Title: Complete Our Love

Author: TyMinMin/Seul95

Length:  Short Chapter

Genre: Romance, Friendship, School Life

Rating: PG-15

Casts:

–          Kang Jiyoung

–          Han Seungyeon

–          Lee Taemin

–          Lee Jinki

Summary: Kang Jiyoung dan Han Seungyeon telah lama bersahabat, tapi tanpa diduga mereka menyukai pria yang sama. Sementara si kakak beradik Lee menyukai masing-masing dari kedua gadis tersebut. apakah mereka bisa bersatu?

edit cover complete our love

Pagi itu Seungyeon dan Jiyoung berangkat sekolah bersama. ini bukanlah hal baru bagi dua orang sahabat itu. meskipun Seungyeon adalah senior Jiyoung di sekolah, tapi mereka sudah bertetangga sejak lama. Mereka memang beda kelas, tapi itu tidak menghalangi Jiyoung dan Seungyeon untuk tetap bertemu saat waktu istirahat tiba. Mereka akan berangkat ke sekolah bersama dan pulang bersama. ini seperti kegiatan rutin kedua orang tersebut.

Pada dasarnya mereka adalah orang yang berbeda. Jiyoung memiliki sifat manja dan sedikit kekanak-kanakan, sementara Seungyeon memiliki sifat yang terlihat lebih dewasa dari umurnya. Bisa dibilang ia adalah gadis idaman setiap pria. Tidak heran kenapa ia cukup populer di kalangan murid laki-laki yang bersekolah di sini. Selain memiliki sifat dewasa, sebagai bonus untuknya Seungyeon juga memiliki wajah ramah dan manis. ia sudah banyak memikat hati para kaum adam dengan kelebihannya itu. tapi tak ada satupun yang diterimanya menjadi kekasihnya. Itu karena sejak dulu, Seungyeon sudah tertarik pada seorang pria di kelas sebelah. Pria yang pernah mewakili sekolah bersama dirinya untuk mengikuti olimpiade matematika.

Jujur, awalnya Seungyeon sama sekali tidak tertarik dengan pria itu. tapi karena sering bertemu untuk mempersiapkan diri menikuti olimpiade, gadis itu jadi lebih mengenal sosoknya. Namanya adalah Lee Jinki, ia memang tidak begitu tampan, tapi memiliki sesuatu yang bisa membuat Seungyeon menyukainya. Jinki adalah pria yang sangat unik. Seungyeon sangat menyukai keramahannya. Gadis itu dapat merasakan bahwa Jinki berbeda dari pria yang lainnya. Jadi jangan ditanya lagi kenapa Seungyeon bisa menyukai Jinki.

Sementara Jiyoung, gadis ini memang tidak terlalu pintar. Ia hanya unggul di beberapa mata pelajaran. Meskipun wajahnya terlihat sangat cantik, tapi tidak dengan sifatnya. Seungyeon termasuk orang yang sangat sabar selama menjadi sahabat Jiyoung untuk waktu yang sangat lama. Ia selalu mengalah pada sahabat yang sudah dianggap sebagai adiknya itu. apapun kemauan Jiyoung harus diturutinya, karena ia paling tidak bisa mendengar rengekan Jiyoung. Bukan karena ia tidak suka, tapi itu karena ia terlalu sayang pada Jiyoung. Ia akan melakukan apa saja agar Jiyoung merasa bahagia.

Jiyoung memiliki seorang kakak perempuan bernama Park Gyuri yang sudah menikah dengan pemuda bernama Kim Jonghyun. Karena selama ini orangtua Jiyoung jarang pulang ke rumah dan lebih sering menghabiskan waktu di luar untuk urusan pekerjaan, jadi Gyuri lah yang lebih sering merawat Jiyoung. Tentu saja Seungyeon juga. Seungyeon adalah anak tunggal di keluarganya, karena itulah ia sangat menyayangi Jiyoung seperti saudara kandungnya sendiri.

Mereka berjalan menuju kelas masing-masing dengan melewati kelas Jinki. ini adalah hal wajib yang akan dilakukan Seungyeon jika melewati kelas Jinki. gadis itu akan mencari sosok Jinki secepat yang ia bisa tanpa menarik perhatian Jiyoung. Ia melakukannya agar dapat melihat wajah Jinki, dan merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Seperti jantung berdegup kencang, rasa bahagia meluap-luap ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, jari-jemarinya akan gemetar saat Jinki tersenyum padanya.

Seungyeon menyukai hal itu. ia sangat suka saat sensasi aneh itu menyergap dirinya. tapi hal itu juga membuatnya menjadi gugup. ia takut Jiyoung menyadarinya. Seungyeon belum ingin mengatakan hal ini kepada Jiyoung. Ia tidak berpikir curhat kepada Jiyoung tentang perasaannya adalah hal yang benar. Jiyoung bahkan belum pernah berpacaran. Dan ia juga belum pernah tertarik pada pria mana pun. Jadi menurut Seungyeon ia tidak perlu menceritakan hal ini kepada Jiyoung.

Seungyeon menolehkan kepalanya ketika mereka melewati pintu kelas Jinki yang terbuka lebar. Ia mencari sosok pria itu di antara murid-murid yang lain. Matanya langsung tertuju pada tempat di mana Jinki duduk. Meja paling depan, baris ke tiga dari kanan. Jantung Seungyeon seakan melompat kegirangan saat Jinki tersenyum padanya. ia sampai tidak bisa menoleh pada yang lain. Tatapannya hanya tertuju pada Jinki. sampai akhirnya sosok itu tidak terlihat lagi. Tentu saja ia merasa kecewa. Seungyeon berharap waktu berjalan dengan lambat ketika Jinki tersenyum sehingga ia dapat menikmati senyuman ramah itu sepuas mungkin.

Akhirnya ia tiba di kelas setelah tadi mengantar Jiyoung ke kelasnya lebih dulu. Seungyeon mengeluarkan buku-bukunya, dan membuka bab 5—pelajaran yang akan mereka pelajari nanti. Ia sudah berusaha untuk berkonsentrasi pada buku yang sedang dibacanya, namun senyuman Jinki selalu membayang-bayang di kepalanya.

Seungyeon menutup bukunya lagi dan menggelengkan kepalanya cepat untuk menghilangkan bayangan itu. selalu seperti ini! ia tidak akan bisa berkonsentrasi pada pelajaran jika Jinki sudah tersenyum padanya seperti tadi.

Seungyeon bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan kelas. Ia harus mencuci muka. Ia harus melupakan Jinki sejenak selama ulangan nanti. Jangan sampai nilainya hancur seperti minggu lalu hanya karena senyuman Jinki itu. ia boleh saja menyukai seseorang, tapi apa namanya jika menyukai seseorang sampai membuatnya bodoh begini? Apakah ia mencintai Lee Jinki?

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jiyoung meletakkan tasnya di atas meja dengan senyum merekah pada wajah cantiknya. Ia bahkan tidak bisa berhenti menutup bibirnya saat Jinki tersenyum padanya tadi. Beberapa teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan aneh, tapi Jiyoung tidak memedulikannya.

Jiyoung mulai menyukai Jinki ketika Seungyeon sering memintanya untuk menemaninya belajar bersama Jinki untuk menghadapi olimpiade matematika. Sejak pertama melihat senyum Jinki saat menyapanya, Jiyoung sudah merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Jinki. jantungnya pun jadi tidak terkendali, sampai-sampai rasanya Jiyoung mau pingsan.

Gadis itu cukup malu untuk menceritakan perasaannya tersebut pada Seungyeon, tapi ia tahu ia juga tidak bisa menyembunyikannya terlalu lama dari wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.

Jiyoung menoleh ketika merasakan seseorang menepuk pundaknya. Taemin sudah duduk di sebelahnya dengan alis terangkat. Ia tampak bingung melihat sikap Jiyoung yang akhir-akhir ini memang terlihat sedikit aneh. Tidak seperti biasanya, tapi Jiyoung tampak lebih bersinar.

“ada apa denganmu?” tanya Taemin sambil mencabut salah satu earphone yang menggantung di telinganya.

Jiyoung memang tidak terlalu dekat dengan Taemin, tapi mereka akan berbicara jika ada kesempatan. Bisa dikatakan, hanya Taemin lah teman laki-laki Jiyoung yang terlihat akrab dengannya. Bukan berarti mereka benar-benar dekat.

“aku? Ada apa denganku?” gadis itu bertanya balik pada taemin.

“kuperhatikan akhir-akhir ini kau terlihat aneh. Apa yang membuatmu sampai tersenyum-senyum sendiri seperti itu?”

Jiyoung terdiam sejenak. Ia merasa ragu apakah harus mengatakannya pada Taemin. Masalahnya ia saja belum menceritakan hal ini pada Seungyeon—sahabatnya—bagaimana mungkin ia bisa menceritakannya pada Taemin yang bahkan belum bisa dikatakan akrab dengannya.

“tidak apa-apa, kau bisa menceritakannya padaku.” ujar Taemin lagi menangkap gurat keraguan dari wajah Jiyoung. “tapi jika itu tidak membuatmu nyaman juga tidak apa-apa tidak usah diceritakan.” Tambahnya cepat sambil tersenyum manis.

Jiyoung menggigit bibir bawahnya, ia mau saja menceritakannya pada Taemin. Tapi ia merasa sangat malu. Bercerita pada Seungyeon dan Gyuri saja ia tidak bisa. Bagaimana kalau wajahnya memerah seperti kepiting rebus? Bagaimana kalau suaranya bergetar? Bagaimana kalau jantungnya berdegup kencang?

Jiyoung tidak ingin terlihat memalukan. Ia yakin ia akan terlihat bodoh jika menyangkut tentang Lee Jinki.

“hmm…mungkin lain kali?” ujar gadis itu dengan ekspresi tidak enak.

Taemin mengangguk. “yah, kapanpun kau siap.” Setelah berkata seperti itu, Taemin bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bangkunya yang tepat berada di belakang Jiyoung. Wajahnya tampak kecewa, padahal ia benar-benar penasaran dengan perubahan sikap Jiyoung akhir-akhir ini. sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa.

Jiyoung memang tidak terlalu pintar, ia juga sedikit kekanak-kanakan, tapi Taemin menyukainya. Ia sudah menyukai Jiyoung sejak saat mereka pertama kali bertemu ketika MOS. Sejauh ini ia memang berusaha untuk mendekati Jiyoung, tapi tampaknya gadis itu tidak seperti gadis-gadis lainnya. Menurut Taemin Jiyoung sangat unik. Ia tidak mudah didekati, namun sangat cepat mengakrabkan diri dengan orang lain. Entahlah, Taemin juga bingung harus menjelaskannya seperti apa. baginya, mendekati Jiyoung adalah sebuah tantangan, dan ia sudah melewati beberapa halangan hingga membuatnya bisa sampai pada tahap ini. Jiyoung sudah mau berbicara panjang lebar padanya. dan sekarang Taemin akan berusaha membuat Jiyoung percaya padanya untuk menjadikannya sebagai tempat curahan hatinya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jiyoung dan Seungyeon berdiri di lobi sekolah. Mereka menatap ke atas langit mendung. Angin sedang kencang dan hujan turun dengan deras. Kedua gadis itu tidak membawa payung karena pagi tadi cuaca terlihat baik-baik saja. tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Tidak terasa memang sekarang sudah memasuki musim semi. Perasaan Seungyeon baru kemarin bulan Desember, di mana salju turun dengan lebatnya saat ia dan Jinki sedang mempersiapkan diri untuk olimpiade dan harus terjebak di dalam kelas hingga malam. Saat itu sedang badai salju, tentu saja mereka harus menunggu hingga badai mereda. Sejak kejadian itu, keduanya memutuskan untuk belajar bersama di rumah Jinki atau di rumah Seungyeon. Mereka akan mengunjungi rumah masing-masing secara bergantian.

Seungyeon tersenyum memikirkan hal itu. ingin rasanya ia memutar ulang waktu di mana dirinya dan Jinki masih sangat dekat. Tanpa sadar gadis itu terkekeh kecil ketika ingatan saat Jinki berdebat dengannya tentang cara penyelesaian soal matematika yang berbeda.

Jiyoung yang menatap sang Eonni terlihat sedikit aneh pun menyenggol lengan gadis itu. ia mengerutkan kening ketika wajah Seungyeon memerah.

“kau sedang memikirkan apa Eonni?” tanya gadis cantik itu.

“eh? Ti-tidak, aku tidak memikirkan apa-apa…” jawabnya gugup sambil menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinga.

Jiyoung mendengus pelan dan kembali memerhatikan sekitarnya. Sekolah sudah terlihat sepi. seperti murid-murid sudah pulang ke rumah mereka. Sejak tadi Jiyoung perhatikan murid-murid itu membawa payung. Apakah hanya dirinya dan Seungyeon yang tidak tahu bahwa cuaca akan hujan?

Tanpa mereka sadari, seseorang sudah berdiri di samping Seungyeon. Ia menepuk bahu gadis itu membuatnya tersentak terkejut dan menolehkan kepala untuk melihat siapa yang sudah menepuk bahunya. Mata Seungyeon membulat dengan seketika ketika mendapati Jinki telah berdiri di sebelahnya dengan senyum termanis yang pernah Seungyeon lihat.

Gadis itu menyenggol Jiyoung tanpa sengaja saking terkejutnya, dan membuat gadis cantik itu juga menoleh. Tentu saja Jiyoung sama terkejutnya dengan Seungyeon saat mendapati Jinki sudah berada di hadapan mereka.

“kau tidak bawa payung?” tanya pria itu.

Jiyoung dan Seungyeon dengan serempak menggelengkan kepala mereka.  Wajah kedua orang itu tampak memerah seperti kepiting rebus.

Jinki mengernyitkan kening dan membuka tasnya untuk mengeluarkan sebuah payung berwarna hijau. Ia mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke mata Seungyeon membuat gadis itu semakin salah tingkah.

“kau mau pulang bersama denganku….”

Wajah Jiyoung berubah gembira saat mendengar ajakan Jinki. ia baru saja akan mengangguk dan menjawab ‘Ya’ ketika Jinki melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.

“…Seungyeon-ssi?”

Senyum yang tadi sempat terukir di wajah cantik Jiyoung lenyap seketika. Sinar di matanya redup dan wajahnya tampak tidak suka. Sementara Seungyeon sudah tidak bisa lagi mengatur debar jantungnya yang berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Ia gelagapan. Ia bingung harus menjawab ya atau tidak. Masalahnya ia tidak mungkin meninggalkan Jiyoung sendirian di sekolah hingga hujan berhenti kan?

Gadis itu melirik Jiyoung, dan mendapati wajah datar gadis itu. ia merasa tidak enak pada Jiyoung. Meskipun gadis itu sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini, tapi menurut Seungyeon saat ini sikap Jiyoung sedikit berbeda. Apakah ia sudah lelah karena selalu Seungyeon yang mendapat perhatian? Tapi tentu saja Seungyeon tidak bisa menolak ajakan Jinki. ini benar-benar kesempatan yang sangat langka. Setelah tiga bulan tidak saling bicara, Seungyeon ingin memulai semuanya dari awal lagi. Setidaknya jika cintanya harus bertepuk sebelah tangan ia bisa menjadi teman Jinki saja kan?

“hmm….” Seungyeon bergumam sambil mengusap tengkuknya. Mungkin lain kali saja. Pikirnya. Ia tidak bisa meninggalkan Jiyoung sendirian di sini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada gadis yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya ini?

“tidak apa-apa Eonni, aku bisa menunggu sampai hujannya berhenti.” Ujar Jiyoung masih dengan nada datar. Seungyeon menatapnya tidak yakin.

“pergilah, aku bisa pulang sendiri!” kali ini Jiyoung mendorong lengan Seungyeon agar lebih dekat dengan Jinki. awalnya Seungyeon masih terdiam di tempatnya, ia masih ragu untuk meninggalkan Jiyoung sendirian. Tapi ketika melihat tatapan kesal Jiyoung, akhirnya ia pun mengalah dan mengangguk pada Jinki. pria itu tersenyum senang dan membuka payungnya. Ia megulurkan lengannya pada Seungyeon untuk digamit. Wajahnya kembali memerah saat melihat uluran tangan Jinki. perlahan, tangan Seungyeon mulai ternagkat dan menggamit lengan kekar pria itu. merekapun berjalan meninggalkan sekolah dan Jiyoung sendirian di sana.

Gadis itu menatap Seungyeon dan Jinki dengan mata memanas. Ia mau menangis tapi ia tidak bisa melakukannya di sini. Bagaimana kalau ada orang yang melihatnya? Ia adalah Kang Jiyoung, gadis cantik yang selama ini dikenal dengan keceriaannya. Jiyoung tidak suka memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain.

Gadis itu menatap ke atas—ke arah langit kelabu—untuk menghalangi air mata yang sebentar lagi akan tumpah. Ia tidak mengerti kenapa ia harus menangis melihat Seungyeon bersama Jinki. tentu saja Jinki akan menawarkan payungnya dengan Seungyeon. Bukankah Seungyeon lebih dekat dengan Jinki ketimbang dirinya? gadis itu hanya pernah menemani Seungyeon belajar bersama dengan Jinki beberapa kali, jadi ia tidak terlalu dekat dengan Jinki. sedangkan Seungyeon bertemu dengan pria itu hampir setiap hari. Sudah pasti Jinki akan merasa lebih nyaman jika mengajak Seungyeon.

Jiyoung mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur napasnya secara perlahan. Membiarkan udara dingin mengisi rongga paru-parunya dan mengeluarkan karbondioksida dengan perlahan. Ia menolehkan kepalanya ke samping dan terlonjak kaget saat mendapati Taemin sudah berdiri di sebelahnya. Pria itu juga menatap ke depan dengan tatapan kosong.

“k-kau…sejak kapan ada di sini?!” pekik Jiyoung masih dengan jantung berdebar kencang. Ia hampir saja memukul Taemin dengan tasnya jika saja gadis itu tidak langsung mengenali wajah Taemin.

“sejak kau menatap ke langit.” Ujar Taemin sambil menolehkan wajahnya ke arah Jiyoung.

“kenapa kau belum pulang?” tanya gadis itu lagi.

“aku juga tidak bawa payung.”

Jiyoung melirik tas Taemin, berharap pria itu berbohong. ia butuh tumpangan payung saat ini.

“aku benar-benar tidak membawanya!” pekik pria itu saat menyadari arti tatapan Jiyoung. Ia melepaskan tas dari pundaknya dan membukanya di depan Jiyoung. “percaya sekarang?!”

Jiyoung mendengus kesal lalu berjongkok. Ia menyangga dagunya dengan lengannya dan mengerucutkan bibir mungilnya. Sampai kapan ia harus menunggu hujan berhenti? Bahkan saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa hujan akan segera reda.

Taemin mengikuti jejak Jiyoung untuk berjongkok di sebelah gadis itu. ia menatap wajah imut Jiyoung dari samping dan menikmati keindahannya untuk sesaat. Kapan lagi ia bisa menatap wajahnya dari dekat seperti ini.

“aku bosan…” gumam Jiyoung.

Taemin mengerutkan keningnya sesaat, dan menjentikan jarinya ketika sebuah ide melintas di benaknya.

“kau mau main batu, gunting, kertas?!” pekiknya girang.

Jiyoung menoleh padanya dengan wajah berbinar. Ia sudah lama tidak memainkan permainan itu, kenapa tidak dicoba untuk menghilangkan rasa jenuh?

“baiklah! Yang menang akan menyentil kepala yang kalah!”

“setuju! Ayo mulai!

“1…2…3…”

“batu!”

“kertas!”

“haha aku menang!” ujar Taemin dan bersiap untuk menyentil kepala Jiyoung. Mereka memainkan permainan itu hingga bosan, dan beralih pada permainan yang lainnya. Begitu seterusnya hingga satu setengah jam kemudian hujan mulai reda, dan matahari muncul dari sisa-sisa awan gelap.

Taemin menatap ke atas langit dan tersenyum. “hujannya sudah berhenti! Kau mau kuantar pulang?” tawar Taemin.

Jiyoung berdiri dan mengangguk bersemangat. Meskipun ia harus menunggu lama, tapi gadis itu sama sekali tidak merasa bosan lagi. Beruntung ada Taemin, Jiyoung tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tidak ada pria itu. mungkin ia sudah menangis karena menyaksikan kepergian Seungyeon dan Jinki?

Kedua orang itu berjalan meninggalkan sekolah dengan diselingi candaan-candaan yang membuat keduanya tertawa tanpa henti. Jiyoung pikir hari ini adalah hari paling menyenangkan sekaligus hari terburuknya. Mungkin ia tidak perlu memikirkan Seungyeon dan Jinki lagi agar mood senangnya tidak berubah.

<<TBC>>

Advertisements