, menatap matanya dalam dan mendekatkan wajah mereka. Sementara Seungyeon sudah menutup matanya, siap menerima bibir merah Jinki yang sebentar lagi akan menyentuh bibir mungilnya. Dan ketika jarak wajah mereka tinggal beberapa senti, Jiyoung merasa sesuatu menarik tangannya cepat dan tiba-tiba saja ia merasa sudah berada dalam pelukan seseorang.

Taemin mendekap tubuh Jiyoung, menahan kepala gadis itu agar tidak menoleh pada Seungyeon dan Jinki. ia datang di saat yang tepat. Ia dapat mendengar isakan pelan Jiyoung, menangis dalam pelukannya.

Taemin mengelus rambut gadis itu, berusaha untuk menenangkannya, mengeratkan pelukannya untuk menguatkan Jiyoung. Ia tidak suka mendengar gadis ini menangis. Ia tidak suka melihat Jiyoung yang lemah seperti ini.

Taemin tahu sejak awal bahwa Jiyoung menyukai pria itu. Jiyoung selalu memerhatikan Jinki dan menatapnya dengan tatapan kagum. Jujur, sebenarnya Taemin sangat tidak suka mengetahui kenyataan itu, karena sebenarnya ia juga menyukai Jiyoung. Ia sudah menyukai Jiyoung sejak satu tahun yang lalu, ketika mereka untuk yang pertama kalinya menjadi teman sekelas. Taemin mendapati kepribadian Jiyoung yang unik. Ia bisa menjadi orang yang sangat manja dan kekanak-kanakan, namun bisa menjadi dewasa di saat sifat itu sedang dibutuhkannya.

Tapi sekarang…ini bukan Jiyoung yang Taemin kenal. Ia tahu bahwa Jiyoung adalah gadis yang kuat meskipun yang tampak lemah dari luar. Ia benci melihat Jiyoung jadi lemah seperti ini hanya karena seorang pria.

Taemin merangkul bahu Jiyoung dan membawanya pergi dari taman itu. jangan sampai Jinki dan Seungyeon mengetahui keberadaan mereka karena mendengar tangisan Jiyoung.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jinki menjauhkan wajahnya setelah untuk beberapa detik mencium bibir mungil Seungyeon. Gadis itu memegang bibirnya tidak percaya. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Itu adalah ciuman pertamanya dan Jinki lah yang mendapatkannya!

Tapi Seungyeon sama sekali tidak menyesal. Sekarang ia adalah milik Jinki, jadi pria itu berhak memiliki ciuman pertamanya juga. Senyum malu-malu tersungging di wajah Seungyeon. Bunga-bunga seakan bermekaran di dalam hatinya. Ia merasa sangat gembira hari ini, masalahnya dengan Jiyoung seakan terlupakan begitu saja.

“itu ciuman pertamamu?” tanya Jinki.

Seungyeon mengangguk pelan, masih tidak bisa menemukan suaranya.

Jinki tersenyum bangga. “jadi aku yang mendapatkannya?”

Lagi-lagi Seungyeon mengangguk. Ia merasa sangat senang saat melihat wajah bahagia Jinki saat mengetahui bahwa ia yang mendapatkan ciuman pertamanya.

Jinki meraih tangan Seungyeon dan menggenggamnya dengan erat.

“mulai sekarang kau adalah milikku. Akan kubuktikan pada pria-pria itu agar mereka berhenti mendekatimu!”

Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, Seungyeon tidak dapat menahan senyumnya lagi. Ia hampir menitikkan air mata saking bahagianya. Dan kali ini, Seungyeon lah yang memeluk Jinki. ia mengalungkan tangannya pada leher pria itu dengan erat. Meluapkan rasa bahagianya yang tertahan sejak tadi.

<<TBC>>

Advertisements